Asal Usul Tian Gong /Thi Kong 天公 Dan Legenda Rakyat Minnan

Foto Kisah Para Dewa dan Ajaran Tao. 
Asal Usul Tian Gong /Thi Kong 天公 Dan Legenda Rakyat Minnan
Penulis Ardian Cangianto, Disadur kembali oleh Kisah Para Dewa
Beberapa hari yang lalu ada teman yang minta pendapat saya soal Yuhuang Shangdi 玉皇上帝dan minta saya buat satu tulisan, hati sebenarnya malas karena bisa jadi pendapat saya ini bisa membuat orang Hokian di Indonesia yang sembahyang Yuhuang/ Tian Gong jidatnya berkerut. Tapi teman itu POmendesak saya berkali-kali sampai saya mengiyakannya.
Banyak masyarakat yang percaya Yuhuang Shangdi dipuja masyarakat Hokian dan tanggal 9 bulan 1 Imlek adalah hari penting dikaitkan dengan Yuhuang. Legenda yang beredar tidak pernah sama tapi memiliki inti kesamaan bahwa mereka tidak bisa merayakan tahun baru karena ada bencana peperangan atau kejahatan, misalnya jendral Meng 孟將軍dan pembantaian terhadap orang Min pada masa purba, dengan melihat namanya ada kemungkinan dikaitkan dengan dinasti Qin, kekacauan Huangchao 黃巢masa Tang, bajak laut Jepang yang merampok desa-desa sepanjang pesisir Min selatan, pembantaian pada masa dinasti Qing saat menghancurkan kekuatan Zheng Chenggong 鄭成功dan legenda diatas terkait dengan perkebunan tebu tempat mereka bersembunyi.
Kenapa tebu ? Tebu adalah bahan dasar untuk membuat gula dan salah satu produk pertanian dari Fujian Selatan adalah gula. Tebu akhirnya menjadi salah satu persembahan yang utama dan biasanya dua batang tebu utuh lengkap dengan daun yang ditaruh di depan pintu, baik pintu rumah maupun pintu kelenteng di daerah Fujian, Taiwan dan Asia Tenggara yang dilakukan oleh orang-orang Minnan. Jadi dengan melihat produk pertanian itu kita bisa melihat mengapa orang Minnan menggunakan tebu.
Dalam buku-buku yang terkait budaya serta kepercayaan Tionghoa, tanggal 9 bulan 1 Imlek adalah hari perayaan Yuhuang Shangdi, di buku-buku yang terkait dengan kepercayaan orang Minnan dan Taiwan juga disebutkan hal yang sama dan ditambahkan sebagai ucapan terimakasih kepada Yuhuang Shangdi atau Tian Gong. Sejak kapan kepercayaan tanggal 9 bulan 1 itu timbul ? Tanggal ini lahir di jaman Song, salah satunya adalah “Catatan Mimpi Liang” 夢梁錄.
Dalam kronik Song 宋史 dituliskan bahwa kaisar Song Zhenzong bermimpi bertemu utusan Yuhang Shangdi. Yuhuang Shangdi berasal dari kepercayaan purba dan diserap oleh Taoisme kemudian ditata dan dibuat hari lahirNya lengkap dengan tahun dan jam, ini saya katakan diserap karena dalam salah satu syair Bai Juyi menyebut Yuhuang. Ini pernah saya utarakan di Cikarang beberapa tahun yang lalu dan salah satu pendengarnya bapak Budiono Tantrayoga yang saya yakin ia bisa mengerti mengapa tanggal lahir Yuhuang dipilih tanggal itu, karena bapak Budiono Tantrayoga adalah praktisi Bazi yang paham kosmologi Yin Yang dan kaitannya dengan numerology. Dalam kitab Yuhuang Jing 玉皇經 atau lengkapnya高上玉皇本行集經 yang diperkirakan dibuat pada masa akhir Tang dan Song awal, masuk dalam Taoism Canon 道藏, ditulis bahwa Yuhuang Shangdi lahir pada tahun bingwu ( kuda api ) 丙午年, bulan 1 tanggal 9 jam 12 siang 午時. Tanggal lahir ini menarik untuk disimak, coba kita lihat angka 1 dan 9 adalah angka awal dan angka puncak/akhir, semua komponennya adalah unsur positif termasuk jamnya dan jika ada yang mau mengkaji dari sudut bazi, menurut saya tidak tepat karena komponen pilar bulan dan tanggal tidak lengkap, ini hanya terkait dengan kosmologi Tionghoa yang mengartikan bahwa Yuhuang Shangdi adalah yang tertinggi dan asali untuk tiga alam tapi bukan berarti tertinggi. Tanggal itu memiliki arti yang terkait dengan kosmologi Tiongkok.
