60 Tai Sui [六十 太歲 星君] DEWATA PENGUASA WAKTU TAHUN Bagian 3


60 Tai sui [六十 太歲 星君]
Dalam Novel Feng Shen, ada versi yang agak berbeda dengan yang dikatakan di atas. Dikisahkan bahwa Yin Qiao dalam perjalanan turun gunung untuk bergabung dengan pasukan Jiang Zi Ya atas perintah Gurunya untuk menumbangkan dinasti Shang, bertemu dengan Shen Gong Bao yang kemudian menghasutnya berbalik melawan Jiang Zi Ya.

Ketika dalam pertempuran ia berhadapan dengan Ran Deng Dao Ren, pertapa sakti dari pihak Jiang Zi Ya, ia terbunuh. Setelah diadakan pelantikan para Dewa, Yin Qiao diangkat sebagai Tai Sui Xing Jun. Cerita ini sumber dari buku Dewa-Dewi Kelenteng.

Setiap tahun upacara kepada Thay Sui diadakan sesudah Tahun Baru Imlek oleh umat Tao yaitu upacara Po Un.

Beginilah sejarah “ilmiahnya”

Nama-nama Thay Sui dalam periode perputaran 60 tahun dan hubungannya dengan Shio

Sebenarnya, Thay Sue itu bukan wujud sesosok Dewa atau apa. Namun, cuma sebuah istilah dalam Ilmu Astronomi Tiongkok Kuno. Ahli Astronomi Tiongkok Kuno dulu menyadari bahwa dari 5 bintang yang besar, terutama Muk Xing (Bintang Kayu) mengorbit dalam peredarannya selama 12 tahun, tepatnya 11,88 tahun (hitungan tahun bumi) dalam satu lintasan yang lengkap. Artinya kalau dihitung dari satu titik dilangit sana, MU XING akan beredar sesuai lintasan orbitnya dan kembali ke titik tersebut dalam kurun waktu 12 tahun bumi.

Ini berarti, saat MU XING bergerak dengan jarak 1/12 edaran orbitnya, maka dibumi sudah berlalu waktu selama 1 tahun dan kembali ke awal tahun di Bumi yang kita tempati ini. Maka dari itu, orang-orang kuno jaman dulu menyebut MU XING sebagai Sue Xing (Bintang Umur, Sue = umur). MU XING beredar satu putaran berarti 12 tahun dan 12 tahun ini dipakai untuk menentukan standard tahun dan umur yang dijabarkan dalam 12 istilah tahun waktu dan lebih mudahnya dilambangkan dalam bentung Nama Binatang (SHIO).

Para Ahli Astronomi Tiongkok juga mengamati bahwa MU XING ini beredar dari Barat ke Timur, sedangkan bintang-bintang lainnya beredar dari Timur ke Barat, hal ini akan menyulitkan mereka dalam menentukan tahun dengan khusus melihat MU XING saja. Oleh karena itu, mereka lantas secara abstrak menentukan seolah-olah diseberang posisi MU XING diandaikan ada sebuah “bintang” yang tidak kelihatan. Yang bergerak berbalik/berlawanan arah dari gerakan MU XING.

Dengan demikian maka akan sesuai dengan arah gerakan bintang-bintang lainnya, sehingga memudahkan dalam menentuhan waktu dalam astronomi Tiongkok Kuno. Nah “bintang” yang tidak kelihatan/nampak itulah dinamakan THAY SUE (Sue – Yin/Bintang Sue yang abstrak). Kata “THAY SUE” berarti SUE yang paling awal.

Karena itu kita tahu kalau Para Astronomi Tiongkok kuno itu menggunakan arah dan posisi “Bintang Maya” ini sebagai petunjuk untuk menentukan awal sebuah tahun baru. Sedangkan bagi manusia, setiap penambahan satu tahun berarti penambahan umur juga, makanya “Bintang Maya” diberi nama THAY = yang awal, sedangkan SUE = Umur. Jadi, THAY SUE adalah Bintang yang paling awal menentukan hitungan umur seseorang.

Lantas kenapa dalam sistem peramalan tertentu menggunakan “sosok” tertentu, itu tak lain sama seperti pertanyaan kenapa SHIO kok menggunakan nama-nama binatang tertentu sebagai lambangnya. Itu tak lain ya cuma sebagai patokan semu saja, untuk sekedar mempermudah suatu perhitungan dalam praktek suatu ritual keagamaan.

Lalu kenapa ada yang dilambangkan dengan sosok Para Jendral?

Tampak pada gambar, ke 60 Jendral yang mewakili setiap bintang Thay Sui

Itulah sebabnya, kenapa kita selalu diwanti-wanti agar jangan sampai terjerumus ke dalam jurang ketahyulan, cuma gara-gara tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang abstrak. Tapi juga jangan sampai tidak bisa menangkap sebuah kesempatan spiritual, gara-gara terlanjur menganggap sesuatu yang nyata sebagai ilusi belak.

Kalo begitu yang “Chiong Thay Sui” itu apa benar?

Seperti halnya pengertian kata Thay Sui, maka Ciong Thay Sui adalah istilah dalam “Xiang Ming Xue” yang dipakai untuk menunjukkan bahwa pada tahun itu merupakan tahun yang banyak halangan bagi orang yang mempunyai umur tertentu. Sehingga oleh orang Tao yang pinter-pinter itu, diusahakan untuk dicarikan suatu cara solusinya, maka ada ritual khusus “PO UN”. Nah di dalam ritual-ritual inilah digunakan tanda/gambar khusus untuk memudahkan jalannya ritual supaya lebih sempurna.

Lantas, kalau dikatakan bahwa nama dewa-dewa Tay Sui yang berjumlah 60 beserta gambar (rupa) hanyalah suatu rekaan belaka, apakah ini tidak akan menimbulkan pertanyaan selanjutnya? Misalnya, berarti ini semua hanyalah khayalan belaka? Ini semua hanyalah “Kebohongan”?

Apa yang ditulis oleh Para Ahli Astronomi Tiongkok itu memang benar adanya. Namun apa yang dilakukan oleh Para Ahli Tao juga tidak salah. Hanya pemahaman kita saja yang sering kebablasan, sehingga malah menyesatkan orang lainnya. Pengertian Bintang Thay Sui, memang seperti penjelasan diatas. Namun dalam ajaran agama Tao, ada sistem perhitungan tahun dan peramalan yang berdasarkan posisi beredarnya bintang Thay Sui itu tadi.

Oleh karenanya, setiap manusia yang lahir pada tahun kelahirannya, mewakili arti dan posisi waktunya tersendiri. Makanya setiap tahun pasti ada yang “Ciong” dengan tahun yang sedang berlaku. Itupun berdasarkan perhitungan ramalan khusus. Nah, untuk menetralisir efek “Ciong” tersebut, ada semacam ritual yang biasa kita sebut “Po Un”. Disini, tentu ada dewa-dewa tertentu yang bertugas khusus untuk semua itu, jadi Dewanya ya tetap Dewa, tapi bintang Thay Sui-nya ya tetap bintang biasa, jangan dicampur adukkan.

Hanya saja untuk lebih memudahkan, biasanya disingkat saja sebagai “Pai Thay Sui”. Ini sebetulnya sebuah kesalahan yang salah kaprah. Kalau anda tahu asal riwayat adanya “YI HUANG TA TI”, maka anda akan paham secara otomatis persoalan diatas. Karena itu, kalau siutao harusnya kita bisa menelusuri, mengapa sampai ada ritual ini dan itu secara benar. Jangan asal telan saja, akibatnya kita akan mudah terjerumus ke dalam jurang ketahyulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.