Pemberitahuan Lisan

Pemberitahuan lisan tentang kematianseseorang sudah menjadi hal biasa di China kuno. Putra almarhum akan mengunjungi kerabat dan teman untuk memberitakannya.

Di Guangdong kuno, pembawa pesan harus cepat. Ia akan berteriak di pintu rumah orang untuk memberitahunya, meminta segelas air untuk berkumur, dan bergegaskembali ke rumah. Di beberapa tempat , kerabat dan teman mungkin menyebarkan satu sekop abu di pintu rumah sebelum mengizinkan pembawa pesan masuk ke rumah . Semua ini dilakukan untuk menyingkirkan nasib buruk. 

Di tempat lain, keluarga berduka akan menempatkan bendera kertas putih di pintu rumah untuk memberitahukan kematian dalam keluarga. Di daerah timur laut, keluarga berduka menempelkan strip kertas di pintu. Jumlah strip menunjukkan umur almarhum, satu strip satu tahun. Dua strip tambahan ditambahkan untuk melambangkan langit dan bumi, Strip akan di tempelkan di sisi kiri pintu bila yaang meninggal lelaki, sedangkan di sisi kanan untuk perempuan. 

Di daerah Jiangsu dan Zhejiang, kebiasaan mengumumkan kematian seseorang dilakukan melalui penggunaan payung. Pembawa pesan akan menempatkan payung di pintu dengan bagian atasnya menunjuk ke atas dan pegangannya di bawah. Ini melambangkan berita buruk. Pemilik rumah akan mengundang pembawa pesan masuk untuk makanan kecil dan menanyakan tanggal penguburan. Pemilik akan melempar mangkuk untuk mengusir pengaruh buruk.

Ada adat kuno di provinsi Guanxi, di mana perasaan akan dibunyikan tiga kali untuk mengumumkan kematian. Ini disebut 'mengumumkan kematian melalui petasan'. Setelah itu, pembawa pesan akan dikirim untuk memberitahukan berita pada kerabat dan teman.

Ada tempat yang mengikuti adat ketat tentang pengumuman kematian. Bila yang meninggal pria, keluarga berduka akan mengirim keponakan dari cabang keluarga untuk memberitahukan kerabat. Bila yang meninggal wanita, putra atau putri almarhumah akan memberitahukan anggota keluarga perempuan. Putra atau putri akan mengikat sehelai kain di kepalanya dan berlutut di depan anggota keluarga ibudan menangis ketika mengumumkan kematian ibunya. Mereka akan menangis ketika menceritakan duka mereka dan berterima kasih pada kerabat ibut untuk melawat. 'Pakaian berbakto', strip kain putih, akan diberikan pada kerabat. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.