Di banyak kelenteng di Tiongkok, Taiwan dan Asia Tenggara sering kali digambarkan Yuhang Shangdi membawa chaojian, bilah papan bawahan untuk menghadap atasan, hal ini tidak perlu diherankan karena Yuhuang Shangdi ada dalam alam Taiji atau surga ke 33 dan masih ada surga ke 34 hingga 36 yang bagi saya artinya sudah melampaui tiga alam yang terkait dengan manusia yaitu alam manusia, alam langit dan alam bumi, karena itulah Yuhuang Shangdi adalah bawahan dari Sanqing Tianzun.
Jika ada pertanyaan mengapa tradisi tanggal 9 bulan 1 itu berkembang luas di rakyat Minnan, kita perlu mengkaji perkembangan Taoisme di Minnan itu sendiri, salah satu aliran yang berkembang luas adalah aliran Lvshan 閭山派 dan tentunya selain aliran itu masih banyak lagi seperti aliran Beiji pai 北極派, Shenxiao 神霄, Qingwei 清微 dan lainnya. Jika saya melihat praktek rakyat Minnan terutama dalam mediumshipnya terlihat pengaruh kuat aliran Lvshan dan ini tidak terlihat di masyarakat Hakka dan Konghu. Pengaruh Taoisme di daerah Minnan sudah ada sejak dinasti Jin dan berkembang meluas karena Taoist di daerah selatan lebih banyak yang berafiliasi dengan aliran Tianshi atau yang disebut dengan aliran Zhengyi dan mengakar kuat dalam masyarakat Minnan ini. Bisa jadi untuk mengembangkan tradisi penghormatan Yuhuang Shangdi ini maka dibuatlah legenda-legenda seperti yang saya tuliskan di atas, karena perlu dicatat bahwa semua kelenteng yang berafiliasi Taoism di Tiongkok pasti akan mengadakan upacara sembahyang pada tanggal lahir Yuhuang Shangdi ini. Di kalangan rakyat jelata terutama di daerah selatan, kitab Yuhuang 玉皇經 itu sebenarnya adalah kitab Sheng Yuan Jue聖源覺 dan jika saya menilik isinya, saya perkirakan lahirnya itu disekitar abad ke 19.
Tradisi lainnya yang masih bisa dikaitkan dengan angka 9 ini atau ya bisa kita katakan terkait dengan Yuhuang atau pemimpin tertinggi di tiga alam adalah sembahyang di beberapa kelenteng. Tradisi ini tidak hanya dikenal di kalangan orang Minnan saja tapi juga ada dalam tradisi Hakka. Tradisi Hakka ini biasanya pada malam 30 sembahyang leluhur dan tentunya juga tradisi ini ada pada sub etnis lainnya, pada tanggal 1 Imlek, masyarakat Hakka pada umumnya setelah sembahyang di kelenteng, mereka akan sembahyang pada dewa-dewa alam dengan mendatangi shrine dewa sumur, dewa sawah, dewa jembatan ( untuk dewa jembatan, saya pernah memfoto di daerah Kota, Jakarta tapi beberapa tahun kemudian saat saya kembali untuk melihatnya, sudah lenyap ).
Tradisi ini kemudian berubah menjadi tradisi sembahyang di banyak kelenteng, tapi dibatasi hingga 8 kelenteng. Jika kita perhatikan bahwa malam 30 mereka sembahyang di altar leluhur dimana artinya adalah pusat maka yang 8 adalah lambang hamparan alam semesta ( Bagua ) dan total adalah 9 yang berarti tertinggi. Selain itu adalah hio pertama yang ditancapkan di kelenteng 搶頭香 juga dilakukan oleh masyarakat Yue 粵, Min 閩 dan Ke 客. Contohnya adalah lelang touxiang 頭香 di Longmu miao 龍母廟 di Guangdong yang dilelang hingga jutaan RMB sedangkan di Taiwan, upacara ini menjadi satu hiburan yang menarik dan diperlombakan tapi ada juga yang mengubahnya dengan cara mengumpulkan hio yang dibawa oleh mereka yang ke kelenteng pada saat pagi hari dan menancapkannya sekaligus.
Semoga dengan paparan saya ini, bisa menambah wawasan teman-teman terutama yang masih beranggapan bahwa tanggal 9 bulan 1 Imlek adalah tradisi rakyat Minnan belaka dan menyadari bahwa tradisi tebu itu lebih terkait pada pertanian tebudan produk pertaniannya dimana Minnan dahulu merupakan salah satu sumber gula tebu di Tiongkok walau cara pembuatannya sudah ada sejak jaman dahulu kala dan dibudidayakan di wilayah lain Tiongkok. Dan dengan mengkaji tanggal lahir Yuhuang Shangdi, saya berkesimpulan bahwa tanggal tersebut bukan dibuat sembarangan apalagi dengan dasar dongeng, tapi berkaitan dengan kosmologi Tiongkok.
Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa
Daftar Pustaka :
閩南宗教
中國秘密宗教
台灣人的祀神與祭禮
台灣人的歲時與節俗
高上玉皇本行集經
華夏諸神
道學通典
聖源覺
READ MORE - Asal Usul Tian Gong /Thi Kong 天公 Dan Legenda Rakyat Minnan

