SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 3 ARTIKEL)

Foto Cetya Tathagata Jakarta. 
SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 3 ARTIKEL)
Disamping itu Laksaman Cheng Ho (Zheng He) yang berawal dari tahun 1405 sampai 1433, melakukan pelayaran yang sangat spektakuler pada zaman itu, dengan armada yang sangat besar (300 buah Kapal dan 28.000 Awak kapal), telah melakukan 7 (tujuh) kali Muhibah Bahari sampai ke benua Afrika, bahkan dinyatakan telah mendarat di benua Amerika 87 tahun sebelum Columbus (menurut buku ”1421” karangan mantan Kapten AL. Gavin Menzies dari Inggris), juga menggunakan jadwal pelayaran yang berdasarkan pada perubahan iklim dan arah angin dari petunjuk penanggalan Imlek ini, sehingga jadwal setiap kali keberangkatan dan kembali dari muhibah tersebut selalu jatuh pada waktu yang hampir bersamaan.

Im-Lek (dialek Hokkian/Yin Li bahasa Mandarin) masing-masing Im (Yin) – dari Im-Yang (Negatif & positif), suatu paham yang meyakinkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, selalu mengandung dua macam elemen/sifat yang saling berlawanan, namun juga saling menyeimbangi, sama halnya dengan Bumi yang diseimbangi antara Bulan (Malam, Gelap dan Dingin) dan Matahari (Pagi, Terang dan Panas). Lek (li) – berarti penanggalan penunjuk hari, bulan dan tahun.

Dalam proses penetapan kalender yang panjang itu para ahli astronomi Tiongkok kuno pada akhirnya menetapkan 12 tahun Imlek dalam 1 (satu) siklus. Astrologi Tiongkok (salah satunya kita kenal sebagi Shio) jauh lebih rumit dari sistem astrologi Barat, ada 12 binatang yang menjadi simbol astrologi serta 5 macam unsur materi. Jika digabungkan bisa menjadi 60 kombinasi. Kedua belas binatang tersebut adalah Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi, serta kelima unsur materinya adalah Kayu, Api, Tanah, Emas (atau Besi) dan Air.

Mengingat proses penetapan yang sangat panjang itu, maka terjadi banyak versi tentang penghitungan tahun Imlek yang beredar di masyarakat Tiongkok kala itu, setiap dinasti yang berkuasa selalu menetapkan berdirinya dinasti tersebut sebagai tahun baru pertama dan seterusnya. Dengan banyaknya dinasti yang ada dalam sejarah Tiongkok, maka perbedaan penghitungan tahunpun menjadi sangat beragam, hingga pada dinasti Ch’in (tahun 221-207 SM), Raja Ch’in sebagai pendiri dinasti pertama yang dapat menguasai dan mempersatukan sebagian besar daratan Tiongkok (dari bagian tengah sampai timur) memerintahkan untuk menetapkan penghitungan awal tahun Imlek terhitung dari tahun kelahiran Khong Hu Chu (Kongfuzi –seorang filosof tersohor yang karyanya menjadi pedoman/prinsip hidup pemerintah dan masyarakt di Tiongkok), karena sejak itu tidak ada perubahan yang singnifikan atas hitungan tersebut, maka penghitungan itu berlanjut hingga saat ini.
Tahun Baru Imlek sebagai awal tahun yang dimulai dengan berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi di daratan Tiongkok, saat itulah petani mulai melakukan pekerjaan cocok tanam, saat yang sangat dinanti-nantikan untuk memulai pekerjaan yang akan memakmurkan keluarga. Sebagai tanda penyambutan hari itu, masyarakat bersuka ria mengadakan perayaan. Sejarah Tiongkok sangat panjang, daratan yang luas, daerah yang berjauhan serta perbedaan geografis tentu membentuk karakter, budaya dan tradisi yang berbeda di setiap daerah, maka kebiasaan atau cara yang dilakukan untuk merayakan hari itu akan berbeda di setiap daerah.

Apabila kita kembalikan kepada makna Imlek sebagai rasa syukur akan datangnya tahun baru yang juga menandai awal musim semi, maka sistem penanggalan yang diterapkan oleh Dinasti Xia (Abad ke 21—17 SM) lebih cocok dijadikan sebagai patokan awal Tahun Baru Imlek. Bukan sejak tahun pemerintahan Dinasti Ch’in (221-207 SM) yang menetapkan berdasarkan pada tahun kelahiran Khong Hu Chu (tahun 551 SM) seperti yang dipercaya sebagian besar masyarakat Tionghoa.

