Delapan Makhluk Abadi

Meskipun legenda tentang delapan makhluk abadi hanyalah mitos semata, mereka menunjukkan keinginan bangsa Cina untuk memahami misteri alam dan pencarian mereka untuk kehidupan yang lebih balk. Delapan Mahkluk Abadi muncul di banyak karya sastra, dan cerita tentang Delapan Mahkluk Abadi Menyeberangi Lautan telah menjadi mitos klasik dan hidup yang paling disukai dalam sejarah Cina. 

Suatu hari Delapan Makhluk Abadi  menyeberangi Laut Timur. Lu Dongbin disarankan naik kapal pesiar untuk bersantai, maka ia mengambil tongkat kruk Guaili dan melemparkannya ke laut. Seketika, kruk itu menjadi kapal luas yang indah. Delapan Mahkluk Abadi menaiki-nya berlayar dan bersenang-senang. Pangeran Hua Long, putra ketujuh dari Raja Naga dari Laut mendengar musik surgawi dari permukaan Taut. Ia penasaran ingin tahu dan memutuskan untuk melihatnya, Hua Long melihat kapal dengan delapan dewa bertampang asing berada di atasnya. Salah satu dari mereka adalah gadis belia cantik, He Xiangu  yang seketika membuat pangeran jatuh hati. Mendadak ombak besar melanda kapal dan membalikkannya. Dalam kekalutan Tie Guaili  kehilangan tongkat kruknya dan meraih botol tabu. Han Zhongli  merentangkan kipasnya untuk dinaikinya, sedangkan Zhang Guolao  menjentikkan jemarinya dan segera men unggangi keledainya. Lan Caihe  berpegang erat-erat pada keranjangnya dan Han Xiangzi menggunkan seruling ajaibnya sebagai tunganggan. Cao Guojiu mengambang di permukaan Taut dengan melangkah ke anak gentanya, sedangkan Lu Dongbin  terpana tidak menyadari dia telah basah kuyup dari kepala sampai kaki. Seseorang telah hilang—He Xiangu, karena ia diculik dan dibawa ke Istana Naga Laut 

Pangeran telah mengumpulkan pasukan tentaranYa yang terdiri dari udang dan kepiting dan mengakibatkan gelombang ombak raksasa untuk membalikkan kapal. Bagaikan capung yang ringan, Han Zhongli mendarat dengan ahli di ujung ombak dan menggunakan kipasnya untuk menyapu jauh-jauh pasukan tentara kepiting suruhan pangeran. Hal ini membuat Pangeran Hua Long murka dan berubah menjadi hiu besar untuk menyerang Han Zhongli. Pada saat itu, Tie Guaili memberi isyarat ke laut dan tongkat kruknya melayang di udara. Tie Guaili mengayunkan kruknya yang kuat untuk memukul hiu, tetapi tongkat malah mendarat di gurita raksasa. Seandainya saja Lan Caihe tidak menggunakan keranjangnya untuk menangkap gurita itu, mungkin Guaili akan ditelan olehnya. Hiu dan gurita adalah bentuk jelmaan sang pangeran. 

Tatkala ia melihat keranjang Lan Caihe melayang-layang di atas dirinya, Pangeran Hua Long berubah menjadi ular taut dan merayap kabur. Zhang Guolao 1 menunganggi keledainya untuk mengejar Pangeran Hua Long, tetapi terlempar dari atas keledainya karena tung-gangannya itu digigit kakinya oleh setan kepiting. Cao Guojiu turun tangan untuk menyelamatkan Zhang Guolao dengan membunuh setan kepiting tersebut. Kemudian Delapan Makhluk Abadi pergi untuk membunuh Pangeran Hua Long. Ayahnya, Raja Naga Laut Timur bergabung dengan pasukan tentara bersama dengan raja naga lain untuk balas dendam. Maka terjadilah perang besar dan Guan Yin dari Laut Selatan emisahkan diri dari pertempuran untuk bermeditasi, enghentikan perang tersebut. Selanjutnya, orang enyebut Delapan Makhluk Abadi menyeberang lautan ntuk menggambarkan mereka yang mengandalkan emampuan khusus diri sendiri untuk menciptkakan eajaiban. Ada banyak legenda lain di seputar Delapan Makhluk Abadi. Selama rezim Jianlong, Pulau Shamen adalah tempat yang digunakan untuk memenjarakan narapidana. Sejak tahun kedua pemerintahan Kaisar Taizu, personel tentara yang melanggar hukum akan dibuang ke Pulau Shamen.

Populasi pulau bertambah seiring tahun-tahun berlalu. Oleh karena pemerintah hanya memberi makanan yang cukup bagi 300 orang raja, pangan menjadi semakin langka. Muncul pikiran kejam di benak kepala penjaga yang merencanakan akan mengikat tangan dan kaki sebagian narapidana dan menenggelamkan mereka ke dalam lautan sehingga populasi di pulau tetap di bawah angka 300. Sebagian narapidana mencoba melarikan diri tetapi sebagian besar berakhir dengan tertelan ombak besar. Suatu hari, lebih dari 59 narapidana mendengar bahwa mereka akan segera dieksekusi. Mereka menanti malam cerah ketika laut tenang dan mencoba kabur. Bergantung pada benda-benda bercahaya seperti buah labu dan tongkat kayu, mereka melompat ke laut dan mulai berenang menuju Gunung Penglai. Hanya delapan orang yang kuat dan ahli berhasil kabur hidup-hidup. Tujuh orang prig dan satu wanita berenang ke pantai dan bersembunyi di Lion Cave. Mereka ditemukan oleh nelayan keesokan harinya, dan ketika berita tersebar bahwa mereka berdelapan berenang terus menempuh perjalanan dari Pulau Shamen, semua orang takjub atas prestasi mereka dan menjuluki mereka "abadi". Kisah tentang delapan orang abadi tersebar .dan pelarian mereka dari penjara perlahan menjadi cerita tentang "Dl an Orang Abadi Menyeberangi Lautan . 

Delapan Abadi dan Delapan Harta Karun
Sebelum Dinasti Ming, ada berbagai versi berbeda tentang nama yang menceritakan Detapan Mahkluk Abadi. Hanya ketika Wu Yuantai menulis The Emergence of Eight immortals and their Journey to the East saat itulah Delapan Mahkluk Abadi diberi nama secara resmi: Tie Guaili, Han Zhongli, Lu Dongbin, Zhang Guolao, Can Guojiu, Han Xiangzi, Lan Caihe, dan He Xiangu. Konon Delapan Mahkluk Abadi diceritakan masing-masing mewakili sesuatu yang berbeda: pria, wanita, si tua, si belia si kaya, si mulia, si miskin, dan si rendah hati, Maka mereka tetap dekat dengan hati rakyat banyak dan dewa-dewi yang populer dalarn Taoisme. Ba.nyak Delapan Mahkluk Sue: didjrikan di Gina dan pemujanya sering ikut seta detain upacara agama. Delapan "senjata' mereka gunakan, yakni, genta, kipas, kruk, seruling, botot tabu, pengaduk akor kuda, keranjang dan sebagainya yang diberi istilah "Delapan Harta Karun".
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.