Penciptaan Dunia (Mitologi Tiongkok)

seperti yang kita tahu itu.
Accordint ke kala cina, pada awalnya tidak ada di alam semesta yang gelap, formless kekacauan. Pahlawan Mitis Pangu, yang telah tidur dalam kekacauan selama 18,000 tahun, bangun. Ketika dia menyadari bahwa dia ke gelap ini kacau dan lingkungan, dia memutuskan untuk istirahat. Dengan-nya. Dia mengayunkan kapak raksasa untuk menghancurkan melalui kekacauan. Berikut ini lebih ringan bagian dari semesta untuk bangkit dan menjadi langit, sementara berat pada bagian bawah dan menjadi bumi. Dalam rangka untuk menjaga langit dan bumi dipisahkan, pangu berdiri di antara mereka dan mengerahkan dirinya untuk push up langit. Dengan setiap hari tumbuh lebih tinggi langit dan bumi tumbuh lebih luas.
Setelah 18,000 tahun lagi di nascent semesta, pangu berpikir pekerjaannya dilakukan dan dia berbaring untuk istirahat. Maka napas nya menjadi awan dan angin itu menjadi suara petir; mata kiri menjadi matahari dan bulan dengan mata kanan. Rambutnya menjadi bintang di langit. Darahnya menjadi sungai dan danau; otot menjadi tanah yang subur) menjadi tulang Mineral; keringat jatuh sebagai hujan; dan bulu menjadi padang rumput dan hutan.
Itu adalah awal dari dunia.










