Adat Pembawa Keberuntungan Ketika Memakai Pakaian



Adat pembawa keberuntungan yang dipraktikkan tidak hanya muncul dalam penentuan pola, warna, atau desain pakaian, tapi juga dalam cara pemakaiannya. Pada masa lalu, orang menghindari memakai pakaian yang buruk untuk mencegah bencana. Tradisi tersebut membentuk bagian penting dalam kebudayaan dan seni nasional China.
Latar kebudayaan dari tradisi pembawa keberuntungan berakar dalam pada kehidupan rakyat. Pakaian dan perlengkapan khususnya mencerminkan pentingnya semua tradisi ini.

Adat Memakai Pakaian yang Membawa Keberuntungan  
Orang tidak boleh terlalu santai dalam berpakaian. Memakai pakaian terbalik dan karangan bunga ter-balik adalah sesuatu yang tabu. Di daerah Luoyang di Henan, ada pepatah yang mengatakan bahwa janda akan memakai roknya terbalik ketika menikah lagi. Maka, adalah tabu bagi wanita yang memakai pakaian-nya demikian dalam keadaan normal. Orang Han China, khususnya orang Tibet, meng-hindari memakai pakaian yang sudah dipakai orang lain. Pada masa lalu, dipercaya bahwa pakaian dan pemiliknya berbagi sifat yang sama dan rohnya terikat dengan pakaiannya. Maka, orang tidak akan merasa damai saat memakai pakaian orang lain. Ketidakrapian juga merupakan suatu hal yang tabu. Orang Han akan menghindari memakai topi-nya miring agar tidak dianggap tidak berguna. Tabu lain adalah tidak mengancingi semua kancing kemeja,  salah memasang kancing, dan kaus kaki yang tidak terpasang dengan benar. Juga adalah tabu dulu, bila wanita tidak mengikat kakinya at5au perbannya longgar, karena ini menyiratkan wanita itu seorang pecandu alkohol. 
Pakaian yang dipakai selama upacara pemujaan tidak boleh terlalu santai agar tidak menyinggung para dewa. Di Shanxi, adalah memalukan untuk memper-lihatkan kepala. Wanita di Yunnan akan membawa payung dengan cadar ketika berjalan keluar sehingga orang lain tidak bisa melihat wajah mereka. Di daerah selatan, memakai pakaian yang baru di-ambil dari tiang bambu adalah tabu, karena dipercaya bahwa roh yang menempel pada bambu akan terganggu dan pemakainya akan berubah menjadi lantu tiang bambu'. Tabu ini akan hilang ketika pakaian dilipat dan dipakai setelahnya. Ada juga tabu tentang memakai hiasan. Misalnya, sejak Dinasti Han, cincin digunakan untuk menun-jukkan apakah selir kerajaan akan disukai oleh kaisar. Kemudian, cincin menjadi hiasan populer, dan sekarang mereka masih digunakan sebagai hadiah pernikahan. 
Menempatkan Pakaian 
Adat pembawa keberuntungan juga terlihat dari cara orang menempatkan pakaian mereka. Orang umumnya percaya bahwa mereka tidak boleh melangkahi atau menginjak pakaian. Adalah tabu menggantung pakaian wanita dan anak-anak di luar rumah pada malam hari, karena bisa menyinggung dewa-dewa dan roh jahat. Pada masa lalu, pakaian anak-anak tidak digantung karena dewa-dewa bisa melukai anak-anak. Pakaian tidak boleh digantung di ujung tiang, karena ini akan membuatnya mirip dengan pita pemakaman. Selain itu, pakaian wanita dan Aria tidak boleh digantung di tiang yang sama karena ini menyiratkan keduanya memiliki kontak fisik. Juga, pakaian laki-laki tidak boleh ditem-patkan di bawah pakaian wanita; bila terjadi, kekayaan akan berkurang. Evolusi kebiasaan pasti menghasilkan studi ten-g desain dan gaya pakaian. Banyak tabu dipakai tuk menghindari bencana dan kebiasaan unik itu mencerminkan pentingnya adat pembawa keberuntungan. 
Aksesori Pembawa Keberuntungan
Menggunakan aksesori adalah seni pada masa lalu. Orang Han China memiliki banyak koleksi aksesori, misalnya tempat bedak, ikat pinggang bunga, gelang kaki, gelang tangan, anting-anting, cincin, jepitan rambut, lencana, kalung, hiasan naga/phoenix, dan bros. Kebanyakan dibuat dari bahan berharga seperti emas, perak, dan giok, yang bisa mengusir roh jahat dan mencegah bencana. Umum bagi anak-anak untuk memakai gembok seumur hidup demi alasan kesehatan dan panjang umur.

Wanita dari kelompok etnis Miao dan Yao menyukai aksesori perak yang melambangkan kecemerlangan, kejujuran, dan perlindungan dari roh jahat. Wanita Tibet suka memakai kalung dengan bandul Buddha kecil untuk alasan yang sama. Anak-anak dari suku Dong sering memakai topi arhat dengan dua lapis hiasan-18 arhat di lapisan atas sedangkan 18 bunga persik di lapisan bawah. Suku Dong percaya ini akan melindungi anak-anak dari roh jahat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.