Hari Keberuntungan untuk Kegiatan Seksual




Karena kegiatan seksual meliputi reproduksi, hal ini sangat dihargai. Tetapi, orang kuno percaya bahwa roman bisa merugikan manusia bila tidak dikendalikan. Kegiatan tersebut, bila berlebihan, akan berakibat buruk. Maka untuk alasan kesehatan, tabu dibuat untuk mendisiplinkan diri sendiri.

Fang shi merujuk pada perilaku seksual dari kehidupan seksual. Pernikahan mengesahkan hubungan seksual antara dua orang, sedangkan tabu digunakan bagai petunjuk untuk mengendalikan kegiatan seksual: bagi pria dan wanita. Menikahi seseorang dengan nama marga sama tidak dianjurkan. Ini untuk mencegah kelompok orang tertentu membangun hubungan sek sual yang tidak biasa. Dikatakan bila orang melangga aturan ini, seluruh penduduk desa akan dihukum oleh hantu dan dewa, dan akan menemui bencana seperti kekeringan atau banjir. Kegiatan Seksual Sedang Ge Hong , alkemis terkenal dart Dinasti lin, pernah berkata: "Sulit bagi manusia menahan diri dari kegiatan seksual. Kalau tidak, frustrasi dan penyakit akan muncul dan mengakibatkan hidup yang lebih pendek." Orang kuno percaya bahwa normal bagi pria dan wanita sehat untuk melakukan kegiatan seksual. Tetapi, mereka menganjurkan kegiatan seksual sedang. Kegiatan seksual berlebihan, menurut mereka, akan mengakibatkan umur pendek. Etiket dan ketentuan terkait kegiatan seksual harus ditaati. Untuk menunjukkan hormat bagi para dewa, kegiatan seksual dilarang dilakukan di tempat seperti aula leluhur, kuil, klenteng, sumur, kompor, kuburan, ruang persemayaman, dan tempat pemujaan lain. Bila dewa-dewa tersinggung, ini akan mengundang bencana. Juga tabu unruk melakukan kegiatan seksual selama gerhana bulan dan matahari, gempa bumi, badai guntur, angin ibut, dan hujan deras, banjir, kekeringan, dan keadaan lam yang buruk lain, karena ini dianggap tidak hormat ada hantu dan dewa-dewa. Orang juga percaya bahwa telakukan kegiatan seksual di ruang terbuka adalah ridakan menghina dewa. Pelanggaran aturan ini akan enyebabkan kemarahan Langit. Selain itu, ada banyak tabu seksual lain. Orang harus menghindari kegiatan seksual ketika merasa emosional, 

kesal atau marah, atau dengan perut kosong, bisa merusak organ dalam. Bila ada retak tulang tidak boleh berkegiatan seksual selama 100 hari. Beberapa peringatan atas kendali diri ini untuk menahan diri dari seks berlebih an.

Tabu Perselingkuhan


orang kuno menganggap perselingkuhan sebagai tabu. tindakan tidak etis meliputi seks sebelum nikah dan perselingkuhan. Selama Dinasti Han, ditetapkan bahwa pengantin wanita harus perawan dan `tes keperawanan' bahkan dilakukan. Sedangkan, pria yang menunjukkan perilaku tidak bermoral dihukum dengan tidak begitu keras. Yang mengagetkan, beberapa minoritas etnis di China tidak melarang seks sebelum nikah. Sebaliknya, mereka bahkan menyediakan tempat umum untuk hal tersebut. Tetapi, bila wanita itu ternyata hamil, pasang-an itu kemudian harus menikah. Kalau tidak, mereka akan menghadapi kritik publik dan dihukum. Ada pepatah: "Berjudi seperti mencuri, per-zinahan haram seperti membunuh." Juga dikatakan: kecurangan akan muncul melalui perjudian, tragedi akan muncul ketika tenggelam dalam asusila. ' Maka, orang tua menganggap lekotoran adalah yang terbu-ruk dari semua tindakan Konon orang akar mengundang bencana bila is terlibat dalam perseling kuhan. Banyak kisah menyatakan bila orang melakuka `hubungan haram' dengan istri atau anak orang lain, akan menderita nasib yang sama. Maka, bila ada yang tertangkap melakukan perzinahan, ia akan dikenai hukuman berat dari publik. 

Legenda Menangisi Pengantin wanita

Pada zaman kuno, pengantin wanita akan menangis selama upacara pernikahan. lni tampak tidak biasa karena pemikahan biasanya peristiwa bahagia. 

Suatu hari, ada ibu tiri yang tidak suka pada putrinya, maka ia cepat-cepat mencarikannya suami. Pada hari pernikahan, ia terus menangis dan berkata: "Sayang, begitu kau meninggalkan rumah ini, jangan kembali lagi." Putri itu tahu bahwa ibu tirinya mengutuknya. dan karenanya ia menangis dan berkata: "Ya, ibu, saya akan pergi segera dalam tandu pengantin, tapi akan kembali dengan kereta besar. Dan dengan berkat kilin, saya akan kembali dengan bayi lelaki." Setelah menikah, ia hidup harmonis dengan suaminya dan mertuanya. Lalu, ia melahirkan anak lelaki yang sehat. 

Kemudian, si ibu tiri mencarikan suami untuk putri kandungnya. Ibu ini memberkati anaknya dengan kata-kata yang bagus. Setelah menikah, putri ini selalu bertengkar dengan ibu mertua dan suaminya. Akhirnya pernikahan mereka hancur. Itulah sebabnya orang percaya bahwa menangisi mempelai lebih beruntung daripada yang dengan senyuman. Akibatnya, ini menjadi kebiasaan bahwa mempelai wanita harus menangis pada hari pemikahannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.