Meletakkan Jenazah di Peti Mati Bagian 2

Putra almarhum adalah orang yang meletakkan jenazah orangtuanya di peti mati.

Di kota Kaifeng provinsi Henan, orang dengan Shio yang bertentangan dengan shio yang meninggal harus menghadiri pemakaman untuk menghidndari bencana. Kebanyakan orang tidak diizinkan mendekati peti mati, khususnya ketika tutupnya ditutup. Orang China percaya bahwa kesehatan seseorang akan terganggu bila bayangannya jatuh di peti mati. Koin tembaga yang ditempatkan di mulut almarhum seblumnya harus disingkirkan, kalau tidak almarhum akan membawa keberuntungan keluarga. Kain rami digunakan untuk mengikat kaki, untuk mencegah arwahnya berkeliaran dan membahayakan orang lain. Begitu tubuhnya diletakkan di dalam peti mati, ikatan tersebut harus dibuka, kalau tidak almarhum akan cacat di dunia lain. Orang di daerah Qin, di tenggara provinsi Shanxi, akan membungkus kain merah di kelapa almarhum. Selimut atau payung digunakan untuk menutupi pintu depan. Ini dikenal dengan orang lokal di Fushan sebagai 'bersembunyi dari langit'. Ketika menempatkan tubuh di peti mati, kaki almarhum harus masuk dulu. Di daerah Xiangfen, seorang yang baru meninggal diikat dengan kain putih, yang akan disingkirkan begitu tubuh dibaringkan di peti. Kain putih iru lalu akan diberikan pada keturunannya, yang akan mengikatnya di pinggang mereka.  Ini dikenal sebagai 'memiliki keturunan'. Di daerah Qi, bantal kosong yang sengaja dibuat ditempatkandi bawah kepala almarhum. Gambar matahari, bulan, dan alam dilukis di bantal. Tujuh keping kertas perak ditempatkan di atas jenazah, diikuti oleh tujuh chi kain merah yang menutupi seluruh tubuh.. 

Dilarang keras menempatkan benda yang terbuat dari rambut manusia, wol, atau kulit/ Jika tidak, almarhum akan bereinkarnasi menjadi makhluk berambut. Ketika tubuhnya diletakkan di peti mati, tutupnya harus sedikit terbuka. Setelah keluarga berduka memeriksa, peti mati itu akan disegel pada waktu yang ditentukan oleh master Yinyangt. Setelah menempatkan tubuh, ada kebiasaan melakukan 'menyapu kekayaan'. Biji gandu, alam dosebarkan di kepala peti mati kemudian disapu ke pengki dan dibuang ke keranjang. Menyapu biji gandum adalah metafora untuk membuat kekayaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.