Adat Pembawa Keberuntungan saat Bepergian

zaman dahulu, bepergian merupakan hal yang sulit karena sistem transportasi masih sangat buruk. yang ditakuti orang saat bepergian adalah menghadapi kemalangan atau bencana. Karenanya, orang-orang akan selalu memilih tanggal bagus sebelum pergi. mereka juga memperhatikan beberapa tabu perjalanan yang harus mereka taati untuk melindungi diri mereka.

Dulu, orang Han China selalu berhati-hati tentang bepergian, hal ini karena mereka adalah bangsa petani dan  memiliki ikatan yang kuat dengan rumah. Bepergian berarti hilangnya rasa aman karena meninggalkan rumah. Ditakutkan dengan pergi ke tanah asing  orang akan mematuhi berbagai  berbabagai jenis tabu untuk memastikan bahwa perjalanan meraka aman dan lancar.




 Memilih Tanggal Bagus untuk Bepergian
pada masa lalu, hal pertama yang harus dilakukan sebelum bepergian adalah memilih tanggal bagus, Khususnya, ada pepatah yang mengatakan " Jangan berangkat pada tanggal 'ketujuh' dan jangan kembali pada tanggal 'kedelapan'. Tiga belas juga angka tabu, karena huruf China sama 'Shinsan; sama bunyinya dengan frasa 'Tersesat'. Hari ke-5, ke-15, dan ke-25 setiap bulan tidak cocok untuk bepergian atau tinggal diluar.
 
   Ada juga legenda rakyat tentang 'tanggal tabu Yang Gong.' Yang Gong memiliki arti 13 putra., dan anak pertama wafat pada hari ke-13 bulan pertama imlek. sisa 12 anak wafat berturut-turut setiap 28 hari, dan akibatnya semua meninggal pada tahun yang sama. Dengan acuan tersebuat tanggal tabu untuk berpergian adalah: hari ke-13 bulan pertama: hari ke-11 bulan kedua: hari kesembilan bulan ketiga; hari ketujuh bulan keempat; hari kelima bulan kelima; hari ketiga bulan keenam; hari pertama bulan ketujuh; hari ke-29 bulan ketujuh; hari ke-27 bulan kedelapan; hari ke 25 bulan kesembilab; hari ke-23 bulan kesepuluh; hari ke-11 bulan kesebelas; hari ke-19 bulan ke-12.

  Bila ada petanda buruk terjadi setelah memilih tanggal bagus untuk bepergian (misalnya, anak jatuh sakit atau seseorang memecahkan cangkir), orang harus menunda keberangkatan sampai keesokan harinya. selain itu, pelancong tidak boleh terburu-buru selama perjalanan di siang hari untuk menghindari gangguan roh jahat atau rampok.

Tabu Lain untuk Perjalanan
kebiasaan lama untuk perjalanan meliputi; jangan minum sup sebelum makan; jangan minum sup dari mangkok tapi gunakanlah sendok; jangan menumpahkan sup atau memecahkan mangkuk. ada pepatah mengatakan " Jangan makan beri cina selama perjalanan panjang." Selain itu, orang harus menghindari menggunakan sepatu sabagai bantal, kalau tidak, ia akan pingsan; tidak boleh berdiri di ranjang ketika bangun; dan tidak boleh duduk atau berdiri di ambang jendela.




  Ketika bepergian melalui jalan gunung, orang tidak boleh menengok ketika ada yang memanggilnya karena ada kepercayaan bahwa bila ia menjawab. jiwanya akan tertangkap. Juga tabu bila melewati prosesi pemakaman karena ini dianggap tidak bagus. Metode untuk menghalau nasib buruk adalah membuka pakaian dan topi dan memukulnya beberapa kali.

  Bepergian dengan wanita juga merupakan tabu umum di masa lalu. dipengaruhi oleh norma sosial tentang superioritas pria, wanita dianggap sebagai simbol bencana. Tabu yang berkaitan dengan kepercayaan ini termasuk; pria tidak boleh merangkak dibawah kaki, wanita dan harus dan harus menghindari bersentuhan dengan pakaian dalam wanita. Wanita tidak diizinkan naik ke atas loteng bila pria tinggal di bawah. bila ia harus naik ke atas, ia harus meminta si pria menjauh; kalau tidak nasib buruk akan menimpa si pria.

  Meskipun adat dan tabu tertentu memiliki unsur takhayul. kebanyakan dikumpulkan dari pengalama,. Maka, mereka bisa saja praktis untuk bepergian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.