Menerima Kebahagiaan Selama Mengandung




Memiliki bayi adalah prioritas utama orang China. Bayi Iemah, sedangkan lingkungan hidup kita sering terpapar angin, hujan, kilat, dan kondisi iklim yang parah. Maka, selalu ada kebutuhan penting untuk melindungi bayi yang baru lahir dari bahaya, dan hal ini melahirkan berbagai adat istiadat.
Kelahiran bayi disebut ‘menambah kebahagiaan' . Selama sebulan setelah melahirkan, wanita tidak boleh di luar rumah karena baik ibu ataupun bayinya dianggap sangat rentan. Karenanya, memilih hari baik untuk melakukan berbagai adat dan tradisi merupakan refieksi dari bagaimana rakyat berharap bahwa generasi berikut akan tumbuh sehat.
Pengumuman Berita Bahagia Konsep `menambah kebahagiaan' biasanya dibagi menjadi lebahagiaan besar' dan lebahagiaan kecil'. Melahirkan bayi laki-laki dianggap kebahagiaan besar'. Beberapa orang memasang spanduk merah besar di pintu utama untuk memberi tahu publik bahwa mereka punya anak Mereka mengang-gap memiliki anak laki-laki membawa kemuliaan bagi keluarga, sedangkan melahirkan bayi perempuan  akan dianggap sebagai kebahagiaan kecil'. Dulu, ketika seorang wanita melahirkan anak, ibunya akan mengirim seseorang untuk mengunjungin ya sekaligus memberi makanan bergizi. Bayinya akan diberikan hadiah `gembok panjang umur'. Beberapa orangtua bahkan mengunjungi makam leluhur berdoa dan mengumumkan berita baik pada leluhur.
Xisan—Memandikan Bayi Orang Han China biasanya menyelenggarakan upacara pada hari ketiga setelah kelahiran bayi. Proses meman-dikan bayi disebut xisan  dan etiketnya agak rumit. Di Beijing, yang memandikan adalah bidan. Mulanya, ia akan membersihkan ari-ari bayi, kemudian menutupinya dengan tawas bakar, dan membungkus-nya dengan plum. Air yang digunakan untuk upacara ini dicampur dengan berbagai jenis rempah dan buah untuk menghindari  si bayi dari penyakit. Kebiasaan ini masih dilakukan hingga sekarang.
adalah untuk menghindari kemarahan dewa. Setelah mandi, bayi itu disembunyikan di bawah Payung dan dibawa keluar untuk berdoa pada Dewa langit dengan tujuan menyembunyikan bayi di bawah payung. Upacara `menyusui bayi' akan dilaksanakan setelah xisan. Ibu si bayi akan memberi makan bayinya dengan dua sampai tiga tetes tinta China bermutu tinggi dicampur dengan susunya sendiri. Upacara ini dilakukan dengan harapan anak itu akan berbakat ketika dewasa. Pernah, seorang calon yang gagal pada ujian kerajaan diperintahkan untuk minum tinta China oleh kaisar. Konon, calon itu gagal karena tidak pernah minum cukup tinta pada masa lalu. Sejak itu, orang menerapkan kebiasaan ini untuk memastikan anaknya tumbuh menjadi pintar dan berbakat. Beberapa orang memberi bayinya coptis chitiensi dan lima jenis obat herbal China sebelum member bayinya susu bertinta. Setelah itu, ia akan menyiapkan semangkuk sup ikan, arak, dan gula  yang dimasak dengan daging,  dan mengoleskannya di jarinya dan memasukannya ke bibir bayinya. lni dilakukan untuk mendoakan kesejahteraan si bayi. `

Penanaman
 Ada kebiasaan orang Han China yang disebut `pena-naman hutan'. Di beberapa daerah Zhejiang dan Shandong, orang melakukan upacara tiga hari setelah kelahiran bayi. Setiap tanaman boleh ditanam, tapi hanya bambu yang ditanam pada musim dingin. Pohon adalah metafora untuk rakyat akar bambu yang dalam disamakan dengan orang yang memiliki dasar yang kokoh dalam hidup. Kedua, akar bambu melambang-kan kesiapan seseorang untuk menikah ketika mencapai kedewasaan. Proses membesarkan anak tidak mudah. Maka, banyak orang mengambil langkah untuk melindungi anak-anak.
Kebiasaan `Membuat Cacat Anak'
Pada zaman kuno, kebiasaan ini muncul dalam keluarga di mana ada bayi laki-laki yang mati muda. lbu anak itu akan menggigit jari kaki kanan anaknya setelah kelahiran. Ini bisa membuat anaknya cacat tapi tetap hidup. Untuk mencegah orang lain menggunakan jari itu untuk sihir, ibunya akan menelannya dengan kue dadar dicelup kecap manis.

"Sir-wan sembilan dari sepuluh Jari". lstilah China untuk `simpan sembilan'  sama dengan 'tinggal lebih lama'. Istilah China untuk 'saus celup bawang' sama dengan frasa China akan pintar nantinya . Meskipun praktik ini ada karena cinta seorang ibu, ini dianggap sangat kejam. Karenanya, kebiasaan ini dihentikan.
READ MORE - Menerima Kebahagiaan Selama Mengandung

Aturan Kelahiran Anak





Kelahiran adalah peristiwa keramat. Kebiasaan memilih hari baik untuk melahirkan sangat penting. Selain mengharapkan kelahiran cepat, Iancar, dan selamat, ada juga harapan bahwa si ibu melahirkan anak laki-Iaki. lni menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap wanita masih terjadi.
Kedatangan si kecil dalam keluarga memang suatu peristiwa bahagia. Tetapi, ada tabu kelahiran yang harus dipatuhi. Melahirkan di rumah: Ini adalah kepercayaan rakyat. Wang Chong dari Dinasti Han pernah berkata: "Bertemu wanita yang sedang melahirkan dianggap sial. Maka, bagi mereka yang ingin melaksanakan acara gembira atau perjalanan, hindari bertemu dengan wanita yang melahirkan. Bahkan anggota keluarga wanita itu akan mengatur agar ia tinggal di samping kuburan atau pondok tepi jalan sebelum ia melahirkan. Ia hanya diizinkan pulang setelah bulan purnama. Ini menunjukkan betapa kerasnya peraturan itu." Pemburu juga tidak mengizinkan ibu hamil melahirkan di rumah. Wanita itu akan diminta melahirkan di luar rumah atau di kandang hewan. Konon, wanita yang sedang mela-hirkan `tidak bersih' dan bisa menyinggung busur dan alas berburu di rumah. Melahirkan di rumah orang lain: Orang mengang-gap melahirkan kotor. Maka, kunjiun.gan wanita hamil biasanya tidak diterima, apalagi 131 a ia menginap. Ada pepatah "Lebih baik membiarkan orang mati daripada melahirkan di rumahku". Konon bila orang luar melahirkan bayi di tempat seseorang, anak itu akan menarik semua berkat.

Apa yang harus dilakukan bila seseorang melahirkan di rumah orang lain? Dalam keadaan seperti itu, seorang pendeta Tao harus diundang ke rumah untuk melakukan ritual keagamaan seperti membaca kitab dan memasang tokoh spiritual untuk mengusir nasib buruk. Semua pengeluaran akan ditanggung oleh orangtua si anak. Melahirkan di rumah orangtua wanita: Bila seorang wanita melahirkan bayi di rumah orangtuanya, dipercaya keluarga orangtuanya akan miskin seumur hidup. Tetapi, masalah ini bisa diatasi bila pilar rumah orangtuanya diganti. Tabu menyinggung Tai Sui di kamar bersalin: di daerah utara, adalah tabu menempatkan ranjang bersalin menghadap dinding cerobong. pengaturan seperti itu dikhawatirkan meng-ganggu Dewa Tai Sui dan menghalangi kela-hiran. Karena Langit dan Bumi dianggap benda Ilahi, maka Tai Sui juga tidak boleh di-ganggu. Bila gangguan tidak serius, maka orang akan dihukum dengan ketidaksuburan selama 6   atau 12 tahun.  Hongt Kong dan Taiwan masih mempraktikkan kebiasa ini. Selain itu, ada juga halangan memasuki ruang bersalin. Biasanya, laki-laki dilarang memasukinya. Di China utara, bila tidak bisa menemukan bantuan wani-ta, maka suaminya diizinkan menyiapkan makanan ibu. Namun, ia tidak diizinkan membawakan makanan pada istrinya dengan memasuki ruang bersalin. Alasannya adalah karena wanita itu dianggap `tidak bersih' dan bisa membawa kesialan pada suaminya. Kedua, laki-laki adalah yang dan wanita yin, dan wanita lemah selama kelahiran. Maka, hal ini tidak baik untuk ibu dan anak. Tentang praktik memilih hari balk untuk kelahir-an, beberapa kebiasaan tampak masuk akal tapi tidak semuanya. Maka, kita perlu menggunakan kebijakan kita untuk menilai validitas setiap kebiasaan dalam zaman modern ini. Bila hanya berdasarkan takhayul feodal, kita perlu mengubah kebiasaan yang ada.


