ASAL USUL PERAYAYAAN CAP GO MEH - ARTIKEL CAP GO MEH (BAGIAN 2 - AKHIR)

 
ASAL USUL PERAYAYAAN CAP GO MEH - ARTIKEL CAP GO MEH (BAGIAN 2 - AKHIR)

Cerita tentang Penyalaan Lampu
Pada Zaman dulu, banyak terdapat Raksasa dan Binatang buas yang sering menganggu umat Manusia. Oleh Karena itu, masyarakat saat itu membentuk pasukan untuk mengusir raksasa dan binatang buas tersebut. Suatu hari, seekor burung dewa tersesat dan jatuh ke bumi sehingga tidak sengaja dibunuh oleh para pemburu binatang buas tersebut. Kaisar Langit mengetahuinya dan sangat marah sekali yang kemudian memerintahkan para tentara langit untuk menghukum umat manusia dengan cara membakar bumi pada tanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek.

Seorang Putri dari Kaisar Langit yang sangat berbaik hati sangat sedih dan tidak tega untuk melihat umat manusia yang tidak bersalah mengalami penderitaan tersebut. Putri tersebut secara diam-diam turun ke bumi untuk memberitahukan perintah kaisar langit tersebut kepada umat manusia. Orang-orang yang mendengarkannya sangat panik dan takut sekali, beberapa saat kemudian seorang Lansia (lanjut usia) mengeluarkan suatu ide agar setiap rumah menyalakan lampu, petasan dan kembang api pada hari ke 14, 15 dan 16 bulan pertama penanggalan Imlek untuk mengelabui Kaisar langit. Dengan demikian, Kaisar Langit akan mengira bahwa bumi lagi mengalami kebakaran dan ledakan.

Semua orang menyetujui ide tersebut dan lakukan persiapan masing-masing. Pada malam ke 15 bulan pertama saat Kaisar langit melihat ke bumi, Kaisar Langit melihat bumi terang benderang seperti benar-benar terjadi kebakaran dan juga terdengar suara ledakan selama 3 hari berturut-turut. Dengan demikian, masyarakat saat itu dapat selamat dari musibah kebakaran tersebut dan dapat melindungi harta benda mereka dari bencana. Untuk memperingati keberhasilan tersebut, pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, setiap keluarga menyalakan lampu dan memasang lentera dirumahnya serta membunyikan petasan dan kembang api.

Keberhasilan pemberantasan pemberontakan Keluarga Lv [吕] oleh Han Hui Di
Pada Dinasti Han, setelah wafatnya Kaisar Han Gao Zu [汉高祖] (kaisar pertama Dinasti Han, Liu Bang). Putra dari Permaisuri Lv [吕后] yang bernama Liu Ying [刘盈] naik tahta menjadi kaisar dengan gelar Kaisar Han Hui Di [汉惠帝]. Tetapi Kaisar Han Hui Di sangat lemah dan sifatnya yang pengecut dan ragu-ragu menyebabkan kekuasaannya jatuh ke tangan Permaisuri Lv [吕后]. Setelah Kaisar Han Hui Di wafat, Kekuasaan sepenuhnya diambil alih oleh Permaisuri Lv, banyak jabatan tinggi diduduki oleh keluarga Lv. Para menteri dan pejabat tinggi Dinasti Han sangat marah, sedih dan kuatir akan Dinasti Han yang semestinya adalah milik keluarga Liu, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Permaisuri Lv. Setelah wafatnya Permaisuri Lv, Pejabat-pejabat keluarga Lv yang dulunya mendapat dukungan penuh dari Permaisuri Lv merasa kuatir dan terancam. Mereka yang dipimpin oleh Jenderal Lv Lu [吕禄] merencanakan untuk merebut kekuasaan kerajaan Dinasti Han.

Perencanaan Rahasia tersebut akhirnya terdengar oleh Liu Nang yang saat itu menjabat sebagai Raja Qi. Untuk melindungi Dinasti Han dari pemberontakan tersebut, Liu Nang memutuskan untuk melakukan penyerangan terhadap keluarga Lv dan kelompoknya.
Setelah berhasil memberantas pemberontakan ini, anak kedua dari Kaisar Han Gao Zu yang bernama Liú héng [刘恒] naik tahta menjadi Kaisar Dinasti Han dengan gelar Han Wen Di [汉文帝]. Untuk memperingati keberhasilan ini, Kaisar Han Wen Di memerintahkan untuk melakukan perayaan pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, Setiap keluarga di Ibukota diharuskan untuk menggantungkan Lentera, menyalakan lampu dan melakukan Pesta yang meriah di seluruh sudut Ibukota.
READ MORE - ASAL USUL PERAYAYAAN CAP GO MEH - ARTIKEL CAP GO MEH (BAGIAN 2 - AKHIR)

PERAYAAN CAP GO MEH (元宵节 / YUAN XIAO JIE), POJOK TRADISI Artikel 12 dari 12 Artikel

Foto Kisah Para Dewa dan Ajaran Tao. 
PERAYAAN CAP GO MEH (元宵节 / YUAN XIAO JIE), POJOK TRADISI Artikel 12 dari 12 Artikel
Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas (hanzi : 十五暝; pinyin : Shíwǔ míng) bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.
Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan hari raya ini. Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao (元宵节; Yuánxiāo jié) atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M).
Perayaan Cap Go Meh di tanah air kerap dilaksanakan di jalan raya dengan melakukan kirab
Upacara ini dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut sistem penanggalan kalender Imlek. Upacara ini dahulu dilakukan tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok. Upacara ini dilakukan pada malam hari; untuk itu perlu disiapkan penerangan dengan lampu-lampu lampion yang dipasang sejak senja hari hingga keesokan harinya. Inilah yang kemudian menjadi lampion-lampion dan aneka lampu berwarna-warni yang menjadi pelengkap utama dalam perayaan Cap Go Meh.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum. Saat Tiongkok dalam masa pemerintahan Dinasti Tang, perayaan ini juga dirayakan oleh masyarakat umum secara luas. Festival ini adalah sebuah festival dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang. Saat malam tiba, masyarakat akan turun ke jalan untuk menikmati pemandangan lampion berbagai bentuk yang telah diberi berbagai hiasan.
Atraksi barongsai yang selalu ada pada saat perayaan Cap Go Meh
Di malam yang disinari bulan purnama sempurna, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan ‘Liong’) dan tarian Barongsai (Lion Dance). Mereka juga akan berkumpul untuk memainkan sebuah permainan teka-teki dan berbagai macam permainan lainnya, sambil menyantap sebuah makanan khas bernama Yuan Xiao atau Wedang Ronde. Tentu saja, malam tidak akan menjadi meriah tanpa kehadiran kembang api dan petasan.