READ MORE - Penciptaan Dunia (Mitologi Tiongkok)

3. Yu Huang Da Di dalam Buddhisme dan Cerita Asal Usul 12 Shio



Dalam Buddhisme, Yu Huang Dadi disamakan dengan Dewa Śakra atau Indra dan merupakan pelindung dharma (Dharmapala). Dalam Shurangama Mantra, nama dia diucapkan sebagai Yin Two La Ye (Namo Yin Two La Ye, 南 無 因 陀 羅 耶). Dia tinggal di Surga Trayastrimsa (Bahasa Sanskerta yang berarti Surga Tiga Puluh Tiga) di puncak Gunung Sumeru, dikelilingi masing-masing 8 surga di keempat penjuru mata angin. Tingginya adalah 80.000 yojana, dan kotanya yang bernama Kota Berpemandangan Indah terbuat dari tujuh jenis materi berharga serta tingginya adalah 60.000 yojana. Istana Sakra berada di tengah kota, terbuat dari permata-permata paling berharga.[1]

Birokrasi Surga

Kaisar Giok memerintah seluruh Surga, Bumi, dan Dunia Bawah/ Neraka dengan dibantu sangat banyak pembantu sipil dan birokrat. Dia memutuskan dan membagikan pahala dan pengampunan kepada para orang suci, yang hidup, dan yang telah meninggal berdasarkan suatu sistem welas asih yang disebut Naskah Emas Prinsipal Giok. Pengadilan Surgawi tersebut menyerupai pengadilan kerajaan di dunia manusia; terdapat prajurit, birokrat, keluarga kerajaan, dan bangsawan. Setiap departemen diawasi oleh sesosok Dewa atau Roh Suci.[3]

Kedua asisten Yu Huang adalah Cheng Huang dan Tu Di Gong yang menulis laporan keadaan dunia. Setiap kota memiliki sesosok Cheng Huang (Dewa Kota) yang melindungi. Dia tidak hanya melindungi kota dari serangan, tetapi juga menjaga agar "Dewa Kematian" tidak mengambil nyawa melebihi apa yang diotoritaskan kepadanya. Tu Di Gong adalah Dewa Bumi lokal (kota, desa, jalan, rumah). Meskipun tidak terlalu berkuasa, tetapi dia adalah birokrat Surga yang paling sederhana dan paling dekat dengan manusia sehingga siapapun dapat dengan mudah memohon pertolongannya. Biasanya dia digambarkan sebagai seorang tua yang ramah. Setiap tahun, asisten yang ketiga, Zao Jun, mengirimkan laporan tingkah laku manusia kepada Yu Huang.[3]

Asal Usul 12 Shio

Sunting
Terdapat beberapa versi kisah tentang bagaimana kedua belas binatang Shio terpilih. Salah satunya, Yu Huang, meskipun memimpin Surga dan Bumi secara adil dan bijak selama bertahun-tahun, tetapi tidak memiliki waktu untuk benar-benar mengunjungi bumi secara langsung. Dia menjadi penasaran bagaimana wujud makhluk hidup yang tinggal di atasnya. Akhirnya dia meminta semua binatang untuk datang mengunjunginya. Kucing adalah binatang paling tampan dari segala hewan, ia meminta tikus temannya untuk membangunkannya di hari mereka berangkat ke Surga sehingga ia tidak kesiangan. Si tikus sebenarnya merasa khawatir dirinya terlihat jelek saat bersanding dengan kucing sehingga ia tidak membangunkan temannya itu. Akibatnya kucing ketinggalan pertemuan dengan Kaisar Giok dan digantikan oleh babi. Yu Huang merasa terpuaskan oleh kehadiran hewan-hewan tersebut dan memutuskan untuk membagi dua belas tahun di antara mereka. Setelah kucing terbangun dan mengetahui apa yang terjadi, ia menjadi murka dengan tikus dan bermusuhan hingga sekarang.

Dalam daftar shio Vietnam dan Jepang, kucing menempati posisi kelinci.
READ MORE - 3. Yu Huang Da Di dalam Buddhisme dan Cerita Asal Usul 12 Shio

2. Legenda-legenda Kaisar Giok atay Yu Huang Da Di (Giok Hong Siang Tee, Hokkian)

Yu Huang Da Di banyak dikisahkan atau muncul dalam berbagai cerita legenda di China.