Berbagai Praktik Mempercepat Kelahiran
Biasanya, tepat sebelum wanita melahirkan, orangtuanya akan memberikan pakaian dan makanan sebelumnya. lni disebut `hadiah mempercepat kelahiran'.
Pada zaman kuno, ada takhayul di mana ibu mertua dari wanita hamil harus sering mengunjungi Kuil Dewi untuk rnendoakan keselamatan wanita yang mengandung, berharap la melahirkan anak segera dan diberkati oleh dewata dan bodhisatwa.

Sekarand; tidak banyak orang mernpraktikkan kebiasaan itu meskipun mereka percaya tentang memberikan hadiah yang bagus seperti kurrna, kastanya, dun led untuk mengungkapkan harapan balk mereka. Beberapa hadiah pembawa keberuntungan dibungkus dengan gambar labu beta , bunga bakung kilin, dan lain-lain.
READ MORE - Aturan Kelahiran Anak

Memilih Hari Keberuntungan Untuk Pembuahan



Gejala awal kehamilan adalah morning sickness, gejala mual dan muntah yang biasa terjadi pada pagi hari. Orang China percaya ada tiga cara menjadi tidak berbakti, dan yang terburuk adalah tidak menghasilkan keturunan. Meskipun tak ada yang bisa menjamin bahwa seorang wanita akan melahirkan bayi lelaki, paling tidak kelanjutan garis leluhur seseorang dipastikan.
Kehamilan adalah proses fisiologis yang kompleks. Maka, sejak pembuahan hingga kelahiran, harapan orangtua ditempatkan pada wanita hamil. Memilih Hari Baik untuk Hamil Menurut pandangan kuno, kehamilan adalah masalah serius. Konon masa depan si kecil dimulai pada saat pembuahan. Maka, etiket dan adat kehamilan ditetap-kan. Koleksi Buku untuk Zaman Kuno dan Zaman Sekarang  menyatakan: "Disebutkan orang tidak boleh terlibat dalam kegiatan seksual selama gerhana, hari pertama, dan hari ke-15 kalender bulan, atau ketika sedang emosi. Bila pembuahan terjadi pada salah satu periode ini, ia akan melahirkan anak yang tidak sehat, bodoh, ganas, atau brutal." Menurut cerita rakyat, bila pembuahan terjadi selama gerhana bulan atau matahari, ia akan melahirkan bayi berjari enam atau berbibir kelinci. Maka, kegiatan seksual selama gerhana harus dihindari. Klasik Tao Bao Pu Zi mengatakan: "Orang harus mengerti bagaimana qi bekerja sebelum mempraktikkan seksologi Tao. Bila orang tidak memiliki pengetahuan tentang yin dan. yang , maka akan sia-sialah usahanya karena tidak berhasil." Singkatnya, pria dan wanita  harus meng-ikuti aturan seks dengan ketat. Umumnya, orang kuno sangat teliti tentang memilih hari baik untuk kegiatan seksual, karena mereka menganggap waktu pembuah-an dan hubungan antara manusia dan posisi benda langit memiliki dampak lingkungan, ruang, dan waktu pada tubuh manusia. Meskipun ritus kuno menunjuk-kan pengetahuan ilmiah terbatas tentang pembuahan, tampaknya masuk akai bagi orang kuno untuk menilai dampak faktor lingkungan luar pada kehamilan.

Cara Hidup yang Baik untuk Wanita Hamil
Jangan keluar rumah pada malam hari, khususnya pada jam berkabut, karena ada kekuatan jahat yang bisa membahayakan janin. Hindari memetik buah. Memetik buah adalah tabu utama untuk wanita hamil karena dipercaya bisa mengakibatkan kelahiran prematur. Hindari menonton opera. Bila wanita hamil menonton teater boneka, ia akan melahirkan anak tak bertulang; yang lain mengatakan bahwa bayinya akan seperti orang di panggung; bahkan ada yang mengata-kan anaknya akan memiliki tanda di wajah. Jangan hadiri pemakaman. Konon menghadiri pemakaman akan membawa nasib buruk pada wanita hamil dan pengaruh jahat akan melukai janin. Beberapa  percaya bahwa jiwa orang mati bisa menguasai wanita hamil. Hindari memasuki rumah bersalin. Wanita hami disarankan tidak mampir semaunya. Bila seseorang  tanpa berpikir masuk ke rumah bersalin, bencana bis terjadi. Bila bayi yang baru lahir dari rumah bersali menderita penyakit, maka ada kemungkinan wanit hamil dan janinnya terinfeksi. Pada masa lalu, begit wanita melahirkan, ia akan menggantungkan penyaring di pintu untuk mencegah wanita hamil lain memasuki rumah bersalin. Jangan menghadiri ruang pernikahan. Ini karena orang berpikir bahwa wanita hamil `tidak bersih' dan akan membawa nasib buruk pada yang baru menikah. juga, dipercaya bahwa konflik peristiwa menyenangkan bisa memengaruhi janin. Hindari kontak dengan dewa. Orang percaya bahwa kehadiran wanita hamil tidak bersih' itu murtad terhadap dewa. Maka, wanita hamil diminta tidak mendekati kuil atau berpartisipasi dalam setiap upacara pemujaan. Jangan pergi dekat tempat penting. Wanita hamil dianggap csi cantik yang berbahaya atau makhluk tidak baik. Maka, mereka dilarang muncul di tempat penting.  

Tabu Makanan Tradisional selama Kehamilan

Tabu mengenai makanan telah di turunkan dari generasi ke generasi. Wanita hamii harus menghindari makan daging kelinci; kalau tidak mereka akan melahirkan anak dengan bibir sumbing. Zhang Hua dari Dinasti Jin Barat menyatakan dalam bukunya Pengetahuan Alam : "wanita hamil tidak boleh makan atau melihat kelinci. Kalau tidak, ia akan melahirkan bayi berbibir sumbing." Tidak boleh makan daging anjing, kalau tidak anaknya akan suka menggigit orang lain. Tidak boleh makan daging keledai untuk menghindari anak yang keras kepala. Hindari makan ayam, kalau tidak mau anakmu menangis semalaman. Hindari makan kepiting, kalau tidak anaknya akan sering berliur: dan sekaligus menghadapi distosia janin bersitang. Tidak boleh makan jahe segar, untuk mencegah punya anak berjari enam. Hindari makan bebek agar anaknya tidak terus-terusah menggerakkan kepala seperti bebek. 
READ MORE - Memilih Hari Keberuntungan Untuk Pembuahan

adat Istiadat dalam Memohon Anak





Menurut tradisi China, melanjutkan garis keturunan itu sangat penting. Maka, memohon anak adalah cerminan keinginan seseorang untuk melanjutkan garis keturunan. Pada masa lalu, orang percaya bahwa semakin banyak anak, semakin banyak rezeki.
Memiliki anak menyiratkan tidak kekurangan penerus Maka, rakyat jelata sangat menantikan kehamilan. dari hal inilah kebiasaan memohon pada dewa dan-praktik lainnya bermula. Memohon Anak pada Dewa Lokal Di daerah Zhao provinsi Hebei, ada kebiasaan memuja "Pelat Naga"  Kata-kata "pelat roh Naga menguasai langit dan bumf, tiga alam, dan 10 arah ruang " diukir pada altar kayu tinggi. Mereka yang ingin memohon anak hanya perlu membakar hio, memberikan persem-bahan, dan berkata dengan khidmat, "Berikan saya seorang bayi". Bila ditanya perlu bayi lelaki atau perem-puan, mereka harus membungkuk dan meminta bayi lelaki. Mereka kemudian berjanji untuk kembali tahun berikutnya untuk berterima kasih pada dewa yang mengabulkan doa mereka. Ada kebiasaan lain. Orang yang berdoa motion anak diminta mengikat koin dengan benang katun biru dan menyangkutkannya ke "Pelat Naga" dengan hio. Orang itu harus berkata pelan, "Anakku, pulang-lah denganku". Sewaktu-waktu, seorang wanita tua akan memberikan kertas pembungkus kuning orang itu.  Ia kemudian menggunakan kertas itu untuk membungkus koin tembaga di tangannya dan kembali pulang tanpa mengucapkan apa pun. Bungkusan itu diletakkan di bawah tempat tidurnya. Menurut tra-disi, ini akan memberikan bayi sehat pada pasangan itu tahun berikutnya.
Memohon Anak pada Alam Orang China telah memuja alam sejak lama. Bagi orang China primitif, batu memiliki spiritualitas dan kare-nanya mereka memuja batu. 