Yuan Xiao sendiri adalah sebuah makanan yang menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Yuan Xiao atau juga biasa disebut Tang Yuan adalah sebuah makanan berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung beras. Bila ditilik dari namanya, Yuan Xiao mempunyai arti ‘malam di hari pertama’. Makanan ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Hari Imlek.
Nampak salah satu ritual Thang Sin atau sebutan lokalnya “ence pia” di daerah Manado. Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat kelenteng-kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang didalamnya diletakkan arca para Dewa. Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ dimana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa (Utusan Malaikat) untuk memberikan berkat bagi umat Nya. Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya. Sementara di Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak dan Singkawang, atraksi ini disebut ‘Tatung‘.
READ MORE - PERAYAAN CAP GO MEH (元宵节 / YUAN XIAO JIE), POJOK TRADISI Artikel 12 dari 12 Artikel

ASAL USUL PERAYAYAAN CAP GO MEH - ARTIKEL CAP GO MEH (BAGIAN 1)

Foto Cetya Tathagata Jakarta. 
ASAL USUL PERAYAYAAN CAP GO MEH - ARTIKEL CAP GO MEH (BAGIAN 1)

Cap Go Meh (Hokkien: 十五暝) atau Hari Raya Yuan Xiao (元宵) melambangkan hari -15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari. Hari Raya Yuan Xiao sendiri memiliki arti Bulan Pertama (Zhen Yue [正月]) dalam penanggalan Imlek disebut juga dengan istilah “Yuan Yue [元月]”. Dalam bahasa Mandarin, Malam disebut juga dengan istilah “Xiao [宵]”. Jadi Yuan Xiao artinya adalah Malam dengan Bulan Purnama pertama dalam Tahun yang baru. Festival “Yuan Xiao” disebut juga dengan Festival “Shang Yuan [上元节]”.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut - suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.

Perayaan Festival Yuan Xiao atau perayaan Cap Go Meh sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu saat Dinasti Han. Pada saat itu, Sebagaian besar Rakyat dan Bangsawan serta Kaisar adalah beragama Buddha yang kemudian mengetahui bahwa setiap Bulan Pertama Tanggal 15 Imlek para Bhikkhu akan melakukan penyalaan pelita untuk menghormati Buddha, maka Kaisar “Han Ming Di [汉明帝]” yang berkuasa saat itu memerintahkan untuk menyalakan Pelita di Istana dan juga semua Vihara untuk menghormati Buddha. Kaisar kemudian juga memerintahkan Rakyatnya untuk menggantungkan Lentera atau menyalakan Pelita di rumah masing-masing untuk menghormati Buddha.

Dalam Agama Buddha, Bulan Pertama tanggal 15 Imlek juga diperingati sebagai hari suci “Magha Puja” yaitu hari berkumpulnya 1250 arahat pada waktu yang bersamaan tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu untuk mendengarkan pembabaran Dhama dari Sang Buddha Sakyamuni, semua Arahat adalah Ehi Bhikku yang artinya adalah ditabhiskan oleh Buddha Sakyamuni sendiri.

Dalam Agama Tao [道教], terdapat istilah San Yuan Shuo [三元说] yang terdiri dari Festival “Shang Yuan Jie [上元节]” yakni jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, Festival “Zhong Yuan Jie [中元节]” yang jatuh pada tanggal 15 bulan 7 Imlek dan “Xia Yuan Jie [下元节]” yang jatuh pada tanggal 15 bulan 10 Imlek. Mereka masing-masing bertanggung jawab atas Langit, Bumi dan Manusia. Tanggal 15 bulan Pertama adalah Shang Yuan Jie yang juga bertanggung jawab atas Langit, memiliki makna sukacita. Pada Hari tersebut juga harus menyalakan Lampu Pelita.

Dalam Perkembangannya, penyalaan lampu pelita di Dinasti Han hanya satu hari, sampai pada Dinasti Tang menjadi 3 hari, Dinasti Song menjadi 5 hari, Bahkan saat Dinasti Ming, perayaan penyalaan Lampu Pelita ini dimulai pada hari ke-8 sampai hari ke-17 bulan pertama Imlek (tepat 10 hari). Pada Dinasti Qing, Perayaan Festival Yuan Xiao dipersingkat menjadi 4~5 hari, tetapi bentuk perayaan diperbanyak seperti adanya kegiatan barongsai dan tarian Naga.

Terdapat beberapa cerita dan dongeng mengenai asal usulnya Festival Yuan Xiao (Cap Go Meh), diantaranya adalah Cerita tentang penyalaan Lampu dan Pemberantasan pemberontrakan keluarga Lv di Dinasti Han.
READ MORE - ASAL USUL PERAYAYAAN CAP GO MEH - ARTIKEL CAP GO MEH (BAGIAN 1)

Pendahuluan tentang Sutra Buddha Penyembuhan (Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata)

Foto Cetya Tathagata Jakarta.
Pendahuluan tentang Sutra Buddha Penyembuhan (Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata)
Buddha Penyembuhan ( Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata ) adalah salah satu dari ketiga Buddha Utama dalam obyek pemujaan Mahayana dan merupakan seorang Buddha dari masa lalu. Lebih dikenal sebagai Buddha Pengobatan atau Guru Penyembuhan. Beliau sangat dekat di hati pemujanya, karena banyak diantara mereka yang benar-benar telah menerima berkah-Nya dalam bentuk penyembuhan ajaib dari berbagai penyakit.

Kemanjuran dari Hyang Buddha dalam mencegah bencana dan memberikan kemakmuran disamping menyembuhkan penyakit telah menarik sejumlah pengikut dan pemuja yang cukup besar sejak Dinasti Chin Timur (AD 317-420) sampai sekarang. Sutra Buddha Pengobatan (Bhaisajya Sutra) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin pada masa itu, memberikan gambaran yang lengkap tentang Buddha tanpa tandingan itu, tanah Buddha, dan kedua belas Ikrar Agung-Nya. Sekalipun demikian, Sutra yang diterjemahkan oleh Guru Tripitaka Hsuan Tsang ( bhiksu yang terkenal dari Dinasti Tang ) kemudian dikenal sebagai Sutra Guru Penyembuhan ( Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata ) menjadi lebih terkenal dan dibaca oleh kebanyakan orang di masa kini.

Selain menyembuhkan penyakit, melindungi dari bencana seperti kelapran, kekeringan, dan wabah, memberikan panjang umur dan membantu yang meninggal. Hyang Buddha dikenal telah memberikan berbagai manfaat duniawi kepada mereka yang bersujud kepada-Nya. Di dalam Vihara, Buddharupang-Nya biasanya ditempatkan bersama Buddha Sakyamuni dan Buddha Amitabha. Buddha Sakyamuni ditengah, Buddha Bhaisajyaguru di sebelah kanan-Nya, dan Buddha Amitabha dikiri-Nya. Bila digambarkan sendiri, Beliau memegang symbol berupa mangkok berisi obat dengan tangan kiri-Nya dan biasanya diikuti oleh kedua siswa-Nya yaitu Bodhisattva Cahaya Surya dan Bodhisattva Cahaya Rembulan.

Sewaktu masih menjadi Bodhisattva, Beliau membuat 12 ( dua belas ) Ikrar Agung untuk membebaskan makhluk hidup dari belenggu karma. Beliau berikrar untuk melindungi kemajuan mereka kea rah penerangan, membantu mereka memegang larangan, membebaskan mereka dari perangkap praktek keagamaan yang menyimpang dan doktrin palsu, memberikan makanan dan minuman kepada mereka yang lapar, memulihkan tubuh yang cacat, menolong mereka yang akan dihukum mati dan membimbing mereka ke arah kehidupan yang tenang dan berbahagia. Dari kedua-belas ikrar-Nya, ikrar ke tujuh secara khusus menjamin untuk membebaskan manusia dari penyakit badaniah dan mengusir kebingungan spiritual sehingga Beliau dijuluki “Tabib Jiwa”.