Adalah suatu kebiasaan umum di dalam masyarakat disana bahwa dalam suasana yang bahagia itu akan melibatkan seluruh keluarga, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari yang selalu berada dalam lingkungan yang dekat, maka pada momentum yang bahagia ini, seluruh sanak keluarga akan saling memberi hormat, terutama kepada yang lebih tua, dan sebaliknya kertas merah (lambang kehabagiaan / keberuntungan) yang disebut Angpao (atau Ya sui qian –rejeki agar awet muda/umur panjang), kebiasaan ini lambat laun menjadi adat dan tradisi di Hari Raya Imlek ini.
READ MORE - SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 3 ARTIKEL)

FESTIVAL MENGHANTARKAN DEWA DAPUR (ZAO JUN / 灶君) KE SURGA / TOA PE KONG NAIK (JI SI SIANG AN / SONG WANG) - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 2 ARTIKEL - AKHIR)

 
FESTIVAL MENGHANTARKAN DEWA DAPUR (ZAO JUN / 灶君) KE SURGA / TOA PE KONG NAIK (JI SI SIANG AN / SONG WANG) - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 2 ARTIKEL - AKHIR)

Dewa Dapur Zao Shen, yang biasa juga disebut “Gentlemen Dapur (Zao jun)“, “Kakek Dapur (Zao ye)“, atau “Raja Dapur (Zao wang)“, adalah dewa yang bertanggung jawab mengenai urusan makan dalam legenda mitos kuno Tiongkok. Masyarakat Tiongkok pada umumnya menganggap Dewa Dapur sebagai pengawas abadi dan penting yang ditunjuk oleh Kaisar Langit untuk mengawasi kebajikan dan keburukan, serta kontribusi dan hutang yang dibuat oleh setiap anggota keluarga, dan melaporkannya secara berkala kepada Pemerintah Surga.
Dewa Dapur yang pertama datang dari penyembahan alami rakyat untuk mendapatkan api. 

Sebelum Dinasti Qin, persembahan dapur telah menjadi salah satu dari tujuh persembahan dari upacara pengorbanan nasional. Pada musim semi dan musim gugur, Konfusius pernah mengatakan kepada murid – muridnya bahwa Dewa Dapur akan mengatakan hal yang buruk kepada orang – orang di surga jika dia merasa tidak senang. Pada masa Dinasti Han, Dewa dapur mulai ‘diorangkan’ dan diberkahi dengan fungsi baru. Oleh karena itu, Dewa Dapur kemudian menjadi dewa untuk mengawasi kesalahan yang dibuat manusia di dunia, dan membuat laporan kepada Kaisar Langit serta menyampaikan keburukan orang. Karena itulah masyarakat kemudian mempersembahkan kurba dapur setiap tahunnya. Selama proses persembahan kurban dapur, mempersembahkan debu malt dan anggur adalah sesuatu yang mutlak, karena masyarakat mempercayainya sebagai persembahan yang bisa membuat Dewa Dapur menutup mulut. Orang – orang dari semua lapisan masyarakat memberikan penghormatan kepada Dewa Dapur saat upacara persembahan kurban dapur. Menurut catatan terkait, kaisar dari Dinasti Qing selalu mempersembahkan kurban besar di dapur Kun Ning Gong (坤宁宫), di mana terletak tugu peringatan dari Dewa Langit dan Dewa Tanah, di tempat ini kaisar akan menyembah sembilan kali di depan tugu peringatan untuk berdoa memohon berkat – berkat di tahun mendatang. Memberi persembahan kurban kepada Dewa Dapur sama dengan berdoa memohon kemakmuran.

Pada jaman dahulu, gambar figur Dewa Dapur biasanya ditempelkan pada kotak angin kecil di dinding. Gambar Dewa Dapur juga dikenal sebagai ‘Petugas Dapur Timur’, yang masih disembah oleh orang – orang hingga saat ini, biasanya menampilkan figur Dewa Dapur beserta istrinya yang duduk berdampingan. Di samping gambar tersebut biasanya terdapat bait puisi yang dengan tema yang berkaitan, seperti “Jika dewa – dewa di surga mengatakan hal yang baik, maka dunia akan damai.” Di antara kalimat – kalimat ini, baris ke dua kadang – kadang diganti dengan kalimat: “Keberuntungan akan datang ketika kembali ke istana.” Kalimat ini menyatakan aspirasi rakyat Tiongkok tentang kebahagiaan.