Gunung Tai sudah lama terkenal sebagai tempat untuk memohon anak. Karenanya, banyak orang mendaki kuil leluhur di pun-
cak dan berdoa pada Bixia. Huruf China untuk `damai' dalam Simbol Ramalan berarti `semua alam lahir dalam langit dan bumi'. Maka, Bixia dianggap sebagai dewi  yang menganugerahkan anak pada pasangan. memohon Anak pada Lampu pi China, orang desa juga memohon anak selama Festival Lampion (hari ke-15 bulan pertama). Selama Dinasti Jin Utara, rakyat biasa menggunakan lampu untuk menyusun frasa bagus seperti  dalam damai' dan `menghasilkan panen baik'. Pada malam ke-16, ribuan lampu akan dipadamkan dan hanya satu yang masih menyala dan disebut lampu keturunan' . Orang yang memohon anak akan membawa lampu itu pulang dan menaruhnya di depan Dewa Dapur. Pasangan itu akan bergantian menjaga lampu menyala sepanjang malam. Upacara `mengem-balikan lampu' akan diselenggarakan pada tahur berikutnya, bila sang istri melahirkan seorang putra Menurut cerita rakyat, huruf China untuk lampu dan  anak sama bunyinya, maka kata China untuk `anak' dihubungkan dengan lampu'. Memohon Anak pada Hiasan Orang China bahkan percaya bahwa orang akan Punya anak bila memakai banyak aksesori. Di beberapa tempat, orang saling menukar ikat pinggang dengan milik wanita hamil karena mereka percaya bahwa penularan keibuan akan terjadi. Menurut suatu cerita, di bendera Tao terdapat kata seperti `beruntung', (umur panjang', dan lekayaan'. Orang bisa diam-diam memotong kata itu dan memakainya hingga keinginan mereka tercapai. Konon, selama masa kaisar Wu dari Dinasti Liang sejenis pria' (M4-1) dibuat. Wanita yang ingin punya anak harus memakainya. Cerita lain adalah selama masa Tiga Kerajaan,  dari negara bagian Wei mengarang puisi "Pujian pada Bunga Jantan". Bunga jantan merujuk pada bunga bakung. Orang kuno percaya bahwa jeni bunga ini akan membawa keberuntungan pada mereka Yang ingin punya anak.

Yang menguasai keberuntungan janin
 Dewa Janin diciptakan karena takhayul rakyat. Dulu, orang tidak mengerti bagaimana janin terbentuk, dan mereka membayangkan bahwa itu adalah akibat roh manusia super. Lama-kelamaan. imajinasi dan takhayul memunculkan gambaran nyata Dewa Janin.
Dewa ini konon seseorang yang dihormati dan ditakuti. Rakyat percaya bahwa is bisa melindungi atau membahayakan anak yang belum lahir. Karenanya, rakyat harus menghormatinya. Bila terjadi pelanggaran, bayinya akan sulit dilahirkan, tersangkut, atau cacat alat kelamin.

Rakyat percaya bahwa lokasi dewa ini berbeda dari waktu ke waktu, bergantung di mana bayi dikandung. Maka, ada tabu yang dikaitkan dengan dewa ini dan wanita harus sangat berhati-hati ketika hamil.
READ MORE - adat Istiadat dalam Memohon Anak

Tabu Perceraian dan Pernikahan Kembali




Pada zaman kuno, orang biasanya menganggap bahwa perceraian dan pernikahan kembali sangat tidak bermoral dan sial. Biasanya, mereka mengadakan upacara untuk mengusir roh  jahat dan kemalangan yang dibawa oleh pernikahan yang tidak berhasil. Wanita harus menanggung kesalahan dan ini mencerminkan bagaimana masyarakat menilai pria lebih dari wanita.
Orang Han China dan kelompok etnis lain mencoba menghindari pernikahan yang gagal dan perpisahan antara suami istri. Bagi mereka, suami istri adalah mitra seumur hidup. Perceraian biasanya dianggap sial dan harus dihindari. Biasanya mereka yang mencoba menikah kembali pasti mengalami pernikah-an gagal sebelumnya. Karenanya, mereka sangat teliti tentang pernikahan kedua untuk menghindari terjadi-nya kembali ketikdakbahagiaan berulang. Mengusir Roh Jahat dengan Perceraian Menurut adat pernikahan tradisional China, per-ceraian bisa mengusir roh jahat. Di Taiwan, perceraian adalah tabu, tapi bila tidak bisa dihindari, suami harus menulis surat pada istri mengumumkan perceraian mereka. Ini harus dilakukan di rumah atau kuil telan-tar untuk menghindari pengaruh jahat. Ada pepatah yang mengatakan `tempat yang digunakan untuk me-lepaskan istrinya tidak akan subur selama tiga tahun'. Bila perceraian terjadi, suku minoritas akan menyelenggarakan upacara resmi mengusir kesiaialan. Suku Daur akan melakukan pria akan diminta berbaring di tanah sedangkan di wanita melompat di atas lehernya. 

Kemudian, sehelai kain putih akan digunakan untuk mengikat kompor dan cerobong rumah pria itu untuk melambangkan bahwa si suami mad dan untuk mengusir semua yang jahat. Di masa lalu, pria di provinsi Yunnan harus mem-beri sejumlah uang pada mertuanya sebagai bentuk `pengeluaran untuk menutupi rasa malu'  bila is menarik kata-katanya. Setelah itu, perjamuan akan diselenggarakan untuk keluarga si istri. Dengan segala kegiatan tersebut, semua rasa malu dan kesialan terkait perceraian akan dihapuskan seluruhnya. Sementara itu, sertifikat perceraian' akan dibakar menjadi debu.  Bentuk unik upacara perceraian diambil dari banyak

minoritas seperti Lahu, Dai, Yao dan Blang, mereka akan membakar benang sutra, membagi keping kayu menjadi dua, mengukir garis pemisah pada dinding beton, atau memotong kain putih menjadi dua. menikah Kembali untuk Mengusir Roh Jahat, hanya pria yang boleh menikah kembali. Katanya: "Pria wajib menikah lagi, tapi wanita tidak berhak atas kesempatan kedua." Ketika pria menikah 14, biasanya itu karena menginginkan anak. Bila ia sudah punya anak, maka pernikahan kembali harus di-kritik. Menurut Ringkasan Etiket dan Kebiasaan China: "Tidak benar bagi seseorang untuk mengambil selir bila ia sudah punya anak. Semakin banyak anggota keluarga seseorang, semakin banyak konflik yang harus dihadapi. Ini bukan cara benar untuk mengurus keluarga." Di China, kebanyakan pria menghindari menikahi seorang janda karena mereka percaya rohs uaminya akan selalu menghantuinya. Juga dipercaya rahwa orang harus terus berjuang untuk wanita itu di dunia lain dengan suami pertamanya.

Tetapi, bila pria menikahi janda karena istrinya mati, dianggap kedua °rang ini bernasib sama. Di masa lalu, ketika seorang janda menikah lagi, krbagai kebiasaan untuk mengusir roh jahat harus di-ikuti. Di Jianxi dan Henan, janda tidak diperkenankan mcnggunakan pintu masuk utama. Di Taiwan, janda Fang menikah lagi dilarang naik tandu dari rumah orangtuanya. Ia diminta berjalan beberapa jauh dan membuang sepotong baju sehari-harinya sebelum naik tandu. Konon, dengan melakukan hal itu, jiwa almarhum suaminya tidak akan mengikutinya ke nanah baru.