Disebabkan oleh akar kebajikan dari kehidupan dimasa lampau, Anda sekarang memiliki kesempatan yang langka untuk masa yang akan datang. Agar bisa begitu, Anda hanya perlu menjunjung nama Guru Penyembuhan ini dengan tulus dan tanpa keraguan. Sehari-hari anda harus merenungkan ikrar atau wujud-Nya, mengucapkan nama-Nya dan memberikan persembahan dengan apa pun yang bisa diberikan. Bagi mereka yang mengalami banyak kesusahan, sakit-sakitan, penderitaan, bencana, dalam keluarga banyak perselisihan dan sebagainya dapat melakukan pengucapan nama Buddha ini untuk menghilangkan segala macam kesulitan, pengucapan selengkapnya adalah :
“Na mo Xiao Zai Yen Shou Yao Shi Fo” dalam Bahasa Mandarin
Atau
“Nambu Siao Zai Yang Siu Yok She Hud” dalam Bahasa Hokkian
Atau
“Namo Siao Zai Yang Shiu Yok She Hud” dalam logat Teochew / Tio Ciu
Atau
“Namo Bhaisajyaguru Buddha” dalam Bahasa Sansekerta


Didalam Sutra Guru Penyembuhan, Hyang Buddha Sakyamuni juga mengungkapkan kepada Bodhisattva Manjusri suatu Dharani Agung yang harus diucapkan seseorang guna menolong makhluk hidup dari penyakit dan kesusahan.

Sewaktu mengucapkan Dharani atau nama Hyang Buddha seseorang harus membayangkan rupang Buddha tersebut, maka dia akan memasuki suatu keadaan “samadhi pengucapan Buddha” (Buddha reci-tation Samadhi; salah satu dari delapan puluh empat ribu Pintu Dharma menuju pencerahan). Yang mana seseorang mengucap tetapi tidak mengucap, dan tidak mengucap tetapi mengucap. Satu hal penting yang perlu diperhatikan agar bisa mendapatkan manfaat dan, hasil sebesar-besarnya dari pengucapan Dharani, nama Buddha maupun Sutra itu adalah sangat diperlukan keyakinan dan ketekunan yang tidak surut.

Akhir kata perlu diketahui bahwa peringatan ulang tahun Hyang Buddha Bhaisajyaguru jatuh pada tanggal 30 bulan 9 penanggalan Candrasangkala ( Lunar Kalender ). Semoga segenap makhluk hidup bisa mendengar, membaca, mengerti, menerima, mempertahankan, dan menyebarluaskan Sutra ini sehingga dengan demikian memperoleh berkah, manfaat, perlindungan, kedamaian, dan kegembiraan bagi mereka sendiri maupun makhluk lainnya.
READ MORE - Pendahuluan tentang Sutra Buddha Penyembuhan (Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata)

3 Cerita Legenda Tahun Baru Imlek Terpopuler Di Masyarakat

 
3 Cerita Legenda Tahun Baru Imlek Terpopuler Di Masyarakat

Ada baiknya kita perlu mengetahui cerita2 dibalik perayaan terpenting dari suku Hua ini. Ada banyak cerita legenda mengenai tahun baru Imlek. Di sini kami bagikan 3 cerita legenda terpopuler yang beredar di masyarakat :

1. Legenda Mengapa Tahun Baru Imlek Dirayakan
Hari tahun baru dalam bahasa Mandarin disebut dengan Guo Nian (过年) yang berarti ‘merayakan tahun yang baru)’ atau ‘mengalahkan Nian’. Karakter 年 (Nián) dapat bermakna ‘monster Nian’.
Pada jaman dahulu, hiduplah sesosok monster yang dinamakan Nian (年, atau Nianshou 年兽), berkepala panjang dan bertanduk tajam, sepanjang tahun mendiami dasar laut yang dalam dan hanya muncul pada malam tahun baru untuk memangsa manusia dan makhluk hidup lainnya di pemukiman desa terdekat.
Oleh sebab itu, pada malam tahun baru penduduk desa melarikan diri, mengungsi ke gunung-gunung yang terpencil, agar jangan sampai dilukai oleh monster ini. Mereka selalu hidup dalam ketakutan akan ancaman monster ini hingga suatu ketika datanglah seorang pria tua berambut putih dan kulit kemerahan mengunjungi desa tersebut.
Pria tua tersebut menolak untuk ikut bersembunyi bersama dengan penduduk desa lainnya, sebaliknya dia justru malah berhasil menakut-nakuti monster itu hingga pergi, yaitu dengan cara menempelkan kertas berwarna merah di pintu, membakar batang bambu untuk menciptakan bunyi retakan yang keras (pelopor digunakannya petasan), menyalakan lilin di dalam rumah, dan mengenakan pakaian berwarna merah.
Ketika penduduk desa kembali, mereka sangat terkejut menemukan desa mereka dalam keadaan utuh, tidak hancur.
Setelah kejadian tersebut, pada setiap malam tahun baru penduduk desa melakukan seperti apa yang diperintahkan pria tua itu dan monster Nian tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Tradisi ini berlanjut terus hingga sekarang dan telah menjadi cara terpenting dalam merayakan datangnya tahun yang baru.

2. Legenda Mengapa Orang Memberi Angpau Saat Imlek
Chinese new year, giving red packet.
Selama periode tahun baru Imlek, bagi yang sudah berkeluarga atau bagi yang lebih tua, wajib hukumnya memberikan angpau kepada anak-anak atau kepada yang belum menikah. Angpau disebut juga dengan yasui qian (压岁钱), yang mempunyai arti ‘uang yang dapat memberangus hantu’.
Menurut legenda, selain monster Nian, hidup pula sesosok hantu yang bernama Sui, yang keluar pada malam tahun baru, untuk menakut-nakuti anak-anak pada saat mereka tertidur.
Dikatakan bahwa anak-anak yang disentuh oleh hantu ini terlalu takut untuk berteriak, sehingga akan mengalami demam tinggi dan menjadi tidak stabil secara mental. Untuk menjaga agar anak-anak tetap aman terhindar dari ancaman hantu Sui, para orang tua harus menyalakan lilin dan tetap berjaga sepanjang malam.
Pada suatu malam tahun baru di sebuah rumah keluarga pejabat, sang orang tua memberikan 8 keping uang logam sebagai mainan, agar si anak tetap terjaga, dan terhindar dari ancaman dilukai oleh hantu tersebut.
Sang anak membungkus keping uang logam tersebut dengan kertas berwarna merah, kemudian membukanya, lalu membungkusnya kembali, dan membukanya kembali, begitu seterusnya sampai si anak lelah bermain dan jatuh tertidur.
Kemudian sang orang tua akan menempatkan bungkusan berisi 8 keping uang logam tersebut di bawah bantal si anak. Ketika hantu Sui mencoba menyentuh dahi sang anak, kedelapan keping uang logam tersebut akan memancarkan cahaya yang kuat dan menakut-nakuti hantu tersebut hingga pergi.
Kedelapan keping uang logam tersebut menjadi sosok 8 peri pelindung. Sejak saat itulah, memberi angpau menjadi cara untuk menjaga agar anak-anak tetap aman dan membawa keberuntungan.