Asal-usul

Dikisahkan bahwa Yu Huang sebenarnya merupakan putera mahkota Negeri yang Bercahaya Terang Benderang dan Elok penuh Suka-cita (Hanzi: 光嚴妙樂;hanyu pinyin: Guang Yan Miao Le). Ayah dia adalah Raja Jing De Guo Wang (淨德國王; Hokkien= Ceng Tee; lit. "Dermawan Suci-Murni") dan ibu dia Ratu Bao Yue Guang Wang Hou (寶月光王后; "Cahaya Rembulan yang Indah").[2][3] Negeri tersebut berada di daratan Tiongkok pada masa yang sangat lampau. Rakyatnya semua hidup bahagia, apa yang dikehendaki pasti akan terkabul.[4]

Raja dan permaisuri telah berusia lanjut, tetapi belum memiliki putera sebagai penyambung keturunan dan melanjutkan tahta kerajaan. Selama bertahun-tahun mereka berdoa kepada Thian, hingga suatu malam permaisuri bermimpi bertemu dengan Tai Shang Lao Jun yang sedang mengendarai kereta naga emas. Ia sedang menggendong anak kecil yang bercahaya, sang permaisuri memohon agar bayi itu diserahkan kepadanya. Tai Shang Lao Jun bersedia dan tak lama kemudian permaisuri hamil, setelah sembilan bulan melahirkan seorang putera.[4]

Saat kelahirannya, Yu Huang memancarkan cahaya luar biasa yang memenuhi seluruh kerajaan. Saat masih muda, dia sangat baik, pandai, dan bijak. Ia mengisi seluruh masa kanak-kanaknya dengan menolong yang membutuhkan (yang miskin dan menderita, yang ditinggalkan dan sendirian, yang lapar dan lumpuh). Terlebih lagi, ia menghormati dan murah hati kepada manusia dan semua makhluk.

Setelah ayahnya meninggal, dia naik tahta. Ia memastikan setiap orang di kerajaannya menemukan kedamaian dan tercukupi. Setelah itu, Yu Huang mengatakan kepada para menterinya bahwa dia ingin mempelajari Tao di atas Tebing Terang dan Harum.

Setelah 1.550 kalpa, tiap kalpa adalah sepanjang 129.600 tahun, dia menerima Keabadian Emas (versi lain menetapkan bahwa dia memperoleh keabadian setelah melewati 1.750 ujian yang masing-masing adalah sepanjang 120.976 tahun[1]). Setelah seratus juta tahun pelatihan selanjutnya, akhirnya dia menjadi Yù Dì (berdasarkan penjabaran tersebut, panjang periode sebelum dia menjadi Kaisar Giok adalah sekitar 300.880.000 tahun).

Menolong manusia

Pada saat menjadi raja manusia, Yu Huang sangat bijaksana dan penuh welas-asih. Ia pergi bertapa dan menyelidiki sebab-musabab penyakit dan kematian pada diri manusia ke Siu Yen di negeri P'u Ming (Negeri yang Selalu Bercahaya) yang berada di Selatan. Setelah menemukan pengetahuan tentang kesukaran yang dialami umat manusia pada masa itu, ia kembali dan mengajarkan pengetahuan tersebut kepada rakyatnya.[4]

Setelah mangkat, raja yang bijaksana itu hidup abadi di langit. Ia selalu mengamati bumi dan terharu melihat keadaan manusia di bumi yang penuh kesukaran. Karena tidak tahan lagi melihat penderitaan umat manusia, 800 tahun kemudian ia memutuskan untuk turun sekali lagi ke bumi. Bumi ia tata kembali, hujan membasahi tanaman, bunga memenuhi bumi yang gersang dan sunyi, satwa dan unggas terbang dengan gembira, burung-burung bercicit menyemarakkan hutan yang sunyi, rakyat bersorak gembira menyambut tahun baru yang disemarakkan musim semi. Karena bukan penduduk bumi lagi, raja bijaksana harus kembali ke langit, tetapi ia berjanji untuk datang setiap tahun untuk membahagiakan umat manusia.[4]

