Makanan Keberuntungan untuk Peristiwa Gembira

Makanan keberuntungan tidak hanya dikonsumsi selama perayaan, tapi juga setiap ada peristiwa gembira. Dalam peristiwa seperti pernikahan, perkumpulan, dan kunjungan, orang biasanya makan makanan yang mengandung makna bagus, sebagai cara mencari berkah dan kebahagiaan. 

Tujuan makanan adalah memuaskan rasa lapar. Namun makanan yang dimakan selama peristiwa gembira bertujuan merayakan suasana bahagia dan memelihara persahabatan dengan yang lain.

Makanan Keberuntungan untuk Acara Pernikahan
Zaman dulu, ada kebiasaan makan "Empat Bola Gembira" pada pesta pernikahan. Di Dinasti Song Utara, ada puisi populer "Empat Puisi Gembira"  yang menggambarkan empat peristiwa membahagiakan—menyambut hujan setelah kekeringan panjang; bertemu teman lama di negeri acing; menghadiri pernikahan; dan mencapai sukses pada ujian kerajaan. Jumlah 'bola' yang disiapkan bi-asanya bergantung pada berapa banyak tamu yang Nadir. Setiap tamu akan diberikan satu "bola", supaya hal yang menggembirakan terjadi padanya. Kue keberuntungan umumnya dimakan selama pernikahan dan dikenal sebagai "Kue Gembira". Mereka bisa ditemukan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Di daerah utara, bentuknya kebanyakan bundar dan dicap dengan desain naga dan phoenixyan merupakan simbol harmoni dan nasib baik. Kulit kudapan yang berlapis dan renyah berwarna kuning dan putih, melambangkan emas dan perak. Kue itu disebut "Kue Sejarawan Kerajaan” atau "Kue Sarjana Nomor Satu" dengan harapan ia bisa menjadi sarjana nomor satu atau sejarawan kerajaan. Kue itu juga melambangkan empat hal baik—berkah, gaji, ke-bahagiaan, dan kekayaan; maka ia juga dikenal sebagai "kue keberuntungan". Di daerah Hebei, ikan digunakan sebagai makan-an pokok dalam pesta pernikahan. Adatnya adalah tidak mengonsumsi kepala dan ekor ikan tujuannya agar pasangan yang baru menikah memiliki kebahagia-an dan kekayaan abadi.
 
Suku Jingpo menjalankan kebiasaan "keranjang makanan berkat". Antaran berkat seperti dua botol arak (air arak dan arak beras), dua paket nasi ketan, dan dua telur rebus diletakkan dalam sebuah keranjang rotan. Air arak melambangkan mempelai wanita, sedangkan arak beras mempelai pria, dan mereka melambangkan kehidupan harmonis. Nasi ketan melambangkan persa-tuan, sedangkan telur menyiratkan kemurnian. Semua benda ada sepasang, menyatakan bahwa pasangan itu akan selalu bersama dan tetap menikah sampai usia tua. 

Makanan Keberuntungan untuk Peristiwa Gembira lainnya 
Adalah suatu adat untuk meminta seorang wanita yang ahli untuk membuat patung dari adonan selama Tahun Baru atau peristiwa gembira lainnya. Naga dan phoenix---simbol harmoni dan kedamaian; unicorn melahirkan anak--memiliki bayi secara berurutan; gembok panjang umur—umur panjang; kelelawar, anak rusa, anak ayam, dan anak domba—kebahagiaan, kekayaan, keberuntungan; rantai sembilan cincin'— keberuntungan dan umur panjang; ular melilit kelinci—kekayaan; dan kue jojoba—kemajuan karier. Kue jojoba biasanya menjadi kue yang umum karena huruf China untuk kue jojoba,
(zaogao) dan ke-naikan awal , (zaogao) bunyinya sama. Di Beijing, ada makanan keberuntungan tradi-sional—hotpot, yang ditempatkan dalam sebuah piring besar. Di dalamnya terdapat sekitar 20 bahan dan bi-asanya dimakan dalam pertemuan keluarga untuk melambangkan persatuan dan kebahagiaan. Kue onde ketan adalah jenis makanan keberuntungan yang populer. Kue ini dibuat dari tepung beras ketan dan diisi berbagai bahan seperti pasta kacang hitam, pasta jojoba, gula merah, kacang, dan biji-bijian. Bentuknya yang bundar melambangkan persatuan dan kelengkapan. Di beberapa tempat, ketika anggota keluarga akan pergi jauh, keluarga akan makan tang yuan untuk mengucapkan selamat jalan. 

Asal Usul Makan Tiga Kali Sehari
Menurut catatan sejarah, sebelum Dinasti Qin, orang hanya makan dua kali sehari. Setiap orang harus mengikuti waktu makan dengan ketat. Akan dianggap tidak hormat apabila seseorang tidak makan pada waktunya, atau makan lebih dari dua kali sehari. Waktu makan kemudian meningkat menjadi tiga kali sehari setelah Dinasti Han.
 
Menurut Catatan Sejarawan Agung: Kitab Xiang Yu, Xiang Yu marah ketika mendengar bahwa Liu Bang ingin menyatakan dirinya raja ketika berada di Guanzhong. Xiang Yu lalu memerintahkan untuk menambah porsi makan menjadi tiga kali sehari untuk menyenangkan pasukannya dan meningkatkan moral mereka. Liu mengikuti hal ini setelah mendengar apa yang dilakukan Xiang. Akibatnya, moral pasukan Liu Bang meningkat, dan akhirnya la mengalahkan Xiang Yu, menjadi pendiri Dinasti Han.
 
Sekarang, orang biasa makan tiga kali sehari, dan ini jugs sesuai dengan prinsip ilmiah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.