3. Legenda Mengapa Bait Sajak Musim Semi Ditempelkan
Tercatat bahwa asal mula bait sajak musim semi sudah ada sejak 1,000 tahun yang lalu, yaitu ketika orang menggantungkan taofu (桃符), jimat yang ditulis pada kayu persik di pintu.
Menurut legenda, dalam dunia hantu terdapatlah sebatang pohon persik yang sangat besar membentang sejauh lebih dari 1,500 km di atas gunung.
Menghadap timur laut pohon tersebut, terdapat 2 pengawal bernama Shentu dan Yulei, yang berjaga di pintu masuk dunia hantu. Mereka akan menangkap hantu-hantu yang melukai manusia, kemudian dijadikan sebagai santapan kepada harimau.
Itulah sebabnya kedua pengawal ini sangat ditakuti oleh para hantu. Dipercaya bahwa dengan menggantungkan sepotong kayu persik di pintu dengan nama kedua pengawal terpahat di atasnya, dapat mengusir pergi para hantu.
Pada dinasti Song (960 – 1279) orang mulai menuliskan 2 bait kalimat yang berlawanan pada kayu persik, sebagai ganti nama kedua pengawal tersebut.
Lambat laun, kayu persik mulai digantikan dengan sehelai kertas berwarna merah, yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sejak saat itu, menempelkan bait sajak musim semi menjadi tradisi dalam menyambut tahun yang baru dan sebagai ungkapan akan harapan yang baik.
READ MORE - 3 Cerita Legenda Tahun Baru Imlek Terpopuler Di Masyarakat

SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 3 DARI 3 ARTIKEL - AKHIR)

Foto Cetya Tathagata Jakarta. 
SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 3 DARI 3 ARTIKEL - AKHIR)
Perjamuan makan bersama pada malam menjelang tahun baru adalah hal utama yang biasa dilakukan, sekaligus untuk bermusyawarah merencanakan pekerjaan yang akan segera dimulai esok hari, menu makanan yang disajikanpun makin beragam dan bermakna sejalan dengan perkembangan zaman dan tingkat kemakmuran, serta mitos-mitos di setiap daerah misalnya:
Ikan ( Yu – yang dengan nada sama berarti ’Berkelebihan’) menjadi menu makanan yang tidak boleh ditinggalkan agar keluarga tersebut mendapat tambahan rejeki yang besar di tahun depan ini.
Kue-kue an juga merupakan hidangan ringan yang harus disediakan untuk menjamu tamu dan kudapan di saat santai, kue-kue ini disediakan dengan rasa yang manis, agar masa depan keluarga dan tamu akan semanis kue-kue ini, begitu pula dengan bentuk yang memiliki makna masing-masing serta beda di setiap daerah, misalnya di:
Tiongkok bagian utara ada Shui Jiao –semacam Pangsit yang berisi berbagai jenis sayuran dan daging yang dimaknakan manusia harus hidup bersatu dan rukun. Tiongkok bagian selatan ada Nian Gao – kue Ranjang (Nian – dengan nada sama berarti ’Tahun’, Gao – dengan nada sama berarti ’Tinggi’) yang dimaknakan semoga hari-hari kedepan tingkat kehidupan jadi semakin tinggi/makmur.

Dalam hal makanan, perayaan Hari Raya Imlek di Indonesia telah membaur dengan unsur budaya lokal. Pada hari ke 15 yang merupakan penutupan rangkaian acara perayaan Hari Raya Imlek, di beberapa tempat dihidangkan makanan yang dikenal dengan nama Lontong Cap Goh Meh. Sedangkan Masyarakat di daratan Tiongkok tidak mengenal lontong karena lontong adalah makanan khas Indonesia. Ini merupakan representasi dari pertautan lintas budaya.

Barongsai dan liang-liang adalah salah satu atraksi kesenian dan kebudayaan tradisional yang selalu ditampilkan pada perayaan-perayaan di masyarakat Tiongkok, maka pada perayaan Hari Raya Imlek inipun menjadi suatu atraksi yang tidak terlewatkan, paduan kesenian dan akrobatik ini disukai karena suara tabuhan tambur yang keras, dapat menarik perhatian masyarakat untuk datang menyaksikan, sedangkan wajah Barongsai dan Liang-liong yang seram dan warna warni tersebut dianggap dapat menakut-nakuti, bahkan mengusir makhluk jahat maupun binatang buas yang akan / dapat mengganggu masyarakat, namun pada tempat/daerah yang berbeda akan terdapat implementasi makna yang sedikit berbeda.
Komunikasi lintas budaya juga muncul dalam tradisi ’barongsai’ yang bisa dimainkan kapan saja dan oleh siapa saja, begitu juga dalam acara gotong toapekong yang hanya dilakukan pada hari ke-15 setelah Imlek, yaitu Cap Go Meh. Di Jakarta, Medan, dan juga kota-kota lain di Indonesia selalu menyertakan kaum penduduk asli sebagai pemain. Sementara itu pertunjukan itu dapat ditonton oleh semua orang, baik oleh etnis Tionghoa maupun etnis lain.

Agama Tao- adalah suatu ajaran tentang keyakinan terhadap yang maha kuasa (ketuhanan) pertama di daratan Tiongkok, yang lahir dari ajaran Laozi (+/- tahun 600 SM), disusul dengan masuknya agama Budha (+/- tahun 500 SM) dari India, serta penghormatan terhadap Filosof tersohor Kong Hu Chu (Kong fuzi – +/- tahun 550 SM) yang akhirnya berkembang menjadi pada tokoh terakhir ini, dalam perjalanan sejarah menjadi keyakinan yang dianut oleh masyarakt ini, walau ada sebaian masyarakat menyembah secara terpisah, namun sebagian besar masyarakat menyembahnya dengan digabung menjadi satu dan disebut San Jiao (Tiga Ajaran – Tri Dharma).

Semenjak itu, pada perayaan Hari Raya Imlek, para umat agama tersebut disamping melakukan kebiasaan (adat dan tradisi) penyembutan Hari Raya Imlek dalam keluarga masing-masing, juga melakukan sembayang (penghormatan dan syukuran) kepada Tian (sebutan terhadap Tuhan) serta siombol-simbol ketuhanan yang diyakini umatnya, di Klenteng (rumah ibadah Tri Dharma atau Tao) dan Vihara (Budha), sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang telah diperoleh serta pengharapan untuk sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang pada Sang Pencipta atau Penguasa Alam Semesta ini, namun bagi masyarakat yang kemudian memeluk agama lain (Islam dan kristen yang menyebar ke daratan Tiongkok pada abad V dan VI), bahkan bagi pemaham ajaran Atheis (pada abad XIX), tentu acara-acara ritual itu tidak dilakukan, cukup dengan kebiasaan (adat dan tradisi) dalam keluarga.