Ribuan tahun kemudian, umat manusia mulai kehilangan makna kebahagiaan yang diberikan oleh raja bijaksana dan di mana-mana kejahatan mulai timbul. Saat ia turun untuk yang terakhir kalinya, manusia justru menangkap dan menganiayanya. Dengan kekuatannya, ia dapat bebas, tetapi tidak bersedia untuk datang lagi ke bumi. Rakyat baru menyadari siapa sosok yang baru saja mereka aniaya, tetapi semua sudah terlambat. Semenjak saat itu,manusia menyebutnya sebagai Yu Huang Da Di.[4]

Memusnahkan kejahatan

Salah satu legenda mengisahkan bagaimana Kaisar Giok menjadi pemimpin semua dewata di surga. Ini adalah salah satu dari sedikit legenda yang menampilkan Kaisar Giok benar-benar menunjukkan kekuatannya.

Pada permulaan waktu, bumi masih sukar untuk ditinggali; jauh lebih keras daripada zaman sekarang. Orang-orang sangat sulit bertahan hidup; tidak hanya mereka harus menghadapi kondisi yang sukar, tetapi juga karena ada banyak monster yang berkeliaran. Pada masa itu para dewata yang melindungi juga masih sedikit. Juga ada banyak iblis jahat serta kuat yang merusuhi para dewata di langit. Saat itu Kaisar Giok masih dewa biasa yang berkelana di muka bumi untuk menolong sebanyak mungkin manusia sesuai kesanggupannya. Ia merasa sedih karena kemampuannya terbatas dan hanya dapat meringankan penderitaan manusia. Dia memutuskan untuk undur diri pada sebuah gua di suatu gunung dan berlatih Tao kembali. Ia melampaui 3.200 ujian, setiap ujian adalah selama 3 juta tahun.

Sayangnya sesosok makhluk jahat yang sangat kuat—iblis, yang berdiam di bumi—berambisi untuk mengalahkan semua dewata dan roh-roh suci di surga serta memproklamirkan penguasaan atas seluruh alam semesta. Makhluk jahat tersebut juga undur diri bertapa untuk meningkatkan kekuatannya, saat itu Kaisar Giok sudah memulai pertapaannya. Ia melewati 3000 ujian, masing-masing sepanjang 3 juta tahun pula. Setelah melewati ujian terakhirnya, ia merasa yakin bahwa tidak ada yang bisa mengalahkannya. Ia kembali ke dunia dan merekrut pasukan iblis dengan tujuan menyerang surga.

Para dewata yang sadar akan bahaya tersebut segera mempersiapkan diri untuk perang. Namun mereka tidak mampu mengalahkan iblis maha kuasa itu dan semuanya terkalahkan.

Untungnya Kaisar Giok sudah menyelesaikan pelatihannya pada saat perang tengah berkecamuk. Ia mengubah dunia agar lebih mudah ditinggali oleh manusia dan mengusir semua jenis monster. Tiba-tiba dia melihat aura kejahatan bersinar dari surga dan menyadari ada sesuatu yang salah. Ia terbang naik dan melihat tengah terjadi perang di surga, para dewa yang ada tidak ada yang sanggup menahan iblis yang teramat kuat yang menyerang mereka. Kaisar Giok menengahi dan menantang si iblis sehingga keduanya bertarung. Gunung-gunung berguncang dan sungai serta lautan bergejolak; akhirnya Kaisar Giok menjadi pemenang karena pelatihannya yang yang lebih mendalam dan bijak, bukan untuk kekuatan tetapi untuk kewelasasihan. Setelah mengalahkan si iblis, semua iblis yang lain dicerai-beraikan oleh para dewata dan roh-roh suci.

Karena tindakan dia yang mulia dan bajik, para dewata, roh-roh suci, dan manusia mengangkat Kaisar Giok sebagai penguasa tertinggi dari semuanya.

Penciptaan

Legenda penciptaan China menyebutkan bahwa dunia dimulai dengan wuji (無極, kekosongan), Yu Huang merupakan kepala dari para dewata tetapi bukan merupakan sang pencipta. Taoisme menyebutkan bahwa para pencipta semesta adalah Sanqing.