Sumber : chinadaily.co.id
READ MORE - FESTIVAL MENGHANTARKAN DEWA DAPUR (ZAO JUN / 灶君) KE SURGA / TOA PE KONG NAIK (JI SI SIANG AN / SONG WANG) - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 2 DARI 2 ARTIKEL - AKHIR)

SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 3 ARTIKEL)

 
SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 3 ARTIKEL)

Sejarah Imlek
IMLEK merupakan penanggalan/almanak/kalender bagi suatu bangsa/etnis yang berdomisili di daratan Tiongkok (China) bagian tengah dan timur, terutama adalah suku Han dan beberapa suku lain yang merupakan mayoritas bangsa tersebut.

Sama dengan penanggalan Hijriah bagi bangsa –bangsa Arab yang berada di Timur Tengah, atau penanggalan Masehi bagi bangsa-bangsa Eropa dan lain sebagainya. Penanggalan-penanggalan ini tidak dihasilkan dari suatu eksperimen/penemuan yang didapatkan oleh seorang atau sekelompok ilmuan pada suatu tempat/ruang serta dalam kurun waktu yang tertentu, tetapi adalah hasil dari pengamatan, pencatatan, pembahasan dan perbaikan-perbaikan yang berlangsung didalam masa ke masa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun lamanya oleh suatu bangsa/etnis karena geografis, kebutuhan hidup, perabadan dan kebudayaan dari kelompok tersebut.

Dengan demikian penanggalan apapun yang dipergunakan di muka bumi ini, merupakan pemanfaatan alam semesta ciptaan Tuhan sebagai dasar untuk suatu kepentingan kehidupan manusia, dan tidak berkaitan dengan ritual ketuhanan/religius/agama yang ada dan diyakini manusia sejak sekitar 2000 tahun yang lalu.
Penanggalan / alamanak / kalender Imlek didasarkan atas gabungan perhitungan peredaran Bulan (Kalender lunar) dan peredaran Bumi mengelilingi Matahari (kelender solar). Kalender ini selain digunakan sebagai penanda harian juga digunakan untuk perayaan tertentu terhadap musim seperti misalnya Perayaan Tahun Baru sebagai awal musim semi. Kalender ini pertama kali dikembangkan satu milenium sebelum masehi.

Legenda menyebutkan pertama kali ditemukan pada kekaisaran Yellow (Huang Di) dan ditambahkan sistem kabisat pada zaman Dinasti Yao.
Karena Tiongkok (China) termasuk wilayah sub-tropis maka penanggalan pun mengacu kepada parameter equinox (posisi Matahari tepat di khatulistiwa) dan solstice (posisi Matahari terjauh di utara/selatan khatulistiwa). Perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh sistem astronomi barat melalui Jesuit dan sistem kalender Gregorian (kalender Masehi yang kita kenal sekarang).

Beberapa aturan perhitungan yang ditetapkan tahun 104 SM masih berlaku hingga sekarang, seperti Bulan adalah ”Bulan lunar”, awal hari dihitung mulai saat tengah malam (pukul 00:00) dan winter solstice selalu pada bulan ke 11 (memasuki zodiak Capricorn) serta beberapa aturan dasar lainnya.
Jadi, meskipun penanggalan bulan berdasarkan peredaran Bulan namun karena parameter equinox dan solstice di atas; Bulan pada kalender China selalu tidak jauh beriringan dengan penanggalan Masehi (berbeda dengan kalender Hijriyah yang hanya mengacu ke peredaran Bulan saja).

Sebagai contoh nyata perayaan Tahun baru Imlek selalu berada di antara akhir bulan Januari hingga minggu ketiga Februari.Masyarakat Tiongkok di daratan pada awalnya adalah masyarakat agraris yang kehidupannya sangat tergantung pada iklim dan kesuburan tanah.
Daratan Tiongkok memiliki 4 macam iklim yang berbeda (musim Semi, Panas, Gugur dan Dingin), maka para petani sangat mengandalkan pengetahuan iklim untuk melakukan rutinitas pertanian, dan para nelayan yang hidup disepanjang pantai serta pelayaran perlu mengetahui keadaan cuaca dengan benar pula, kebutuhan kehidupan inilah yang mendesak manusia untuk memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim dan menjadi sangat vital.
Dengan demikian, perayaan Imlek pada awalnya dimaknai sebagai rasa syukur masyarakat agraris Tiongkok karena telah lepas dari musim Dingin dan memasuki musim Semi yang baik untuk pertanian. Akurasi penanggalan ini dapat dilihat antara lain pada saat Bulan Purnama yang selalu tepat jatuh pada tanggal 15.

