Kua Fu Mengejar Matahari



Legenda Kua Fu yang mengejar matahari mencerminkan keinginan kuat manusia zaman purba untuk menaklukkan kekeringan panjang yang terjadi di masa lalu. Meskipun is mengorbankan diri pada akhirnya, keteguhan Kua Fu dipuja sepanjang zaman. Kisah tentang Kua Fu pertama terlihat dalam Classic of the Great Wilderness: The North in Classic of Mountains and Rivers. Cerita tersebut mengisahkan tentang cara Kua Fu mengerahkan segala upaya untuk mengejar matahari dan berakhir dengan kematiannya di Yuyuan.

Mitos Zaman dahulu kala, ada gunung yang besar dan tinggi di keliaran belantara alam utara. Di hutan, hidup sekelompok raksasa yang luar biasa kuat. Alkisah ada satu tahun ketika cuaca sangat panas dan panasnya membuat tanaman mengering, membakar pepohonan, mengeringkan sungai-sungai dan danau sampai tetes air terakhir. Manusia tidak kuat lebih lama lagi menanggung panas yang tak tertahankan, banyak anggota suku bangsa Kua Fu sekarat dan mati. Kua Fu  sangat sedih dengan banyak korban mati dari anggota sukunya. Kua Fu menatap matahari dan berkata, "Matahari memang pantas dibenci. Aku ingin mengejar dan menangkapnya supaya ia mau mendengar kita, manusia." Para anggota sukunya mencoba menghentikan Kua Fu. Sebagian mengatakan "Jangan pergi. Matahari itu sangat jauh, kau akan mati kelelahan." Sebagian lagi mengatakan "Matahari itu sangat panas. Engkau akan mati hangus karenanya." Namun, Kua Fu sudah memantapkan pikiran dan niatnya. Ia bersumpah untuk menangkap matahari agar matahari mau men-dengar perintah ma-nusia. Tepat saat matahari terbit dari nisi lain laut, Kua Fu mengucapkan salam perpisahan kepada anggota sukunya dan mulai berjalan ke arah Timur untuk menangkap matahari. Ia melangkah lebar dan mulai mengejar matahari yang bergerak. Tatkala Kua Fu lelah berlari, ia akan tidur sejenak. Debu yang ia tepiskan dari sepatunya menjadi gunung-gunung. Saat lapar, ia memetik buah-buahan untuk dimakan. Kadangkala ia menanak nasi juga. Tiga batu yang ia gunakan untuk dijadikan kompor menjadi tiga gunung yang besarnya luar biasa melebihi tingginya ribuan meter. 

Saat Kua Fu mengejar matahari dan matahari semakin dekat, ia semakin dan semakin percaya diri. Semakin Kua Fu dekat ke matahari, semakin kehausan ia jadinya. Kua Fu sangat kehausan sehingga rasanya meminum semua sungai tidak akan memuaskan rasa dahaga tenggorokannya yang kering. Namun, ia tidak takut. Kua Fu terus menyemangati diri. "Aku semakin dekat. Begitu aku dapat menangkap matahari, rakyatku akan menemukan kebahagiaan." Setelah sembilan hari sembilan malam, Kua Fu akhirnya dapat menangkap matahari ketika sedang terbenam di kaki pengunungan. Matahari yang panas-nya menghanguskan, tepat berada di lengannya me-mancarkan sinar keemasan ke atas tubuhnya. Kua Fu menggapaikan tangannya dan ingin memeluk matahari. Namun, matahari sangat panas dan ia kehausan luar biasa. Kua Fu lari ke pinggir Yellow River dan meminum airnya sampai habis. Kua Fu pun meminum semua air River Wei, tetapi dahaganya belum juga terpuaskan. 

Kua Fu lari ke arah utara untuk mendapati danau besar yang terbentang seluas ribuan mil. Di sana pasti tersedia cukup air untuk memuaskan rasa dahaganya, sayangnya ia mati karena kehausan sebelum mencapai tujuannya. Sebelum Kua Fu meninggal dunia, ia memikirkan suku bangsanya dan hatinya penuh rasa penyesalan karena ia telah gagal dalam misinya. Kua Fu melemparkan galah kayu yang ia pegang di tangannya dan di tempat galah itu mendarat muncullah hutan pohon peach yang subur lebat. Hutan peach ini berbunga sepanjang tahun, cabangnya memberikan buah peach yang segar, besar dan berwarna gelap memuaskan rasa dahaga orang yang melewatinya. 

Pentingnya Cerita Tentang Kua Fu 
Penelitian menunjukkan bahwa antara 5000 sampai 8000 tahun lalu, bumi mengalami periode hangat/ panas dengan musim kering yang buruk dan kemarau. Musim kemarau, kekeringan dan iklim panas biasa digambarkan dalam legenda masa lalu. Penggambaran itu mengungkapkan keteguhan mereka untuk meme-rangi kekeringan dan bertahan hidup di kondisi cuaca yang ekstrem. Ada sebagian orang yang percaya bahwa ce-rita tentang Kua Fu adalah mistifikasi dari fakta sejarah tentang kepindahan suku bangsa pimpinan Kua Fu ke arah matahari. Setelah kekalahan Chi You, sekutu bubar dan pimpinan suku memutuskan untuk pindah ke arah barat, mengikuti perge-rakan matahari. Cerita tentang Kua Fu mungkin merupakan dokumentasi tentang kepindahan/migrasi jarak jauh suku bangsa dalam sejarah Cina. Namun, ketika mereka sama sekali salah tentang pergerakan matahari dan kondisi bagian arah barat Cina, ekspedisi tersebut gagal dan berakhir dalam tragedi.

Suku Bangsa Kua Fu dan Kua Fu
Legenda Kua Fu muncul terutama dalam Classic of Regions Beyond the Sea. The Classic of Mountains and Rivers dan The Classic of the Great Wilderness: The North: The Classic of Mountains and Rivers. Berdasarkan The Classic of Mountains and Rivers. Kua Fu adalah keturunan Gong-Gong yang merupakan ayah dari Hou Tu. Hou Tu adalah ayah Sheng Xi dan juga kakek Kua Fu. Diyakini juga bahwa Gong-Gong adalah keturunan Kaisar Yan. Sebagian ahli sejarah meyakini bahwa Kua Fu bukan hanya nama seseorang tetapi merupakan nama seluruh suku bangsa. Cerita tentang bagaimana Kua Fu mengejar matahari mencerminkan proses migrasi besar-besaran satah satu nenek moyang bangsa Gina zaman awal sejarah. Totem monyet dari suku bangsa Kua Fu ditemukan sampai sejauh Asia bagian utara dan Amerika, dan hampir dapat dijadikan penegasan tentang keberadaan suku bangsa Kua Fu dan aktiyitasnya yang mencakup area yang luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.