Menurut versi lain kisah penciptaan, Yu Huang membentuk manusia-manusia pertama dari tanah liat kemudian menjemurnya di bawah terik matahari agar mengeras. Tiba-tiba turun hujan sehingga beberapa di antaranya menjadi rusak. Demikianlah dikatakan awal mula penyakit dan cacat tubuh.

Kisah penciptaan manusia dari lumpur juga didedikasikan kepada Nuwa yang membentuk manusia dari lumpur sungai kuning satu demi satu dengan kedua tangannya sendiri, menjadi orang-orang bangsawan. Setelah kewalahan, ia mencelupkan selendangnya ke dalam lumpur kemudian mengayun-ayunkannya. Tiap tetesan lumpur tersebut menjadi manusia-manusia biasa. Alternatif kisah penciptaan lain diberikan kepada Pangu di mana manusia awalnya adalah kutu di badannya.

Perjalanan ke Barat

Lihat pula: Perjalanan ke Barat
Pada novel populer karya Wu Chengen, Yu Huang muncul beberapa kali dalam kisahnya.

Gadis Penenun dan Gembala Sapi
Lihat pula: Festival Qixi

Dikisahkan bahwa Yu Huang memiliki putri bernama Zhinü (Hanzi: 織女;hanyu pinyin: zhī nǚ atau Chih'nü; Gadis Penenun). Gadis tersebut bertugas menenun awan berneka warna di surga. Versi lain menyebutkan putri itu adalah Dewi Penenun, putri Yu Huang dengan Ibu Ratu Surga, yang menenun Sungai Perak ( Bima Sakti), yang menerangi surga dan bumi. Versi lain lagi, ia adalah penjahit yang bekerja untuk Yu Huang.

Setiap hari Zhinü turun ke bumi dengan bantuan jubah ajaib untuk mandi. Suatu hari, seorang penggembala sapi yang sederhana bernama Niu Lang (Hanzi: 牛郎;hanyu pinyin: niú láng) melihat Zhinü saat ia sedang mandi di sungai kecil. Niu Lang jatuh cinta pada pandangan pertama kemudian mencuri jubah ajaib miliknya yang ditinggalkan di tepi sungai, akibatnya Zhinu tidak dapat kembali ke surga. Niu Lang kemudian membawanya kembali ke rumahnya.

Setelah Yu Huang mengetahui kejadian tersebut, ia menjadi murka tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, karena saat itu putrinya telah jatuh cinta dan menikah dengan si penggembala (kemarahan Kaisar Giok memiliki alasan karena kepergian Zhinu menyebabkan tugasnya di surga menjadi terbengkalai). Setelah sekian waktu berlalu, Zhinü rindu akan rumahnya serta ayahnya. Suatu hari ia menemukan kotak yang berisi jubah ajaibnya yang selama ini disembunyikan oleh suaminya. Ia memutuskan untuk mengunjungi ayahnya di surga. Saat di surga, Yu Huang menciptakan sebuah sungai melintasi angkasa (Bima Sakti) sehingga Zhinü tidak dapat melintasi kembali kepada suaminya. Namun Yu Huang berwelas asih kepada pasangan kekasih tersebut. Setiap Imlek tanggal tujuh bulan tujuh, dia memperbolehkan keduanya untuk bertemu di jembatan di atas sungai.

Kisah ini menggambarkan konstelasi di langit malam. Zhinü adalah bintang Vega pada konstelasi Lyra di sisi timur Bima Sakti, sementara Niu Lang adalah bintang Altair pada konstelasi Aquila di sisi barat. Pada saat seperempat bulan pertama (hari ke tujuh) dari penanggalan Imlek (sekitar Agustus), kondisi cahaya di langit menyebabkan Bima Sakti tampak lebih redup, sehingga memunculkan kisah tentang sepasang kekasih yang tidak lagi dipisahkan pada satu hari itu setiap tahun.

