Ratapan konfusian Kuno dalam Ritual Pemakaman

Orang China kuno terikat aturan perilaku seperti kuyong, daiku, jixku, dan fanku. Mmemukul dada dan mengentakk kaki oleh orang yang meratap disebut biyong. Untuk menghindari kehilangan kendali, mayoritas ritual memiliki aturan tiga kali tiga. 

Daiku adalah ratapan yang dilakukan sebelum tubuh diletakkan di peti mati. Dai artinya bergantian, karena kerabat bergantian enangis di depan usungan. 

Jixiku terjadi setelah tubuh ddiletakkan di peti mati, dimana kemarahand an kesedihan berkurang, Keluarga berduka akan meratap dengan keras setiap pagi dan sore. 

Fanku adalah kebiasaan yang dilaksanakan setelah upacara penguburan. Keluarga  berduka dan kerabat akan kembali ke kuil leluhur dan meratap dengan keras. Ketika putra tertua atau cucu lelaki memasuki ruang leluhur, ia akan menghadap timur, sedangkan seluruh keluarga berdiri di luar aula. Di dalam, pria dan wanita akan meratap dan mengentak kaki tiga kali. Kerabat akan memberi kata penghiburan pada keluarga berduka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.