Mengapa Istri Jugs Disebut 'Wanita Tua' atau Lao Po
Selama Dinasti Tang, seorang sarjana bernama Mai Aixin berpikir untuk mendapatkan istri baru, tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginannya. Tiba-tiba ia mendapat inspirasi dan menulis baris pertama sebuah syair dan menaruhnya di meja: "Sisa tanaman teratai akan menghasilkan akar teratai tua setelah daunnya gugur". Dalam bahasa China, istilah "akar teratai"  sama bunyinya dengan 'jodoh'. Istrinya membaca syair ini dan mengerti, la langsung menulis bads kedua: "meskipun batang padi menguning ketika masak. is menjadi nasi (beras) setelah dimasak". Dalam bahasa China, kata 'beras' sama bunyinya dengan. Baris pertama dan kedua sangat cocok.

Mai Aixin sangat terkesan. la sangat menyesal dan tidak lagi memikirkan mencari jodoh baru. Ketika istri Mai menyadari hal ini, is menulis frasa "lao gong (orang tua) benar-benar adil padaku". Sebagai balasannya, Mai menulis "lao po (wanita tua) sangat perhatian". Sejak itu, orang menyebut istri  sebagai lao po dan suami sebagai lao gong.
READ MORE - Tabu Perceraian dan Pernikahan Kembali

Adat Pernikahan yang Tidak Biasa




Pada zaman feodal,  adat pernikahan yang tidak biasa seperti `mengatur pernikahan untuk orang yang sekarat dengan tujuan mengusir setan dan penyakit'  dan `pernikahan almarhum' atau `pernikahan hantu' dipraktikkan. Adat pernikahan ini umumnya karena takhayul. Tetapi, bisa dikatakan tindakan tersebut dilakukan sebagai cara mengatasi tragedi.
Pernikahan dianggap peristiwa penting dalam hidup.  Karenanya, berbagai adat pernikahan tradisional diterapkan oleh komunitas lokal di berbagai tempat di China. Bahkan sekarang, beberapa daerah pedesaan di China masih mempraktikkan beberapa adat pernikahan tidak biasa.
Mengatur Pernikahan untuk yang Sedang Sekarat Dulu, bila seseorang dalam keluarga sakit berat, hal pertama yang dipikirkan adalah mengurus pernikahan bagi orang itu dengan tujuan mengusir setan clan penyakit. Bila pengantin pria atau anggota keluarga yang tua ternyata sakit keras, adat pernikahan tidak biasa akan dilakukan untuk mengatasi tragedi. Dikatakan bahwa lebahagiaan luar biasa akan mengusir bencana. Maka, orang percaya tindakan tersebut akan membantu yang sakit bisa sembuh. Tidak ada hari baik yang dipilih dalam keadaan ini. Upacaranya juga sederhana. Bila tunangannya tidak bangun dari tempat tidur, maka mempelai wanita harus  bangunmelaksanakan upacara pernikahan formal dengan seekor  sayam jantan.  Bila anggota keluarga yang sakit,  maka ruang duka harus ditutupi kain merah.  Orang kuno percaya bahwa bila orang jatuh sakit untuk waktu yang lama, pasti itu pekerjaan setan. Mereka juga percaya bahwa siluman penyakit bisa diusir hanya dengan kemeriahan dan musik dari upacara pernikahan. Karena kegembiraan meningkatkan se-mangat, orang cenderung percaya pada kekuatan magisnya.
Dulu, adat mengatur pernikahan untuk orang  orang sakit serius cukup populer di China, khususnya di pi Shaoxing, ada adat yang disebut `menikah buru-buru. Kebanyakan adat pernikahan tidak berakhir positif. Bagi sebagian orang, tujuan adat ini adalah menghemat biaya, yakni menyelenggarakan pemakaman dan pernikahan secara bersamaan. lni khususnya berlaku untuk orang miskin.  orang kaya, mereka mempraktikkan adat ini dengan menghindari ritual perkabungan, yakni, tidak ada pernikahan dalam periode tiga tahun sejak pemakaman.

pernikahan Almarhum
 Pernikahan almarhum adalah bentuk takhayul dari 'upacara pernikahan' untuk yang telah meninggal. Ini terjadi ketika pasangan muda meninggal dan keluarga mereka memutuskan untuk memindahkan kuburan yang mati, sehingga keduanya bisa dikuburkan bersama. Ini biasanya dilaksanakan dua hari sebelum Perayaan Chengbeng. Pertama-tama, hari penting harus dipilih oleh ahli fengshui untuk memecah tanah. Begitu peti mati Pengantin wanita diangkat, seember air bersih dengan dua apel dilempar ke lubang, dan uang kertas di bagikan dan kemudian diletakkan.

 Kisah Pernikahan Almarhum Cao Chong
Dulu, bukan hanya rakyat jelata yang mengikuti adat istiadat, penguasa pun menyetujui pernikahan almarhum.
Cao Chong  adalah putra dari panglima perang Dinasti Han Cao Cao. Ketika Cao Chong wafat pada usia 13, Cao Cao yang sedih menjodohkannya dengan almarhumah nona Zhen dan menguburkan mereka bersama. lni adalah salah satu contoh paling terkenal dari pernikahan almarhum.
Konon kepopuleran pernikahan almarhum berkaitan dengan peristiwa ini. Maka, dipercaya bahwa kalau belum dilaksanakan pernikahan bagi almarhum yang belum menikah, rob mereka akan tidak tenang. Dengan alasan ini. pernikahan almarhum biasanya diterima rakyat pada zaman feodal.


READ MORE - Adat Pernikahan yang Tidak Biasa

Hari Keberuntungan untuk Kegiatan Seksual




Karena kegiatan seksual meliputi reproduksi, hal ini sangat dihargai. Tetapi, orang kuno percaya bahwa roman bisa merugikan manusia bila tidak dikendalikan. Kegiatan tersebut, bila berlebihan, akan berakibat buruk. Maka untuk alasan kesehatan, tabu dibuat untuk mendisiplinkan diri sendiri.

Fang shi merujuk pada perilaku seksual dari kehidupan seksual. Pernikahan mengesahkan hubungan seksual antara dua orang, sedangkan tabu digunakan bagai petunjuk untuk mengendalikan kegiatan seksual: bagi pria dan wanita. Menikahi seseorang dengan nama marga sama tidak dianjurkan. Ini untuk mencegah kelompok orang tertentu membangun hubungan sek sual yang tidak biasa. Dikatakan bila orang melangga aturan ini, seluruh penduduk desa akan dihukum oleh hantu dan dewa, dan akan menemui bencana seperti kekeringan atau banjir. Kegiatan Seksual Sedang Ge Hong , alkemis terkenal dart Dinasti lin, pernah berkata: "Sulit bagi manusia menahan diri dari kegiatan seksual. Kalau tidak, frustrasi dan penyakit akan muncul dan mengakibatkan hidup yang lebih pendek." Orang kuno percaya bahwa normal bagi pria dan wanita sehat untuk melakukan kegiatan seksual. Tetapi, mereka menganjurkan kegiatan seksual sedang. Kegiatan seksual berlebihan, menurut mereka, akan mengakibatkan umur pendek. Etiket dan ketentuan terkait kegiatan seksual harus ditaati. Untuk menunjukkan hormat bagi para dewa, kegiatan seksual dilarang dilakukan di tempat seperti aula leluhur, kuil, klenteng, sumur, kompor, kuburan, ruang persemayaman, dan tempat pemujaan lain. Bila dewa-dewa tersinggung, ini akan mengundang bencana. Juga tabu unruk melakukan kegiatan seksual selama gerhana bulan dan matahari, gempa bumi, badai guntur, angin ibut, dan hujan deras, banjir, kekeringan, dan keadaan lam yang buruk lain, karena ini dianggap tidak hormat ada hantu dan dewa-dewa. Orang juga percaya bahwa telakukan kegiatan seksual di ruang terbuka adalah ridakan menghina dewa. Pelanggaran aturan ini akan enyebabkan kemarahan Langit. Selain itu, ada banyak tabu seksual lain. Orang harus menghindari kegiatan seksual ketika merasa emosional, 

kesal atau marah, atau dengan perut kosong, bisa merusak organ dalam. Bila ada retak tulang tidak boleh berkegiatan seksual selama 100 hari. Beberapa peringatan atas kendali diri ini untuk menahan diri dari seks berlebih an.