Tanggal tujuh bulan tujuh penanggalan Imlek merupakan hari raya di China yang disebut Festival Qixi, yang merupakan hari khusus untuk pasangan kekasih muda, semacam hari Valentin bagi bangsa barat. Di Jepang, hari tersebut dinamakan Tanabata (Hari Bintang), dan di Korea disebut Chilseok. Jika turun hujan pada hari tersebut, dikatakan bahwa Zhinü menangis karena bahagia karena dapat bertemu kembali dengan suaminya.

READ MORE - 2. Legenda-legenda Kaisar Giok atay Yu Huang Da Di (Giok Hong Siang Tee, Hokkian)

1. Kisah Kaisar Giok atau Yu Huang Da Di

Kaisar Giok atau Yu Huang Da Di (Hokkien= Giok Hong) dalam budaya China dan Taoisme adalah penguasa Surga dan semua alam lain di bawahnya, termasuk alam manusia dan neraka. Dia adalah salah satu dari para dewata terpenting dalam agama tradisional China. Menurut pandangan Taoisme, Kaisar Giok memimpin semua alam makhluk hidup dan yang dibawahnya, tetapi kedudukannya berada di bawah Sanqing. Dalam Taoistsecret dijelaskan bahwa dia menjadi pelindung keluarga kekaisaran semenjak abad ke sembilan.[1]
Di dalam hati rakyat Tiongkok zaman dulu, Kaisar adalah orang yang paling dihormati dan paling dijunjung tinggi dalam sebuah negara (Kerajaan). Sedangkan dalam pola berpikir dari umat agama tradisional China yang saleh, Yu Huang adalah Dewa Pertama Alam Langit, Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain, seperti Dewa Matahari dan Dewi Rembulan, Dewa Bintang, Dewa Halilintar, Dewa Angin, Dewa Awan, dan lain-lain. Sehingga tidak dapat disalahkan jika orang Tionghoa menganggap bahwa Kaisar Giok adalah Tuhan mereka. Pandangan ini masih berlangsung sampai sekarang. Dia bertahta di langit tingkat ke-33 di sebuah istana yang disebut 淩霄寶殿 (Ling Xiao Bao Dian) yang berarti Istana Halimun Mukjizat.[2]
Berbagai kisah dan kebiasaan Tao mengasosiasikan Kaisar Giok dengan kebaikan, penyayang, pemerhati dan penolong. Dia mengunakan kekuasaannya untuk meningkatkan kehidupan manusia.[3]
Nama dan Gelar
Yu Huang disebut dalam banyak nama, di antara adalah:
Raja Giok (Hanzi: 玉皇; hanyu pinyin: Yù Huáng).
Kaisar Giok (Hanzi:玉帝;hanyu pinyin: Yù Dì).
Kakek Langit (Hanzi:天公;hanyu pinyin: Tiān Gōng; Fujian/Hokkian: Thi Kong).

Panggilan yang biasa digunakan orang awam.
Kaisar Giok Agung Murni (Hanzi:玉皇上帝;hanyu pinyin: Yu Huang Shangdi; Fujian/Hokkian: Giok Hong Siong Te).
Kaisar Giok Agung Mulia (Hanzi:玉皇大帝;hanyu pinyin: Yu Huang Dadi; Fujian/Hokkian: Giok Hong Tay Te)
Hao Tian Shang Di (Hanzi: 昊天上帝 ).
Yu Tian Da Di (Hanzi: 玉天大帝)
Penguasa Tinggi Xuanling.

Gelar resmi yang jarang digunakan, Pembebas Damai, Pusat Roh Agung nan Gemilang, Buddha Kuno, Tersaleh dan Terhormat, Yang Mulia sang Kaisar Giok, Penguasa Tinggi Xuanling (太平普度皇靈中天至聖仁義古佛玉皇大天尊).
Shang Di (Hanzi:上帝;Fujian/Hokkian: Siong Tee).
Tuhan Yang Maha Esa. Sebutan dalam bahasa Indonesia oleh umat Agama Khonghucu/ Tridharma
READ MORE - 1. Kisah Kaisar Giok atau Yu Huang Da Di
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.