Indonesia tergolong tempat kedatangan imigran dari daratan Tiongkok yang terbesar di seluruh dunia, sejak abad VII, para saudagar dari daratan Tiongkok berdatangan ke Nusantara, mereka disamping melakukan perdagangan dengan penduduk setempat, juga melakukan penyebaran agama yang dianutnya, dari agama Hindu, Budha sampai agama Islam, sebagian mereka akhirnya tinggal dan menetap disini (buku Ying-yai Sheng-lan yang mencatat perjalanan Cheng Ho dituliskan dan menetap disini (buku Ying-yai Sheng-lan yang mencatat perjalanan Cheng Ho dituliskan bahwa beliau telah berkunjung/menemui pada beberapa komunitas Tionghoa muslim yang bermukim di Nusantara), setelah Kerajaan Belanda datang dan akhirnya menjajah di Nusantara dengan VOCnya, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan, pertambangan, dan bangunan VOC, mereka mendatangkan orang-orang dari daratan Tiongkok bagian timurlaut yang saat itu terpuruk akibat perang dan bencana alam yang terjadi disana, dan para pendatang ini beragama leluhur (Tao, Tri Dharma atau Budha) dan dimanfaatkan oleh penjajah Belanda sebagai ’kepanjangan tangan’ mereka dalam menjalankan pemerintahan kolonialnya.
Dengan demikian sejak itu terdapat dua macam komunitas Tionghoa yang berbeda agama dan tinggal / menetap di Nusantara, pada akhirnya menjadi generasi sekarang yang sangat berbeda satu dengan yang lain (Heterogen – masing-masing membentuk karakter yang berbeda berdasarkan dari latar belakang generasi, pendidikan, agama dan tempat kelahiran / domisili), sehingga dalam menyikapi Tahun Baru Imlek ini, masing-masing memiliki pandangan yang berbeda.

Orde Baru yang menutup sekolah berbahasa Tionghoa, melarang buku, majalah dan apapun yang beraksara Tionghoa / Mandarin, yang berlangsung selama 30 tahun lebih, telah mengikis habis orang-orang Tionghoa di Indonesia yang benar-benar paham dengan sejarah, budaya, adat istiadat dan tradisi leluhur dari Tiongkok, mereka telah habis karena meninggal dunia atau pikun oleh usia yang uzur, sehingga pemahaman tentang Tahun Baru Imlek ini hanya sebatas apa yang tetap / pernah dilakukan dalam keluarga masing-masing, dan pengalaman peribadi ketika berada di Komunitas Tionghoa yang tinggal di luar negeri / negara tetangga (Singapore, Malaysia, Hongkong dan Taiwan), bahkan yang pernah mendapat pengalaman di Tiongkok, sedangkan sekelumit pemahaman yang diperoleh ini lebih banyak berarah pada segi seremonial atau hanya dari sudut pandang bisnis, bukan dari sudut ilmiah dan kebenaran sejarah.

Era Reformasi yang demokratis dan menjunjung tinggi Hak-Hak Asasi Manusia (HAM), bertekad membangun Wawasan Kebangsaan dengan paham Pularisme, serta usaha pemerintah sekarang dalam menghapuskan perbedaan-perbedaan hukum antar warga negara, seluruh rakyat Indonesia, telah menghidupkan kembali gairah warga Tionghoa utnuk merayakan Hari Raya Imlek yang secara resmi ditetapkan sebagai Hari Raya Nasional.
Namun perlu diingat, bahwa makna dan nilai-nilai budaya, adat serta tradisi leluhur atas Hari Raya Imlek ini harus benar-benar dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia, terutama bagi Warga Tionghoa, jangan sekedar seremonial yang berlebihan dan pesta hura-hura, karena euphoria hanya akan melukai hati orang lain, ketidak pahaman akan membuat orang lain menjadi curiga, hanya keterbukaan dan kebersamaan yang justru akan menambah kemeriahan Perayaan Hari Raya Imlek ini.

Pada saat ini dalam merayakan Hari Raya Imlek, masyarakat Tionghoa seperti yang beragama Khatolik merayakannya di lingkungan gereja. Beberapa gereja Katolik di Jakarta pada setiap Hari Raya Imlek selalu mengadakan Misa Khusus yang dipersembahkan sebagai rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Bagi Orang Islam Tionghoa, begitu pula seperti warga PITI di D. I Yogyakarta sejak beberapa tahun lalu telah mengadakan syukuran antara lain di Masjid Syuhada. Jadi Hari Raya Imlek sesungguhnya dapat dirayakan oleh seluruh warga, karena Perayaan Hari Raya Imlek tidak berkaitan dengan kepercayaan/agama.

SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA
MAY ALL BEINGS BE HAPPY
SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA
READ MORE - SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 3 DARI 3 ARTIKEL - AKHIR)

SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 3 ARTIKEL)

Foto Cetya Tathagata Jakarta. 
SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 3 ARTIKEL)
Disamping itu Laksaman Cheng Ho (Zheng He) yang berawal dari tahun 1405 sampai 1433, melakukan pelayaran yang sangat spektakuler pada zaman itu, dengan armada yang sangat besar (300 buah Kapal dan 28.000 Awak kapal), telah melakukan 7 (tujuh) kali Muhibah Bahari sampai ke benua Afrika, bahkan dinyatakan telah mendarat di benua Amerika 87 tahun sebelum Columbus (menurut buku ”1421” karangan mantan Kapten AL. Gavin Menzies dari Inggris), juga menggunakan jadwal pelayaran yang berdasarkan pada perubahan iklim dan arah angin dari petunjuk penanggalan Imlek ini, sehingga jadwal setiap kali keberangkatan dan kembali dari muhibah tersebut selalu jatuh pada waktu yang hampir bersamaan.

Im-Lek (dialek Hokkian/Yin Li bahasa Mandarin) masing-masing Im (Yin) – dari Im-Yang (Negatif & positif), suatu paham yang meyakinkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, selalu mengandung dua macam elemen/sifat yang saling berlawanan, namun juga saling menyeimbangi, sama halnya dengan Bumi yang diseimbangi antara Bulan (Malam, Gelap dan Dingin) dan Matahari (Pagi, Terang dan Panas). Lek (li) – berarti penanggalan penunjuk hari, bulan dan tahun.

Dalam proses penetapan kalender yang panjang itu para ahli astronomi Tiongkok kuno pada akhirnya menetapkan 12 tahun Imlek dalam 1 (satu) siklus. Astrologi Tiongkok (salah satunya kita kenal sebagi Shio) jauh lebih rumit dari sistem astrologi Barat, ada 12 binatang yang menjadi simbol astrologi serta 5 macam unsur materi. Jika digabungkan bisa menjadi 60 kombinasi. Kedua belas binatang tersebut adalah Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi, serta kelima unsur materinya adalah Kayu, Api, Tanah, Emas (atau Besi) dan Air.

Mengingat proses penetapan yang sangat panjang itu, maka terjadi banyak versi tentang penghitungan tahun Imlek yang beredar di masyarakat Tiongkok kala itu, setiap dinasti yang berkuasa selalu menetapkan berdirinya dinasti tersebut sebagai tahun baru pertama dan seterusnya. Dengan banyaknya dinasti yang ada dalam sejarah Tiongkok, maka perbedaan penghitungan tahunpun menjadi sangat beragam, hingga pada dinasti Ch’in (tahun 221-207 SM), Raja Ch’in sebagai pendiri dinasti pertama yang dapat menguasai dan mempersatukan sebagian besar daratan Tiongkok (dari bagian tengah sampai timur) memerintahkan untuk menetapkan penghitungan awal tahun Imlek terhitung dari tahun kelahiran Khong Hu Chu (Kongfuzi –seorang filosof tersohor yang karyanya menjadi pedoman/prinsip hidup pemerintah dan masyarakt di Tiongkok), karena sejak itu tidak ada perubahan yang singnifikan atas hitungan tersebut, maka penghitungan itu berlanjut hingga saat ini.
Tahun Baru Imlek sebagai awal tahun yang dimulai dengan berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi di daratan Tiongkok, saat itulah petani mulai melakukan pekerjaan cocok tanam, saat yang sangat dinanti-nantikan untuk memulai pekerjaan yang akan memakmurkan keluarga. Sebagai tanda penyambutan hari itu, masyarakat bersuka ria mengadakan perayaan. Sejarah Tiongkok sangat panjang, daratan yang luas, daerah yang berjauhan serta perbedaan geografis tentu membentuk karakter, budaya dan tradisi yang berbeda di setiap daerah, maka kebiasaan atau cara yang dilakukan untuk merayakan hari itu akan berbeda di setiap daerah.