Tabu Perselingkuhan


orang kuno menganggap perselingkuhan sebagai tabu. tindakan tidak etis meliputi seks sebelum nikah dan perselingkuhan. Selama Dinasti Han, ditetapkan bahwa pengantin wanita harus perawan dan `tes keperawanan' bahkan dilakukan. Sedangkan, pria yang menunjukkan perilaku tidak bermoral dihukum dengan tidak begitu keras. Yang mengagetkan, beberapa minoritas etnis di China tidak melarang seks sebelum nikah. Sebaliknya, mereka bahkan menyediakan tempat umum untuk hal tersebut. Tetapi, bila wanita itu ternyata hamil, pasang-an itu kemudian harus menikah. Kalau tidak, mereka akan menghadapi kritik publik dan dihukum. Ada pepatah: "Berjudi seperti mencuri, per-zinahan haram seperti membunuh." Juga dikatakan: kecurangan akan muncul melalui perjudian, tragedi akan muncul ketika tenggelam dalam asusila. ' Maka, orang tua menganggap lekotoran adalah yang terbu-ruk dari semua tindakan Konon orang akar mengundang bencana bila is terlibat dalam perseling kuhan. Banyak kisah menyatakan bila orang melakuka `hubungan haram' dengan istri atau anak orang lain, akan menderita nasib yang sama. Maka, bila ada yang tertangkap melakukan perzinahan, ia akan dikenai hukuman berat dari publik. 

Legenda Menangisi Pengantin wanita

Pada zaman kuno, pengantin wanita akan menangis selama upacara pernikahan. lni tampak tidak biasa karena pemikahan biasanya peristiwa bahagia. 

Suatu hari, ada ibu tiri yang tidak suka pada putrinya, maka ia cepat-cepat mencarikannya suami. Pada hari pernikahan, ia terus menangis dan berkata: "Sayang, begitu kau meninggalkan rumah ini, jangan kembali lagi." Putri itu tahu bahwa ibu tirinya mengutuknya. dan karenanya ia menangis dan berkata: "Ya, ibu, saya akan pergi segera dalam tandu pengantin, tapi akan kembali dengan kereta besar. Dan dengan berkat kilin, saya akan kembali dengan bayi lelaki." Setelah menikah, ia hidup harmonis dengan suaminya dan mertuanya. Lalu, ia melahirkan anak lelaki yang sehat. 

Kemudian, si ibu tiri mencarikan suami untuk putri kandungnya. Ibu ini memberkati anaknya dengan kata-kata yang bagus. Setelah menikah, putri ini selalu bertengkar dengan ibu mertua dan suaminya. Akhirnya pernikahan mereka hancur. Itulah sebabnya orang percaya bahwa menangisi mempelai lebih beruntung daripada yang dengan senyuman. Akibatnya, ini menjadi kebiasaan bahwa mempelai wanita harus menangis pada hari pemikahannya.


READ MORE - Hari Keberuntungan untuk Kegiatan Seksual

Tabu Setelah Pernikahan


Fenomena  menghormati pria dan mendiskriminasi wanita berpengaruh luas pada adat pernikahan. Harapan ditimpakan pada pengantin wanita untuk menjadi keluarga harmonis dan generasi yang sehat. Namun, ada juga ketakutan bahwa ia akan membawa nasib buruk. Maka, banyak aturan dan tabu diperkenalkan untuk membatasi gerakannya.

Biasanya, orang mengira pernikahan akan berakhir setelah pengantin baru dikirim ke kamar pengantin Ini tidak benar karena ritual pernikahan baru berakhir setelah pasangan mengunjungi orangtua pengantin wanita pada hari ketiga setelah upacara pernikahan. Tabu Setelah Pernikahan Di Leizhou, provinsi Guangdong, pengan-tin wanita hanya diizinkan makan setengah mangkuk nasi ketika ia kembali mengunjungi orangtuanya pada hari ketiga setelah pernikahan. Meninggalkan setengah mangkuk melambangkan bahwa pengantin itu hemat. Di Jinan, Shandong, pengantin wanita akan makan `mi mengangkat kepala' karena dipercaya dengan melakukan hal itu, keluarga pengan-tin pria tidak akan memandang rendah dirinya. Ibu pengantin wanita juga harus meninggalkan satu atau dua  mi, beberapa kue daging, dan sepanci bubur yang cukup untuk putrinya makan selama tiga hari. Di daerah Qian di Shaanxi, orang mempraktikkan adat, tapi sekarang, nasi diganti oleh mi. Mangkuk pertama adalah untuk pengantin wanita, dan ia akan mengambil  suapan pertama dari mangkuk kedua  sebelum memberi sisanya pada suaminva. Ini menyiratkan bahwa `suaminya se lalu ada dalam pikirannya dan ia siap melalui susah dan senang bersamanya. Penduduk lokal menyebutnya 'makan harmonis' . Selama tiga hari pertama, pengantin tidak boleh meninggalkan panggung tidur panjang tradision yang terbuat dari bata atau bentuk tanah liat  lainnya. Kalau tidak, ini akan dianggap sebagai hinaan bagi dewa-dewa. Tidak mematuhi aturan akan mengundang bencana. Di masa lalu, pengantin Han China dilarang memasak selama tiga hari pertama Pengantin dilarang melakukan sesuatu karma di watirkan bahwa ia penuh dengan roh jahat . Pengantin wanita juga dilarang melakukan ke-giatan di luar rumah selama periode ini. Di beberapa orang, pengantin baru dilarang menonton opera  boneka selama empat bulan pernikahan.Ini memastikan agar mereka tidak dihantui oleh roh dan akhirnya melahirkan anak cacat. 

Tabu ketika Mengunjungi Orangtua Pengantin pada Hari Ketiga 
Kembali mengunjungi orangtua pengantin wanita pada hari ketiga setelah pernikahan juga dikenal sebagai 'pulang ke rumah'. Pasti, ada tabu yang harus dipatuhi. Misalnya, pengantin wanita diizinkan pulang ke rumah orangtuanya pada waktu yang sesuai. Kalau tidak, akan terjadi peris-tiwa sial. Di Henan, tabu bagi pengantin untuk mengunjungi orangtuanya pada hari pertama dan bulan pertama. Pada hari pertama, pengantin diharapkan merayakan Tahun Baru dengan keluarga  suaminya.  Karena hari ke-15 bulan pertama adalah bulan purnama pertama, pengantin wanita harus ada di onah suaminya. Maka, pengantin hanya bisa kembali mengunjungi orangtuanya pada hari kedua atau ke-16  bulan pertama. Dengan pengaturan ini, pengantin wanita akan merayakan reuni dengan kedua keluarga. Di Zhejiang, tabu bagi pengantin untuk kembali dan mengunjungi orangtuanya selama Perayaan Titik Balik Musim Dingin. Konon, melakukan hal ini akan menyebabkan kematian orangtua suami. Di Jiangsu, adat yang sama dipraktikkan untuk alasan berbeda. Ini dipercaya menyebabkan kejatuhan keluarga wanita. Maka, pengantin wanita di Shaanxi utara akan kembali dan mengunjungi orangtuanya di pertengahan bulan keenam kalender bulan. Ini dilakukan untuk mem-perkuat hubungan di antara para besan.

Tabu
Konon. para besan hanya saling rnenghubungi satu bulan setelah pernikahan. Pengantin wanita diizinkan bermalam ketika mengunjungi orangtuanya. Tetapi, lama kunjungannya panting. Biasanya bila pengantin kembali pada hari kedetapan setelah pernikahan dia boleh tinggal di rumah orangtuanya selama detapan hari. Prinsip yang sama berlaku bila ia kembali pada hari kesembilan. Lama tinggal maksimum tidak boleh lebih dari sebulan. Meskipun demikian. juga tabu bila pengantin tinggal selama detapan hari. Konon 'tinggal tujuh, bukan detapan; katau tidak. keluarga pengantin wanita akan menjadi miskin'.

