Nuwa Membenahi Langit



Nuwa adalah ibunda yang diidolakan oleh ras Cina. Dengan hati yang baik dan niat yang paling tulus, ia menciptakan ras manusia. la bahkan melindungi keturunan mereka dari bencana alam dan penderitaan. Nuwa adalah dewi dalam mitologi Cina, dan ia mempunyai saudara laki-laki bernama Fu Yi. Nuwa memiliki kepala manusia dan badan ular. Konon katanya ia melebur batu lima warna untuk menambal langit dan membentuk patung manusia dad bumi. 

Mitos Legenda mengisahkan Pan Gu memisahkan langit dan bumi sedangkan Nawa membuat manusia dari lumpur dan air. Matahari, bulan, dan bintang gemintang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendirt dan segala hal di alam semesta bekerja dalam keselarasan yang sempurna. Manusia hidup dalam kedamaian-dan kebahagiaan. Segala sesuatu berubah ketika Gong-Gong bertarung dengan Zhuan Xu demi takhta. Ketika Gong-Gong kalah, ia membenturkan kepalanya ke Gunung Buzhou, menyebabkan empat pilar langit runtuh dan bumi retak. Langit retak di sebelah utara dan bumi melesak di arah selatan. Api menyala-nyala dan banjir besar melanda ganas sehingga tak terkendali. Ketika Nuwa melihat bahwa rakyatnya menderita, ia memutuskan untuk melebur batu untuk menambal langit. Ia akhirnya memutuskan untuk menambal di atas Gunung Tiantai yang menyandar di punggung kura-kura suci untuk mencegahnya tenggelam ke dalam dasar lautan. Nuwa mengambil gunung ini karena ini adalah satu-satunya tempat di bumi dengan lima warna yang dibutuhkan untuk melebur batu tersebut. Nuwa memungut batu raksasa dan menempatkan batu tersebut di puncak sebagai kompor. Menggunakan panas matahari dewa, Nuwa membakar bumi lima warna, setelah sembilan hari sembilan malam, Nuwa menambal langit dengan 36.500 baru berwarna dan meninggalkan sepotong di atas puncak Gunung Tiantai.

Setelah langit ditambal, Nuwa perlu menemukan empat pilar untuk menyangga langit. Nuwa memotong empat kaki kura-kura suci yang menyangga Gunung Tiantai dan menggunakannya untuk menyangga empat sudut langit. Tanpa disangga kura-kura suci, Gunung Tiantai akan tenggelam ke laut, maka Nawa memin-dahkan gunung tersebut ke pantai laut Timur di Langya. Lokasi yang digunakan Nuwa sebagai tempat untuk melebur batu masih tetap ada. Sepotong batu berwarna yang tersisa juga masih ada dan selanjutnya diberi nama Batu Dewa Matahari (Sun God Rock). Setelah Nuwa menambal langit, segala sesuatu ber-ada dalam aturan asalnya yang asli. Manusia membangun sebuah kuil Nawa di sana untuk menyembahnya. 

Batu Lima Warna dan Jade Lima Warna
Untuk menyelamatkan manusia dari bahaya besar, Nuwa memotong kaki kura-kura suci untuk menyangga empat sudut langit. Nuwa membunuh naga hitam yang menyebabkan kekacauan di laut, menghentikan banjir dengan barisan alang-alang dan melebur barn lima warna untuk menambal langit. Orang selama ini mencari sebagian batu tersebut untuk yang mungkin tercecer jatuh ke tanah ketika Nuwa menambal langit. Batu langka ini sulit untuk ditemukan sehingga menjadi barang koleksi. Fei (ti) dan cui adalah burung dua warna dalam mitologi Cina. Burung berwarna merah disebut fei sedangkan burung biru dikenal sebagai cui. Batu Jade berharga mengandung ulasan warna merah dan hijau, maka orang menyebut jade sebagai fei cui. 

Peribadahan Rakyat

Tindakan luar biasa Nuwa menambal dan menciptakan manusia membuatnya mendapat penghormatan besar dari bangsa Cina yang menyembahnya sebagai dewa. Di Shanxi, ada Kuil Nuwa yang dibangun selama masa Dinasti Qi Utara. Kuil tersebut merupakan kuil terbesar dan tertua di Cina yang didedikasikan untuk Nuwa. Menurut cerita lokasi kuil tersebut adalah tempat Nuwa melebur batu untuk menambal langit dan menciptakan manusia dari bumi dan air. Di Zhoukou, ada kota Nuwa tempat Nuwa terlihat sedang menciptakan manusia dari bumi dan air. Di puncak kedua pengunungan Xixiu Range di Shanxi, kuil Nuwa diba-ngun, lengkap dengan gerbang masuk di pegunungan dan gedung samping dengan patung Nuwa bagi orang untuk berdoa kepadanya. Bebatuan gunung berwarna merah api mencerahkan sisi luar kuil, dan konon katanya itu adalah tempat Nuwa melebur bebatuan untuk menambal langit. Pada bulan ke-6 lunar setiap tahun, perayaan kuil diselenggarakan di sini untuk berdoa kepada Nuwa. Hari Dewa juga akan dirayakan pada hari ke-12 bulan pertama lunar setiap tahun. Bangsa Gina membuat biskuit butian (iiis) yang akan dilemparkan ke atap (menyimbolkan tindakan menambal langit) dan melemparkannya ke tanah dan sumur (menunjukkan perbuatan memperbaiki bumi). Seluruh keluarga menyantap biskuit ini untuk menunjukkan hormat mereka kepada Nuwa.

Asal Mula Batu Nuwa

Bebatuan lima warna yang digunakan Nuwa untukk menambal langit disebut juga batu Nuwa. Berdasarkan catatan dalam Nankang Ji yang dibuat Wang Xin Zhi, sebagaimana dicatat dalam paragraf kedua buku ke lima The Imperial Readings of The Taiping Era, Tebing batu di Gunung Guimei berwarna merah tua dan batu itu terlihat seolah-olah dilukis. Tebing batu tersebut besar dan tinggi, terkadang tersembunyi di balik awan. Tebing batu ini disebut "Batu Nu". Setelah hujan, udara terasa tenang dan langit boning dan orang seakan mendengar melodi harmonis dawal dan seruling. ‘Gunung Guirnei` disebut dalam buku ini tetapi belum dikenal dan masih diselidiki oleh para ahli sejarah. Sebagian ahli rneyakini bahwa Nuwa memang ada dan berkebangsaan Shanxi yang dulu
hidup di nataran luas Sanjin. Selain itu, struktur bangunan tempat NOwa telah melebur bebatuan, juga diternukan bagian Timur Gunung Nantian Tai di kola Chanazhi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.