Apabila kita kembalikan kepada makna Imlek sebagai rasa syukur akan datangnya tahun baru yang juga menandai awal musim semi, maka sistem penanggalan yang diterapkan oleh Dinasti Xia (Abad ke 21—17 SM) lebih cocok dijadikan sebagai patokan awal Tahun Baru Imlek. Bukan sejak tahun pemerintahan Dinasti Ch’in (221-207 SM) yang menetapkan berdasarkan pada tahun kelahiran Khong Hu Chu (tahun 551 SM) seperti yang dipercaya sebagian besar masyarakat Tionghoa.

Adalah suatu kebiasaan umum di dalam masyarakat disana bahwa dalam suasana yang bahagia itu akan melibatkan seluruh keluarga, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari yang selalu berada dalam lingkungan yang dekat, maka pada momentum yang bahagia ini, seluruh sanak keluarga akan saling memberi hormat, terutama kepada yang lebih tua, dan sebaliknya kertas merah (lambang kehabagiaan / keberuntungan) yang disebut Angpao (atau Ya sui qian –rejeki agar awet muda/umur panjang), kebiasaan ini lambat laun menjadi adat dan tradisi di Hari Raya Imlek ini.
READ MORE - SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 3 ARTIKEL)

SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 3 ARTIKEL)

 
SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 3 ARTIKEL)

Sejarah Imlek
IMLEK merupakan penanggalan/almanak/kalender bagi suatu bangsa/etnis yang berdomisili di daratan Tiongkok (China) bagian tengah dan timur, terutama adalah suku Han dan beberapa suku lain yang merupakan mayoritas bangsa tersebut.

Sama dengan penanggalan Hijriah bagi bangsa –bangsa Arab yang berada di Timur Tengah, atau penanggalan Masehi bagi bangsa-bangsa Eropa dan lain sebagainya. Penanggalan-penanggalan ini tidak dihasilkan dari suatu eksperimen/penemuan yang didapatkan oleh seorang atau sekelompok ilmuan pada suatu tempat/ruang serta dalam kurun waktu yang tertentu, tetapi adalah hasil dari pengamatan, pencatatan, pembahasan dan perbaikan-perbaikan yang berlangsung didalam masa ke masa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun lamanya oleh suatu bangsa/etnis karena geografis, kebutuhan hidup, perabadan dan kebudayaan dari kelompok tersebut.

Dengan demikian penanggalan apapun yang dipergunakan di muka bumi ini, merupakan pemanfaatan alam semesta ciptaan Tuhan sebagai dasar untuk suatu kepentingan kehidupan manusia, dan tidak berkaitan dengan ritual ketuhanan/religius/agama yang ada dan diyakini manusia sejak sekitar 2000 tahun yang lalu.
Penanggalan / alamanak / kalender Imlek didasarkan atas gabungan perhitungan peredaran Bulan (Kalender lunar) dan peredaran Bumi mengelilingi Matahari (kelender solar). Kalender ini selain digunakan sebagai penanda harian juga digunakan untuk perayaan tertentu terhadap musim seperti misalnya Perayaan Tahun Baru sebagai awal musim semi. Kalender ini pertama kali dikembangkan satu milenium sebelum masehi.

Legenda menyebutkan pertama kali ditemukan pada kekaisaran Yellow (Huang Di) dan ditambahkan sistem kabisat pada zaman Dinasti Yao.
Karena Tiongkok (China) termasuk wilayah sub-tropis maka penanggalan pun mengacu kepada parameter equinox (posisi Matahari tepat di khatulistiwa) dan solstice (posisi Matahari terjauh di utara/selatan khatulistiwa). Perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh sistem astronomi barat melalui Jesuit dan sistem kalender Gregorian (kalender Masehi yang kita kenal sekarang).

Beberapa aturan perhitungan yang ditetapkan tahun 104 SM masih berlaku hingga sekarang, seperti Bulan adalah ”Bulan lunar”, awal hari dihitung mulai saat tengah malam (pukul 00:00) dan winter solstice selalu pada bulan ke 11 (memasuki zodiak Capricorn) serta beberapa aturan dasar lainnya.
Jadi, meskipun penanggalan bulan berdasarkan peredaran Bulan namun karena parameter equinox dan solstice di atas; Bulan pada kalender China selalu tidak jauh beriringan dengan penanggalan Masehi (berbeda dengan kalender Hijriyah yang hanya mengacu ke peredaran Bulan saja).

Sebagai contoh nyata perayaan Tahun baru Imlek selalu berada di antara akhir bulan Januari hingga minggu ketiga Februari.Masyarakat Tiongkok di daratan pada awalnya adalah masyarakat agraris yang kehidupannya sangat tergantung pada iklim dan kesuburan tanah.
Daratan Tiongkok memiliki 4 macam iklim yang berbeda (musim Semi, Panas, Gugur dan Dingin), maka para petani sangat mengandalkan pengetahuan iklim untuk melakukan rutinitas pertanian, dan para nelayan yang hidup disepanjang pantai serta pelayaran perlu mengetahui keadaan cuaca dengan benar pula, kebutuhan kehidupan inilah yang mendesak manusia untuk memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim dan menjadi sangat vital.
Dengan demikian, perayaan Imlek pada awalnya dimaknai sebagai rasa syukur masyarakat agraris Tiongkok karena telah lepas dari musim Dingin dan memasuki musim Semi yang baik untuk pertanian. Akurasi penanggalan ini dapat dilihat antara lain pada saat Bulan Purnama yang selalu tepat jatuh pada tanggal 15.

Sumber: belajarbuddha.blogspot.co.id
READ MORE - SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 3 ARTIKEL)

KISAH INSPIRATIF: Inilah Wejangan Pakar Fengshui Li Ka-Shing Yang Terkenal


 
KISAH INSPIRATIF:

Inilah Wejangan Pakar Fengshui Li Ka-Shing Yang Terkenal
Li Ka shing (Hanzi : 李嘉誠; Pinyin : Lǐ Jiāchéng) taipan dari Hongkong selama bertahun-tahun berada di peringkat orang terkaya se Asia. Ia pernah berkata, “Rezeki kecil tergantung pada upaya manusia, rezeki besar tergantung pada Tuhan.”
Tampaknya ia sedang mengatakan bahwa segala hal adalah takdir. Paman Chen adalah salah satu dari 10 besar guru Fengshui di Hong Kong. Konon Ia adalah guru Fengshui yang selalu menjadi ‘jujukan’ taipan Li Ka shing. Kisah diantara mereka berdua bagaikan sebuah legenda, baru-baru ini pesan terakhir paman Chen sebelum meninggal tersebar hangat di internet.
Chen Lang adalah nama asli paman Chen, ia pengikut agama Tao yang taat, sangat piawai dalam memandang aura seseorang, mampu menceritakan dengan rinci nasib masa lalu dan akan datang sang penanya. Konon keakuratan ramalannya sangat menakjubkan.
PROMOTED CONTENT
by Mgid

Kehilangan 14 kg dalam 2 Minggu Tanpa Olahraga
Orang-orang terkenal Hong Kong yang pernah diramal oleh paman Chen adalah Lee Shau Kee, Cheng Yutung, Carina Lau, Zhang Xiaohui, Albert Yeung, Joey Yung, Nicholas Tse, Gigi Lai, Ray Lui dan lainnya. Selain itu ada almarhum Raja Thailand Bhumibol dan almarhum mantan Presiden Soeharto dari Indonesia; dimana kabarnya mereka semua pernah bertandang ke paman Chen.