Sumber: belajarbuddha.blogspot.co.id
READ MORE - SEJARAH TAHUN BARU IMLEK - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 3 ARTIKEL)

FESTIVAL MENGHANTARKAN DEWA DAPUR (ZAO JUN / 灶君) KE SURGA / TOA PE KONG NAIK (JI SI SIANG AN / SONG WANG) - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 2 ARTIKEL)

Foto Cetya Tathagata Jakarta. 
FESTIVAL MENGHANTARKAN DEWA DAPUR (ZAO JUN / 灶君) KE SURGA / TOA PE KONG NAIK (JI SI SIANG AN / SONG WANG) - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 2 ARTIKEL)

Ritual perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat tionghoa terdiri dari empat kegiatan utama, diawali oleh ritual menghantar Dewa Dapur naik kelangit seminggu sebelum tahun baru. Beberapa hari sebelum tahun baru, dewa dapur akan pergi ke langit untuk melaporkan catatan kehidupan orang-orang di bumi, apakah mereka berbuat baik atau tidak.

“Ditanggal 24 bulan ke-12 Dewa dapur akan naik ke surga membawa laporan-Nya. Berkendaraan awan yang ditiup oleh angin, Ia menikmati makanan dan minuman yang berlimpah, ikan segar dan kepala babi yang dimasak dengan baik…..
Jangan menybutkan hal-hal yang tidak baik dalam laporan-Mu, dan bawalah keberkahan dan keberuntungan saat Engkau kembali”


Demikian penggalan sebuah puisi mengenai persembahan/persembahyangan bagi Dewa Dapur yang ditulis oleh seorang sastrawan dari dinasti Song.
Bagi masyarakat Tionghoa, sembahyang dilakukan pada tanggal 24 dibulan ke-12 untuk menghantarkan Toa Pek Kong naik ke langit dan pada tanggal 3 di bulan-1 kembali diadakan persembahyangan untuk menyambut Toa Pek Kong yang turun dari langit.
Yang dimaksud dengan Toa Pek Kong adalah Dewa Dapur, yang kita kenal denga Zau Jun Ye/Zao Jun Gong (Mandarin) atau Ciau Kun Ye/Ciao Kun Kong (Hokkian).
Diyakini bahwa Ciao Kun Kong akan naik dengan membawa laporan perilaku keluarga berikut anggota keluarga, baik buruknya, kehadapan Giok Hong Siang Te. Bila berkelakuan tidak baik, maka tiada berkah namun hukuman yang diterima.sementara bila berkelakuan baik, maka berkah kebahagiaan melimpah ditahun yang baru yang akan dibawa serta saat Dewa Dapur kembali.

Dewa Dapur sangat dipuja sebagai pelindung rmah tangga dan dewa pemberi berkah bagi keluarga. Disebutkan bahwa pemujaan sudah ada sejak Zaman Dinasti Zhou sekitar 2000 tahun yang lalu. Pemujaan dilakukn hampir disetiap rumah, sehingga tidak dibangun di klenteng. Ataupun kalau ada, maka diletakkan juga paa daerah dapur. Karena itu, untuk simbolisasi keberadaan lebih umum berupa Gambar daripada Patung/Arca.
Persembahan yang dilakukan dalam persembahyangan pun berbeda dan berkembang. Semisal di zaman Dinasti T’ang ada yang menyebutkan arak sebagai persembahan. Namun ada pula yang menyebutkan hanya menggunakan The dan 3 batang Hio.

Didalam puisi diatas, biasa terlihat dengan menggunakan persembahan berupa makanan, minuman dan uang kertas. Gula ataupun makanan manis yang dikatakan untuk “menyogok” Dewa Dapur agar hanya akan mengatakan hal yang baik-baik baru mulai menjadi persembahan di Zaman Dinasti Ching.

Selain persembahan, di persembahyangan Toa Pek Kong naik ke langit, gambar Dewa Dapur akan diletakkan ditengah altar, dengan diapit kertas merah yang bersyair. Kurang lebih dapat diartikan dengan :
“Paduka Zao Jun yang mulia, Sebutlah kebaikan kami dilangit,
Bawalah berkah bagi kami apabila Anda turun kembali”

Setelah persembahyangan ini, membersihkan altar ataupun persembahyangan lain dilakukan.