Pengantin baru Han China dan Manchu tidak diizinkan tidur sekamar ketika kembali mengunjungi orangtua pengantin wanita pada hari ketiga pemikahan. Tetapi. orang Manchu mengizinkan menantu lelakinya tinggal di kang, yang terIetak di banal, sedangkan tamu Iainnya bermalam di lokasi lain. Selanjutnya, karena kedua keluarga berasal dari akar berbeda dan tidak berhubungan darah, dianggap tidak pantas bagi pasangan untuk melakukan kegiatan seksual di rumah keluarga mempelai pria. Bila pengantin mengandung ketika tinggal di rumah orangtuanya, konon keluarganya akan kehilangan semua kekayaannya.
READ MORE - Tabu Setelah Pernikahan

Adat Istiadat Pernikahan

Pernikahan selalu dianggap peristiwa penting dengan makna seumur hidup. Karenanya, upacara pernikahan dan adat pemberkatan penting dalam setiap pernikahan. Mereka melambangkan harmoni, keberlangsungan generasi, kekayaan, dan umur panjang dari kedua mempelai. 

Dulu, alasan utarna menyelenggarakan upacara perni_ kahan adalah untuk mcmohon anak. Karcnanya, orang berdua untuk nasib baik dan untuk mengusir yang jahat. Adat "Menemui Pengantin" Memeriksa dan mengasapi tandu pengantin. begitu tanggal dan waktu bagus ditetap-kan, pemukulan gong dan tambur dilakukan saat tandu pengantin berangkat. Sepasang orang tua, yang telah menjalani kehidupan pernikahan bahagia dan punya banyak cucu akan diminta untuk menyucikan upacara. Pasangan sepuh itu akan memegang cermin dan Jilin untuk melaksanakan `pemeriksaan' tandu pengantin sebelum melepasnya. Pada waktu yang sama, mereka juga membakar sebuah hio khusus man zhixi-ang dan menggunakannya untuk mengasapi tandu. Ini dilakukan untuk mengusir roh jahat dan memastikan perjalanan yang lancar. Menggendong pengantin: pada masa lalu, pengantin tidak diizinkan berjalan sendiri ke tandu dan seseorang di keluarganya harus menggendongnya Di selatan, ayahnya atau kakaknya 

harus melakukan-nya. Kalau tidak, maka paman (adik ayahnya) atau bibi (adik ibu) harus melakukannya. Ini dilakukan untuk menghindarkan pengantin membawa tanah dari rumah orangtuanya, karena orang percaya bahwa `semua makhluk hidup perlu tanah untuk tumbuh, dan bumi bisa menghasilkan emas'. Di Sichuan dan Hunan, kakak atau sepupu pengan-tin prig harus menggendong pengantin wanita ke tandunya. Konon bila pengan-tin wanita digendong oleh kakak ipar, is akan berlidah perak. Tak seorang pun dalam keluarga suaminya akan berani  mengganggunya nanti. Melangkahi sadel  pengantin wanita memegang botol di tangannya dan melangkahi sadel yang ditempatkan di rumah pengantin pria. Ini bermakna ke-jamatan karena kata China untuk botol dan `sadel sarna dengan kata untuk `damai'. Beberapa orang mempraktikkan adat `rnelangkahi api'. Setumpuk rumput dinyalakan di luar rumah pengantin pria, dan pengantin wanita harus berjalan melangkahi api. Sementara itu, orang yang menyalakan api harus mengatakan kata-kata yang bagus. Adat Pernikahan untuk Membawa Keberuntungan Menyebarkan sekitar kanopi  Ini adalah adat umum yang dipraktikkan hampir semua kelompok etnis di China. Pada malam pernikahan, setelah pe-ngantin baru saling menghormat di kamar pengantin, pengantin pria dan wanita akan duduk di sisi kanan dan kiri ranjang dengan kanopi setengah terbuka. Seorang wanita akan diminta memegang nampan penuh kacang dan buah dan menyanyikan lagu `Menyebar sekitar canopi'. Ia akan menyebar secara cak isi nampan di sekitar ranjang dan pada pengantin baru. Ini menandai akhir upacara pernikahan. `Menyebarkan sekitar ranjang' memiliki makna berbeda. 

Ada yang mengatakan ini dilakukan untuk menyuap hantu dengan kambing hijau' ayam hitam, dan `sapi hijau, sehingga mereka, tidak bisa mencelakai orang. Makna penting kebiasaan ini adalah memohonkan seorang bayi bagi pengantin baru. Di Huzhou di Zhejiang, lirik lagu mengatakan: "Pengantin wanita seperti bunga, bunga yang baik biasanya membawa benih baik, maka kilin akan memberi anak ke rumahmu." Ini nienjelaskan makna frasa tersebut. Sekarang, pengantin 'Para akan ditaburi dengan kertas hias. Orang kuno percaya kawat baja itu nemiliki kekuatan spiritual yang bisa menghalau roh jahat dan ini adalah bintang beruntung. Maka, bila digunakan untuk mengangkat cadar pengantin, ia akan memberkati  pasangan itu.

Asal Usul 'Menyebarkan Sekitar Kanopi" 
Menurut Catatan We Chen, adat `menyebarkan sekitar kanopi' berasal dari ma'am pernikahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han Barat. Untuk memastikan jabatan tinggi, Li Yannian yang berstatus rendah mengatur agar adiknya menikahi kaisar. Sebagai rakyat jelata, adik Li tidak berhak atas upacara besar formal. Li merasa matu. Maka. pada ma'am pernikahan, Li berlutut di hadapan kaisar dan meminta buah-buahan disebar untuk menghatau yang jahat. Ketika kaisar dan adik Li duduk di depan ranjang, Li menyanyi dan menari. Sementara itu, tamu-tamu muiai melemparkan kurma dan kastanya pada pengantin baru sambil mengharapkan bayi bagi pasangan tersebut. Adik Li kemudian melahirkan pangeran dan mendapatkan statusnya yang Layak. 



READ MORE - Adat Istiadat Pernikahan

Tabu ketika Menerima Pengantin



Hari menerima pengantin adakah hari huruf merah. Maka, rakyat menganggapnya sebagai hari petanda baik. 

Ada pepatah mengatakan: "Bila hambatan disingkirkan sejak awal, seterusnya semua akan lancar." Singkatnya. dipercaya bahwa awal yang baik akan berkaitan dengati akhir yang baik. Orang menganggap `menjemput mempelai' adalah awal yin dan yang untuk pasangan baru menikah. Maka, tabu untuk hari itu sangat banyak. Tabu Rute untuk `Menerima Pengantin' Di Shaanxi, rute yang sama tidak boleh diambil ke-tika menjemput pengantin. Orang di daerah Qixian biasanya memasuki xuanwu dari utara dan me-ninggalkan zhuque dari selatan. Atau, mereka bisa memasuki baihu  dari barat dan meninggal-kan qinlong dari timur. Selain itu, karpet atau kain merah dihamparkan untuk pengantin melangkah ketika masuk dan keluar tandu. Kain yang sama digu-nakan sebagai penutup jendela tandu pengantin ketika melewati kuil, sumur, atau penggilingan. Ini untuk mencegah `macan putih' dan roh jahat lain mengganggu pengantin. Kalau ada rombongan perni-kahan lain, kedua pihak harus bertukar jarum dan sapu tangan untuk menghindari `bencana pengantin'. Umumnya, kelompok etnis Bai  akan memukul gong dan tambur di jalan untuk menemui pengantin wanita. Bagi orang di  Shennongjia di Hubei  mereka akan memukul tam-bur dan menyalakan kembang api di tengah malam. Katanya ini untuk menakuti hewan liar dan juga menghalau roh jahat. Di kota modern, kebiasaan kuno men-emui pengantin masih dilakukan meskipun ada perubahan. Yang pertama adalah tidak boleti menggunakan rute yang sama ketika bertemu pengantin, dan ini termasuk rute untuk tempat pernikahan. Kedua, jalan yang rata dan luas dipilih untuk menyiratkan ke-hidupan pernikahan yang lancar. Dalam 

Perjalanan menjemput pengantin, rute dengan pemandangan kota harus diper-timbangkan untuk kepentingan fotografi. Akhirnya, kebiasaan untuk memilih rute dengan lampu lalu lintas lebih sedikit untuk mernastikan perjalanan yang lancar dan menghindari kemacetan lalu lintas dan kecelakaan. 