Paman Chen pertama kali berjumpa dengan Li Ka shing di sebuah perjamuan makan. Ketika itu Li Ka shing baru berusia 30 tahun dan masih berstatus seorang pedagang kecil. Paman Chen meramalkan nasibnya, disusul dengan pertanyaan, “Berapa banyak harta kekayaan yang Anda harapkan kelak, baru Anda merasa puas?”
Pada saat itu Li Ka shing menjawab, jika memiliki 30 juta HKD (50 miliar rupiah) sudah sangat puas. Paman Chen malah berkata, gudang harta dalam kehidupan Anda tidak lumrah, tapi melimpah ruah, kelak Anda pasti menjadi orang terkaya Hong Kong!
Li Ka shing terlahir di keluarga miskin. Pada tahun 1940, Li Ka shing yang berusia 12 tahun, berasal dari Chaozhou propinsi Guangdong berimigrasi ke Hong Kong. Pada usia 14 tahun ia terjun ke dunia perdagangan; usia 22 tahun ia berbisnis secara resmi. Pada tahun 1958 Li Ka shing mulai berinvestasi di pasar real estate.
Melalui perjuangan dan upaya yang tak kenal lelah, ia menjadi pengusaha Tiongkok yang paling sukses di seluruh dunia. Sekarang Li Ka shing memimpin Cheung Kong Holdings, Hutchison Whampoa, Hong Kong Electric Holdings Limited, Li Ka shing Foundation dan grup perusahaan lainnya.
Pesan wasiat paman Chen
Paman Chen meninggal dunia di rumah sakit Yanghe pada 29 November 2003 dalam usia 78 tahun.
Sebelum meninggal ada banyak konglomerat secara pribadi berkunjung ke rumah sakit,. Paman Chen juga dengan tulus memaparkan pada para hartawan itu bahwa ia hanya sekedar membantu mereka yang asetnya setara dengan kekayaan sebuah Negara, dalam hal “pengunduhan kekayaan” dan “resep rahasia menjadi kaya”.
Sebelum ajal menjemput, paman Chen mengatakan, “Mengapa saya mau membantu kalian, adalah karena hanya kalianlah yang bisa memberi bantuan kepada orang yang lebih banyak.” Ia lanjut mengatakan sebelum ajalnya menjemput :
“Sesungguhnya berkah kalian orang-orang kaya yang ini bukan diberkahi dari satu siklus kehidupan saja, melainkan kumpulan berkah dari perilaku kebajikan yang telah terakumulasi dalam banyak kali siklus kehidupan lampau; seperti berbakti pada orang tua, menghormati guru dan beramal pada semua makhluk kehidupan, barulah bisa meraih berkah seperti sekarang ini”
Sekarang ini banyak sekali orang yang salah jalan, dimana hendak menghasilkan uang dengan menggunakan cara kekuasaan atau pengetahuan iptek modern.
Itu karena mereka tidak tahu bahwa ini semuanya adalah ‘Yuan‘ (緣; jodoh, akibat, memanen berkah); sesungguhnya diri Anda sendirilah yang harus memiliki ‘Yin‘ (因; menanam sebab)’ terlebih dahulu dengan melakukan berbagai kebajikan mengumpulkan beraneka pahala. Apabila tidak ada unsur ‘Yin’ tersebut maka saya juga tidak bisa membantu.
Mengapa sekarang ini saya harus menderita (melakukan operasi tiga kali di Hong Kong dan mengalami banyak penderitaan selama di RS)?
Karena walaupun niatan saya baik dengan membantu kalian mengubah ‘Yuan’, agar kalian bisa sukses lebih awal dan bisa membantu orang lebih banyak; namun bagaimanapun hal ini bertentangan dengan ‘Tiandao’ (天道; jalan atau aturan langit), maka saya masih harus menerima hukuman Langit, karena sang Pencipta juga mempunyai rencana sendiri.
Fengshui indonesia
Jika mau sukses, selain diri sendiri harus menanamkan ‘sebab’ (berkah yang berezeki), juga masih harus memiliki jodoh yang baik. Pepatah kuno mengatakan ‘keramahan melahirkan kekayaan’ adalah kebijaksanaan yang terkumpul selama ribuan tahun.
Memperlakukan orang lain harus dengan tulus dan jujur, raut wajah ramah, baru bisa mengikat ‘jodoh orang baik’, karena orang-orang tersebutlah yang akan membantu Anda mencapai kesuksesan. Jangan sekali-kali setelah kaya lantas berbicara kasar dan sombong. Hal itu bisa mengurangi berkah. Dalam kitab kuno aliran Tao ‘Yi Jing’ dikatakan :
“Sombong itu merugikan, Rendah hati itu menguntungkan”
Moral zaman sekarang amat buruk. Semua orang demi reputasi dan keuntungan pribadi menghalalkan segala cara. Masalah umumnya masih terletak pada tidak adanya ajaran suci (pendidikan budi pekerti), tiada lagi rasa malu, lebih-lebih moral kebajikan dan keadilan.
Jika kalian ingin mempertahankan kekayaan dan berkedudukan tinggi generasi demi generasi, hal terpenting yang harus dilakukan adalah bagaimana membangkitkan ajaran suci (pendidikan budi pekerti) itu. Karena jika semua orang memiliki rasa malu, maka bencana yang dibuat manusia menjadi sedikit. Apabila bencana manusia sedikit, maka dengan sendirinya bencana alam akan berkurang.
Kalian semua berpengaruh besar; dirikanlah beberapa sekolah bagus, binalah guru yang baik, kembangkanlah pendidikan budi pekerti tersebut.
Jika Tiongkok tentram maka dengan sendirinya orang-orang dari berbagai tempat dunia akan datang untuk belajar. Melakukan hal ini adalah menanam berkah yang paling besar di dunia modern. Dengan melakukan kebajikan yang paling besar ini, maka siapa yang melakukan hal ini maka dialah yang akan mendapatkan manfaat, mendapatkan kemuliaan besar dan kedudukan tinggi generasi demi generasi.”
Pesan terakhir dari paman Chen ini tersebar luas di internet, meski kebenarannya tidak jelas. Namun dari wejangan itu bisa dipahami bahwa kekayaan dan kedudukan tinggi seseorang di masa sekarang adalah hasil dari pengumpulan pahala dan perilaku kebajikan dari banyak kehidupan-kehidupan masa lalu.
Dan apabila ingin kekayaan dan kedudukan tinggi tersebut berkesinambungan, maka harus terus berjalan lurus. Karena jika tidak, maka akan sangat cepat kehilangan berkah itu lagi. 
READ MORE - KISAH INSPIRATIF: Inilah Wejangan Pakar Fengshui Li Ka-Shing Yang Terkenal

Asal Usul dan Kisah Kwan Im Tangan Seribu



Asal Usul dan Kisah Kwan Im Tangan Seribu
Kwan Im Po Sat atau Guan Yin Phu Sa, sering disebut juga dengan Kwan Shi Im Po Sat atau Guan Shi Yin Phu Sa, yang sesungguhnya merupakan terjemahan secara harafiah dari bahasa Sansekerta :
Avalokitesvara Bodhisatva, yang memiliki arti :
- Avalokita (Koan / Guan / Koan Si / Guan Shi), berarti melihat ke bawah, mendengarkan ke bawah. Bawah disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita).
- Isvara (Im / Yin), berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya.


Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Koan Im Po Sat terkenal juga dengan nama Dewa Kanon.

Sewaktu agama Buddha memasuki daratan Tiongkok, pada jaman dinasti Han, Avalokitesvara awal mulanya diperkenalkan sebagai sosok seorang pria. Dengan berjalannya waktu, dan juga karena pengaruh dari ajaran Tao dan Khong Hu Cu, maka menjelang era dinasti Tang, akhirnya Avalokitesvara ditampilkan sebagai sosok seorang wanita.

Dari pengaruh ajaran Tao, perubahan ini mungkin terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara, mereka telah memuja dewi Tao yang biasa disebut ‘Niang-niang’. Karena adanya legenda puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut ‘Guan Yin Niang Niang’, sebagai pendamping Avalokitesvara pria. Lambat laut tokoh Avalokitesvara pria mulai dilupakan orang, dan sebaliknya tokoh Guan Yin Niang Niang menggantikan posisinya dengan sebutan Guan Yin Pu Sa.
Dari pengaruh ajaran Khong Hu Cu, mereka beranggapan bahwa kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang dewata pria. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sebagai keinginan Koan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang wanita, agar ia dapat lebih leluasa menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongannya.

Dari sini jelaslah bahwa sesungguhnya tokoh Avalokitesvara memang berasal dari India, namun tokoh Koan Im Po Sat (Guan Yin Pu Sa) adalah asli seratus persen bersifat Tionghoa dan dipengaruhi oleh ajaran Taoisme. Avalokitesvara memiliki tempat suci di gunung Potalaka – Tibet, sedangkan Koan Im Po Sat memiliki tempat suci di gunung Pu Tao Shan – di kepulauan Zhou Shan, Tiongkok. Jadi jelaslah bahwa tokoh Avalokitesvara merupakan pendorong awal timbulnya tokoh Koan Im Po Sat .

Qian Shou Guan Shi Yin Pu Sa

Dewasa ini tokoh Koan Im Po Sat di-identik-kan dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari raja Miao Zhuang dari negeri Xing Lin. Raja Miao Zhuang memerintah kira-kira pada akhir dinasti Zhou (abad 3 SM). Diceritakan bahwa sebenarnya raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah tiga orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu, yang kedua bernama Miao Yin dan yang bungsu bernama Miao Shan.

Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, dan yang kedua memilih seorang jendral perang sebagai suaminya. Sedangkan puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah, tetapi ia malah meninggalkan istana dan menjadi bhiksuni di klenteng Bai Que Shi.

Berbagai cara diusahakan oleh raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah. Tapi puteri Miao Shan tetap berteguh pada pendiriannya. Hingga pada suatu ketika, raja Miao Zhuang habis kesabarannya. Diperintahkannya para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati puteri Miao Shan.

Kwan im berjubah putih 白衣觀音

Setelah kematiannya, arwah puteri Miao Shan berjalan-jalan di neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, maka Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Akibat doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci, maka suasana neraka segera berubah menjadi seperti sorga. Penguasa akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung setengah mati. Akhirnya arwah Miao Shan diperintahkan kembali ke badan kasarnya.

kwan im cahaya terang beserta kedua murid
Begitu bangkit dari kematiannya, Buddha Amitabha (O Mi To Hud) muncul di hadapan Miao Shan, dan memberikan buah persik dewa. Akibat makan buah persik dewa itu, Miao Shan tidak lagi mengalami rasa lapar, ketuaan maupun kematian. O Mi To Hud lalu menganjurkan agar Miao Shan berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari dewa Bumi (tu ti kong).
Sembilan tahun berlalu, suatu ketika raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib dan obat telah dicoba, tetapi tidak satupun yang membawa hasil. Puteri Miao Shan yang mendengar berita itu, lalu menyamar menjadi seorang pendeta tua dan datang menengok. Namun ternyata sang raja telah wafat.


yáng liǔ guānyīn

Dengan kesaktiannya, puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahnya dibawa masuk ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena bhaktinya, maka puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong ayahnya. Pada saat akan menolong ayahnya melewati gerbang dunia akherat, puteri Miao Shan dan ayahnya dikerubuti setan-setan kelaparan. Agar Ia dan ayahnya dapat melewati setan-setan kelaparan itu, puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan. 


Setelah hidup kembali, raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti puteri ketiganya sungguh luar biasa. Ia menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan, dan bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Buddha.


Sementara itu, rakyat yang mendengar perbuatan Miao Shan yang amat berbhakti, hingga rela mengorbankan tangannya, menjadi terharu. Mereka berbondong-bondong membuatkan tangan palsu untuk puteri Miao Shan. O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, kemudian merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahnya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Miao Shan. Lalu Ji Lay Hud memberinya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Pu Sa, yang artinya Bodhisatva Koan Im penolong kesukaran yang bertangan dan bermata seribu yang tak ada bandingnya.

Dalam bagian lain dikisahkan bahwa pada saat Koan Im diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, ia menggunakan kesaktiannya itu untuk melawan mereka. Ia merubah dirinya menjadi bertangan seribu dan bermata seribu, dengan masing-masing tangan memegang senjata yang berlainan.

Kisah Koan Im tangan seribu ini juga banyak versinya, antara lain yang cukup dikenal ialah cerita saat puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah menjadi berkeping-keping. O Mi To Hud yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan seribu tangan dan seribu mata, sehingga Koan Im dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.
Koan Im dengan tangan seribu ini dikenal dengan sebutan Jeng Jiu Koan Im (Qian Shou Guan Yin).


Dalam legenda puteri Miao Shan, juga diceritakan bahwa kakak-kakak Miao Shan setelah bertobat dan mencapai kesempurnaan, mereka diangkat sebagai Po Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Po Sat (Wen Shu Pu Sa) dan puteri Miao Yin sebagai Po Hian Po Sat (Pu Xian Pu Sa).


Diceritakan pula bahwa pada saat pelantikan puteri Miao Shan menjadi Po Sat, Miao Shan ‘diberi’ dua orang pengawal, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau gadis kumala dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau jejaka emas.

Long Ni asalnya adalah cucu dari Liong Ong (raja naga), yang diberi tugas menyerahkan mutiara ajaib kepada Koan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Ternyata Long Ni justeru ingin menjadi murid Koan Im dan mengabdi kepadanya.
READ MORE - Asal Usul dan Kisah Kwan Im Tangan Seribu
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.