Sistem Pakaian Berkabung Tradisional

Di desa China zaman modern, keluarga berkabung umumnya memakai pakaian rami kasar selama pemakaman. Ini berasal dari sistem pakaian perkabungan kuno, yang dikenal sebagai 'ketaatan upacara perkabungan'. Pakaian berkabung dibagi menjadi lima tingkat yang dikenal sebagai 'lima tingkat perkabungan'. Lima tingkat perkabungan ini merujuk pada status pemakai dan hubungannya dengan yang meninggal. Jenis pakaian berkabung kuno lainnya adalah yang lebih renda dari wufu, yaitu tanmian. Menurut catatan sehjarah, dinyatakan "Antara teman, orang harus memakai pakaian rami ketika melayat; di tanah asing, tanmian sudah cukup."

Beberapa adat pemakaman China telah dipengaruhi oleh barat. Sekarang pada pemakaman atau peringatan kematian, bunga kuning kecil dipasang di dada kiri dan pita hitam dipakai di lengan kiri. Beberapa anggota keluarga wanita dari almarhum memasang bunga putih di rambut mereka. Bentuk simbolis perkabungan ini lebih sederhana daripada pakaian berkabung kuno. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.