Tabu Prosesi Pernikahan Di China, prosesi pernikahan tertentu harus diikuti. Tidak boleh ada janda atau wanita hamil muncul dalam prosesi pernikahan. Di Teluk Bohai, dipercaya bahwa hanya ayah yang boleh mengantar putrinya. Ibu pengantin wanita, paman, dan bibinya tidak boleh ikut dalam prosesi. Untuk mencegah roh jahat, wanita dianjurkan tidak mengikuti prosesi pernikahan. Alasannya adalah wanita dianggap berhati lemah dan emosional. Bila mereka menangis, akan buruk untuk pernikahan. Dengan kehadiran wanita hamil, orang mungkin akan meragukan kesetiaan pengantin. Para janda akan menimbulkan emosi negatif. Sering kali tabu rakyat berasal dari kesukaan dan ketidaksukaan pribadi. Di Henan, Shandong, Shanxi, Hunan, Yunnan, dan Taiwan, kebanyakan orang percaya bahwa adalah "baik menghindarkan dua kelompok `menemui pengan-tin' muncul bersamaan. Tetapi, tak seorang pun bisa menghindari kejadian di mana banyak orang memilih hari keberuntungan yang sama untuk menikah. Untuk mengubah bencana menjadi berkat, disarankan kedua pihak saling bertukar cincin emas yang dipakai oleh mempelai. Bila tidak, maka anggota kelompok bisa bet-tukar saputangan atau handuk. Di Taiwan, bila situasi ini muncul, kedua rombongan akan bertukar hiasan bunga yang diambil dari rambut pengantin. Ini dilakukan untuk mengusir roh jahat. 

Tabu ketika Menghormat Langit dan Bumi

Pengantin pria dan wanita menghormat pada langit, bumi, dan teluhur sebagai rutinitas dalam pernikahan tradisional China. Biasanya, upacara ini dilangsungkan di aula rumah pengantin pria, di mana ada meja persembahan. Anak-anak, mereka yang berkabung, dan pasangan menikah yang tidak punya anak harus menghindari memasuki aula ini. Alasannya adalah bila anak-anak menangis dalam upacara, suasananya akan terganggu. 
Menurut rakyat suku Elunchun, janda dan mereka yang shionya bertentangan harus dihindari. Misainya, shio pengantin wanita adalah babi, maka yang bershio macan harus dihindari. Prinsip yang sama juga berlaku bagi mereka yang bershio kelinci atau anjing. 



READ MORE - Tabu ketika Menerima Pengantin

Desain Gaun Pengantin



Zaman dulu, menikah dianggap titik batik penting bagi wanita dan merupakan satu-satunya cara bagi mereka untuk memperoleh hidup yang terberkati. Maka, semua wanita harus menguasai seni menjahit sejak muda, sehingga mereka bisa menjahit baju pengantin mereka sendiri. Dengan demikian, wanita `rnenjahit' visi dan harapannya untuk masa depannya. 



Pakaian pengantin tidak hanya membuat pengantin terlihat anggun, tapi juga melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Secara tradisional, pengantin wanita di China akan memakai hiasan kepala phoenix, dihiasi benang merah, dan memakai kemeja sutra merah dengan jubah merah bersulam dan jaket. Pengantin juga akan memakai pita leher, menggantungkan cermin penampak siluman di depan dadanya, penutup bahu merah muda, membawa kan-tong leturunan', memakai gelang, kalung, dan sepatu merah bersulam. 

Seni Pakaian Pernikahan Pengantin biasanya memakai pakaian baru untuk melambangkan status `baru menikah'. Bila pengantin memakai pakaian lama, orang akan menganggapnya tidak beruntung dan bahkan meragukan kesetiaannya. Dulu, di daerah Jingjian di provinsi Jiangsu, pakaian pengantin sangat sederhana. Pengantin hanya memakai pakaian tenunan sendiri yang biasa dikenal sebagai `pakaian daster'. Menurut legenda, ketika jenderal Dinasti Song, Yue Fei dipanggil ke ibu kota setelah pertempuran perbatasan-nya, is memerintahkan keturunan daripengikutnya untuk menikah di Jingjiang. Karena orang-orang ini berada di medan perang bertahun-tahun, mereka tidak bisa membuat pakaian pengantin yang pantas. Maka, pengantin wanita memakai pakaian sederhana untuk pernikahan mereka. Di Shandong, pengantin diharapkan memakai lapisan jaket berpelapis. Ketika pengantin wanita pindah ke rumah pengantin pria pada hari pernikahan, kerabat pengantin pria akan memukul pengantin wanita di punggungnya dengan tongkat kayu. Maka, jaket ber-pelapis berfungsi untuk melindungi pengantin wanita. Mahkota dan Sepatu Phoenix Pada masa lalu, bagian paling menonjol dari pakaian pengantin wanita adalah mahkota phoenix yang melambangkan nasib baik.

Konon, kebiasaan memakai mahkota phoenix dimulai pada Dinasti song Selatan, ketika kaisar Song pertama mencoba niemberi hadiah pada gadis desa yang menyelamatkan dirinya. Karenanya, memakai mahkota phoenix berarti diberkati. Namun, mereka yang menikah kedua kalinya atau menjadi selir seseorang dilarang memakai mahkota phoenix. Di masa lalu, keterampilan menjahit pengantin wanita Han China dicerminkan dalam sepatunya. Di daerah Jinzhong, sepatu yang disulam oleh pengantin sebelum perkawinannya disebut `melihat sepatu' , kan xie). Pola sepasang delima, anggur, burung pipit, plum, bambu, dan dahlia disulam di nisi atas sepatu. Sepatu ini, dengan mahar lainnya, dikirim ke rumah pengantin pria sehari sebelum upacara pernikahan di-mulai. Ibu mertua, kakak ipar, dan tetangga kemudian diundang untuk menjadi `juri' yang akan mengomen-tari keterampilan pengatin. Tetapi, yang terpenting, mereka akan memeriksa apakah kaki pengantin yang terikat berukuran 'Tiga inci'. Ini akan me-mengaruhi status dalam keluarga dan masyarakat setelah perkawinannya.


Sepatu sulam yang dibuat pengantin pada hari perkawinannya berkualitas sangat bagus. Seni menjahit tidak sepenting desain sulaman yang harus menun-jukkan phoenix sedang bermain dengan dahlia. Tidak digunakan kain satin. Hal ini untuk menghindari tabu `menjadi yang terakhir dari garis keturunan seseorang. Di daerah Yimeng di Shandong, pengantin di-harapkan menjahit sepasang sepatu lunak terbuat d.ari kain sutra damask. Sepatu itu disebut `sepatu jalur kuning'. Pada hari pernikah-an, mereka yang maju memberi selamat bisa merobek sepatu ini dan menggunakan bahan itu untuk membuat topi bagi anak-anaknya. Dipercaya bahwa topi yang ter-boat dad sepatu akan mencegah anak berkoreng kulit kepala. 

Legenda menempelkan Kertas Merah  dI Jendela Kamar pengantin


Pada zaman dahulu, semua jendela kamar pengantin harus ditempeli kertas merah. Menurut legenda, Ratu Laut melahirkan seeker burung dengan sembilan kepala. Burung ini, meskipun jelek, memiliki bulu berwarna. Suatu hari, burung ini mendengar bahwa pengantin di kamar pengantin dianggap sebagai wanita tercantik. Merasa cemburu, is mencari sang pengantin. Tetapi, semua pintu kamar tertutup rapat. Akhirnya, burung itu menempelkan kepalanya di jendela. dan hal itu sangat menakutkan sang pengantin. membuatnya berteriak. Orang-orang memukul burung itu dengan tongkat, dan burung itu terbang keluar. Untuk mencegah kejadian ini terjadi lagi, jendela kamar pengantin diterangi obor seperti disarankan °len para tetua. Karena burung berkepala sembilan khawatir bulunya terbakar, is tidak berani mendekati jendela lagi. Kemudian, orang-Orang mengganti obor dengan kertas merah. Burung berkepala sembilan salah menyangka kertas merah sebagai obor menyala dan is tidak berani mendekati kamar. 

















READ MORE - Desain Gaun Pengantin

Kebudayaan Memilih Mahar



Untuk melindungi martabat keluarga dan memastikan status putri dalam keluarga pengantin pria, keluarga pengantin wanita akan melakukan yang terbaik untuk menyediakan mahar yang mewah bagi putrinya. Ketika pengantin pria sibuk membeli perabotan dan menghiang rumah baru, pengantin wanita akan sibuk menyiapkan mahar. pada masa lalu, mahar dikenal sebgai "pakaian pengantin" (zhuang lian) dan "hadiah pernikahan" (tiang xiang). Mulanya, ini berupa kotak perhiasan bagi wanita.

