Sepasang Kekasih KUPU-KUPU




Liang Shanbo dan Zhu Yingtai adalah teman sekelas. Zhu Yingtai sebenarnya adalah seorang gadis muda yang menyamarkan dirinya menjadi seorang pemuda dengan nama Zhujiu Sheren. Setelah menjadi teman sekelas selama 
tiga tahun, mereka semakin dekat satu sama lain. Walaupun mereka makan di   meja yang sama dan tidur di kamar yang sama, Liang Shanbo tidak menyadari  bahwa saudara satu sumpahnya sebenarnya seorang perempuan. Zhu Yingtai selalu menolak melepas pakaian di depan Liang Shanbo dan saat Liang Shanbo mulai penasaran ingin tahu, Zhu Yingtai secara kasar menolaknya dengan berbagai alasan. 

Ketika mereka berdua menyelesaikan sekolah mereka saling berjanji bahwa Liang Shanbo akan mengunjungi Zhu Yingtai di rumahnya dalam waktu dua bulan. Bunga buah delima tengah bermekaran ketika Zhu Yingtai pulang ke rumah. Kakak laki-laki dan istrinya telah setuju untuk menikahkan Zhu Yingtai ke keluarga Ma tanpa persetujuan Zhu Yingtai. Ketika Liang Shanbo datang mengunjungi Zhu Yingtai enam bulan kemudian ia terkejut sekali mengetahui bahwa "saudara laki-lakinya" sebenarnya seorang perempuan. Liang Shanbo jatuh cinta kepada Zhu Yingtai dan ingin menikahinya. Ketika Liang Shanbo menyadari bahwa Zhu Yingtai telah ditunangkan dengan keluarga Ma, ia putus asa dan menyalahkan diri sendiri karena terlalu lama menunda kunjungan ke Zhu Yingtai. Setelah pulang ke rumah, Liang Shanbo jatuh sakit karena kehilangan Zhu Yingtai, dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Keluarganya menguburkan Liang Shanbo di gerbang Desa Anle. Tahun berikutnya, saat Zhu Yingtai dalam perjalan-an untuk menikah, ia melewati makam Liang Shanbo. Angin kuat yang berembus tiba-tiba memaksa keretanya berhenti dan Zhu Yingtai menengok keluar dan melihat makam Liang Shanbo. Zhu Yingtai bergegas keluar dari kereta dan berlari ke makam tersebut. Zhu Yingtal melompat masuk ke dalam kuburan yang mendadak membuka. Pengawalnya mencoba mengehentikal: Zhu Yingtai, tetapi hanya mampu merengut   sejumput pakaiannya. Pakaian penuh warna itu tiba-tiba berubah menjadi sepasang kupu-kupu cantik yang dengan bahagia terbang menuju cakrawala.
 
Dewa Cina dari Kuil Cinta
Kuil Liang Shanbo berlokasi di Shao Jiadu di Desa Gaoqiao, lima kilometer sebelah barat kota Ningbo. Kuil terebut adalah satu-satunya kuil "Dewa Kuil Cinta" yang didirikan untuk memperingati Liang dan Zhu. Dalam kuil tersimpan patting Liang Shanbo mengenakan jubah resmi dan Zhu Yingtai memakai gaun pengantin.
Di sepanjang jalan batu tersebut dipahat dengan bunga teratai besa yang menutupi permukaan jalan di depan kuil sampai Ujung jalan menuju jembatan batu nan indah bernama jembatan Kekasih. Sebelah kanan kuil terletak kuburan bersama Liang dan Zhu. Kamar untuk pasangan tersebut dibangun di bagian belakang kuil dan interiornya ditata persis seperti kamar tidur, lengkap dengan poster tempat tidur yang dihiasi dengan tirai tempat tidur bersulam, cermin, dan dua pasang sandal kamar bersulam untuk laki-laki dan perempuan, jubah Liang Shanbo dan gaun pengantin Zhu Yingtai juga tersimpan di dalam lemari. Di pintu gerbang kuil ada sebait puisi berbunyi, "Kesetiaan tak terpisahkan bertahan dalam ujian waktu, kebenaran tak tertandingi yang menyebar lugs ke lima benua". Selama diceritakan bahwa hari ke-21 bulan ke delapan adalah hari ketika Zhu Yingtai bunuh diri demi cinta. 

Maka, pengunjung berbondong-bondong datang ke kuil sep dan bulan selama 1600 tahun lalu sejak berakhirnya Dinasti Jin Timur. Pria an wanita muda datang berpasangan dan berkelompok mempersembahkan dupa dan mengelilingi kuburan satu kali,  sesuai dengan lagu masa lalu, "Berjalan mengelilingi makam Liang dan Zhu membuat suami dan istri mampu bertahan dalam pernikahan sampai mereka tua." 

Nilai-Nilai Budaya
Legenda The Butterfly Lovers telah menyebar luas ke seluruh bagian Cina. Seiring cerita dikisahkan turun temurun dari generasi ke generasi, banyak detail di-tambahkan, membuatnya semakin menarik. Banyak kuburan dan kuil dibangun dengan tema Sepasang Kekasih Kupu-Kupu. Pengaruh meluas seperti itu dianggap langka bagi Legenda Cina. The Butterfly Lovers mengambil temanya dari realitas dengan sentuhan fantasi, dengan akhir yang idealis tapi tragis. Cerita itu mengungkap sisi buruk sistem pernikahan feodal, yang pada saat yang sama mempromosikan kebebasan cinta. Tema antifeodalisme adalah sebuah perkembangan penting karena men.- cerminkan keinginan rakyat untuk dibebaskan setelah Dinasti Ming dan Qing. Hal itu juga menjadi penyebab tnengapa cerita diterima luas.

Taman Budaya Liang Zhu

Taman Budaya Liang Zhu berlokasi di situs makam Liang Zhu dan rnonumen kuil. Berdasarkan catatan sejarah, Liang Shanbo adalah seorang pelajar yang mempunyai teman sekelas bernama Zhu Yingtai yang menuntut ilmu bersama selama tiga tahun. Liang Shanbo adalah seorang pejabat pemerintah yang bekerja terlaiu keras karena menangani masalah air di Yaojiang. la meninggal ketika bekerja karena kelelahan dan dimakamkan di Nine Dragon Ruins. Desain Taman Budaya Liang Zhu tennspirasi den cinta antara Liang dan Zhu dengan daya tarik utama yang berhubungan dengan berbagai bagian cerita seperti Meeting at the Straw Bridge dan As Butterfly We Shall Live.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.