Melacak Jejak Mahar
Di China, mahar memiliki sejarah panjang, catatan menunjukan kebiasaan mempersembahkan mahar dimulai pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur, Baili Xi, ahli strategi yang membantu Adipati Mu dari Qin mengokohkan kedudukannya, adalah budak yang telah menemani Tuan Putri Jin untuk menikah di negara Qin. Pada masa itu, pernikahan anatara dua orang dengan marga berbeda dianggap berkat. Praktik umum mahar lebih marah pada masa dinasti Utara dan Selatan. Rakyat jelata bersiap memberi mahar lebih banyak agar anak perempuan mereka bisa menikah dengan orang kaya, ini adalah cara menaikan status seseorang.

Budaya Memilih Mahar
Orang sering menggunakan frasa 'sepuluh mil yang hebat' untuk menggambarkan adegan pernikahan yang hidup dan megah. Jadi, benda apa yang dimasukan dalam mahar? Mahar keluarga bangsawan biasanya berlebihan. ada properti, tanah pertanian, budak, pelayan, toko, emas, perak, perhiasan, seperabotan mahogani, perabotan antil, pakaian, satin, bulu, dan peralatan antara dua orang dengan marga berbeda dianggap berkat. Praktik umum mahar lebih marak pada masa dinasti Utara dan Selatan. Rakyat jelata adalah cara menaikan status.

    Tong kamar: juga dikenal sebagai 'tong keturunan'. Benda ini penting karena membawa makna bagus menyatakan warisan suami. Kurma merah, kacang, benih labu, lengkeng kering, dan telur setengah matang merah biasanya ditempatkan dalam tong. Ini berarti memiliki anak setelah pernikahan.

    Sepasang lilin: juga dikenal sebagai 'lampu panjang umur'  atau 'lampu penggemar'. Ini digunakan untuk mengharapkan cinta abadi bagi pasangan.

    Untuk mahar, jumlah benda harus genap, seperti dua, empat, enam, atau delapan; ini berlaku untuk lilin  dan juga peralatan tidur. Jumlah empat dan delapan mewakili 'seimbang', sedangkan 'enam' menyatakan 'berhasil dalam semua usaha'.








READ MORE - Kebudayaan Memilih Mahar

Dekorasi Ruang Pernikahan



Desain keberuntungan ditemukan di mana-mana, dalam berbagai perayaan dan peristiwa seperti sembahyang, pernikahan, dan pemakan. Mendekorasi ruang pernikahan dengan desain dan pola indah tidak hanya menghasilkan efek estetis, tapi juga menyiratkan berkat gembira.

Desaun yang Menyiratkan Kesuburan
Kilin (qilin) dianggap hewan mistis dari nasib baik. Menurut legenda, ia memberikan anak pada pasangan yang tidak punya anak. Karenanya, simbol keberuntungan ini biasanya ditemukan dalam rumah pengantin baru. Menurut legenda, ada seorang pelukis yang pernah melihat kilin menuju ke arahnya, membawa seorang bocah diatas punggungnya, ketika ia sedang melukis makhluk itu. Tidak lama kemudia istrinya hamil. Tidak heran, beberapa kelompok orang akan memberikan kertas berbentuk kilin untuk wanita yang sulit mengandung, dengan harapan mereka akan segera hamil.


    Dalam budaya China, sering ditemukan desain yang menampilkan gambar kilin menganugerahkan anak. Umumnya, mahkluk mitos ini digambarkan memiliki kepala naga, ekor singa, tubuh rusa, dengan sisik dan kaki belah. Di punggungnya, ada wanita menggendong anak montok. Selain kilin, gambaran kata juga digunakan untuk melambangkan reproduksi wanita. Bentuk perut katak menyerupai perempuan hamil dan dari sini, orang China menyimpulkan bahwa katak sangat subur.

Desain yang Menyiratkan Pernikahan Bahagia
Desain menggambarkan bebel mandarin (yuan yang) adalah hiasan umum yang ditemukan di kamar pengantin. Ini adalah maskot terbaik untuk mengharapkan kebahagiaan dan keharmonisan bagi kedua mempelai. Desain yang disebut "Bebek Mandarin dan Teratai" (yuan yang chang anl yuan yang chang), sangat populer di antara orang China.

    Gambar phoenix juga biasa ditemukan di kamar pengantin. Selimut, tirai, taplak meja, lemari lampu, yang dikenal sebagai "Phoenix Dahlia" dan "Bunga Phoenix Ganda" dapat ditemukan dengan mudah. sekarang, bahkan permen dalam kantong plastik juga dicetak dengan gambar phoenix. Ini dikenal sebagai 'permen kebahagiaan naga dan phoenix'.

    Pada zaman kuno, malam pernikahan disebut 'pasangan bagus antara naga dan phoenix'. Kenyataanya kombinasi antara naga dan phoenix secara implisit merujuk pada kegiatan bercinta. Frasa seperti "Phoenix Dahlia" dan "Semua burung kan mengejar phoenix"  mewakili keselarasan anatara yin  dan yang, juga melambangkan keberuntungan, kedamaian, dan harmoni dalam keluarga.
READ MORE - Dekorasi Ruang Pernikahan

Memilih Tanggal Pernikahan yang Bagus



Setelah pasangan berpacaran selama beberapa waktu, mereka perlu mempertimbangkan pernikahan. Maka, memilih tanggal pernikahan penting bagi pasangan dan keluarganya. Orang China kuno menganggap pernikahan sudah ditakdirkan, dan karenanya, semua faktor yang menentukan pemilihan tanggal dan waktu harus benar-benar dipatuhi. Selama masa pra-Qin Qin, dan Han, pemilihan tanggal bagus bergantung sepenuhnya pada ramalan. Kemudian, nasihat ahli tentang yin-yang dan feng shui juga dicari. Namun, banyak kontradiksi muncul. Kaisar  Wu Di dari Dinasti Han memanggil petugasnya untuk mencari nasihat tentang tanggal terbaik untuk menikah. Pandangan dan komentar dari berbagai ahli didengar dan ini menghasilkan keributan. Akhirnya, kaisar harus  membuat keputusan sendiri. Sejak saat itu, Lima Unsur adalah teori utama yang dipakai  orang untuk menghindari tabu kematian, dan ramalan Lima Unsur menjadi metode utama mencari tanggal bagus. Lama-kelamaan, tanggal bagus untuk pernikahan. Saat ini terjadi, peramal biasanya menyimpan salinan klasik  Pilihan Berbagai Keluarga.

Pemilihan Tahun Bagus
Memilih tanggal bagus untuk pernikahan sangat bergantung pada apa yang disebut 'dewa  yang bertugas'. Kalender kuno biasanya menonjolkan tanggal-tanggal sebagai 'hari ini Yuepo, yang tidak cocok untuk peristiwa apa pun' atau 'bintang keberuntungan hari ini adalah Tiande. Yuepo dan Tiande merujuk pada 'dewa yang bertugas'. Jelas, ada dewa baik dan buruk dan jadinya, pemilihan tanggal bagus bergantung pada dewa yang bertugas. Menghindari pertanda buruk (Misalnya, dewa ganas Tai Sui) harus dipatuhi. Orang kuno percaya bahwa tahun zi, wu, mao, dan you adalah tabu pernikahan. Banyak orang cepat-cepat menikah selama paruh kedua tahun 'kelinci' supaya nisa melahirkan 'bayi naga'

Pemilihan Tanggal Bagus
Banyak kebiasaan tradisional yang bisa diterapkan untuk memilih tanggal pernikahan. Misalnya, Ritual Zhou mengatakan bahwa 'bulan kedua adalah waktu terbaik bagi pria dan wanita untuk menikah'. Musim semi adalah musim terbaik untuk menikah karena selama periode ini, transfer yin dan yang juga. ada yang mengatakan bahwa Dewa Dapur tidak ada dari hari ke-24 bulan ke-12 sampai malam tahun baru. pepatah China mengatakan, "Apakah kau kaya atau miskin, paling baik mencari istri sebelum akhir tahun baru imlek".
READ MORE - Memilih Tanggal Pernikahan yang Bagus
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.