Bagaimana asal mula kepercayaan Dewa Dapur?
Banyak sekali versi yang ada. Namun jarang selalu yang langsung terkait dengan dapur. Namun lebih pada makanan ataupun kesetiaan dalam keluarga. Sebagai contoh kisah sepasang suami istri yang kelaparan dan akhirnya dengan berat hati melepaskan istrinya untuk menjadi istri muda seorang hartawan. Saat ada pembagian makanan oleh si hartawan tersebut, Zhang sang suami, berada dalam urutan terakhir sehingga tidak kebagian makanan. Ketika keesokan harinya sang istri memulai pembagian makanan dan diatur mulai dari belakang, ternyata Zhang berada diurutan paling depan, dan kemudian ketika diatur mulai dari tengah, Zhang sudah tiada karena terlalu lapar.
Istri Zhang kemudian bunuh diri karena rasa setianya, dan oleh Giok Hong Siang Te, keduanya diangkat menjadi Dewa dan Dewi Dapur.

Versi lain menyebutkan bahwa Kaisar Huang Di adalah penemu tungku sehingga kemudian diangkat menjadi Dewa Dapur. Dan masih banyak lagi versi yang ada sehingga siapa sebenarnya Ciao Kun Kong masih menjadi perdebatan ahli sejarah.

Permen untuk Dewa Dapur
Bubur laba dibuat dari beras, kacang-kacangan, buah zao. Buah lonjong berbiji ini lebih besar dari biji rambutan. Kulitnya merah tua dengan daging putihnya yang manis. Dengan yang lain-lain jumlah jenis isi bubur ini mencapai + 10 macam. Tapi, itu bukan harga mati. Bagi keluarga kurang mampu, beras dan buah zao merah saja cukup.
Pada tanggal 23 ada upacara penting karena dipercaya Dewa Dapur akan naik ke surga. Hari itu sang Dewa akan melaporkan semua kejadian selama satu tahun di setiap keluarga kepada Tian. Manusia pun mencari akal agar Tian tidak marah. Caranya, hari itu sang Dewa disuguhi permen yang amat lengket dan manis, namanya guandongtang (baca: kuan tung tang). Setelah makan permen itu, mulut sang Dewa yang terasa manis, diharapkan cuma melaporkan hal yang bagus-bagus.

Menurut versi lain, mulut sang Dewa terkancing akibat makan permen yang amat lengket. Makanya, ia cuma bisa senyam-senyum di depan Thian. Berhubung upacara itu hanya berjarak 1 minggu dengan tahun baru, tanggal 23 disebut xiao nian atau "Tahun Baru Kecil".
Sebagian orang menyebut tanggal 23 yaoming de guandongtang atau "permen guandong peminta nyawa". Usut punya usut, rupanya mereka percaya, sebelum memasuki Imlek semua utang sudah harus lunas. Jelaslah, bagi yang berutang hari sengsara (karena harus membayar utang) pun semakin dekat

Sumber Tulisan :
1. Setiawan dan Kwa Thong Hay, 1990
2. Dewa Dewi Klenteng, Yayasan Klenteng Sam Poo Kong, Wu Luxing, 1995
3. 100 Chinese Gods, Asiapac books
4. Buletin Hikmah Tri Dharma, Edisi 01/XXIX/Januari-Februari 2005
5. Berdasarkan Cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Gorontalo
READ MORE - FESTIVAL MENGHANTARKAN DEWA DAPUR (ZAO JUN / 灶君) KE SURGA / TOA PE KONG NAIK (JI SI SIANG AN / SONG WANG) - ARTIKEL IMLEK (BAGIAN 1 DARI 2 ARTIKEL)

POJOK TRADISI / TAHUN BARU IMLEK Bagian 1

Foto Cetya Tathagata Jakarta. 
POJOK TRADISI / TAHUN BARU IMLEK Bagian 1

IMLEK tahun ini akan jatuh pada tgl 4 Feb 2016, kalau menurut masehi tgl 8 Feb 2016. Karena berhubung pergantian thn jatuh pada bln 12 tgl 26, sblm tgl 8 Feb, maka disebut juga tahun "BUTA (mang nien), dimana jaman dulu jarang org mau bertunangan atau memulai sekolah (tahun ajaran baru) pertama kali sekolah. Sama dengan tahun lalu, dimana Imlek secara resmi jatuh sblm kalender penanggalan lunar (thn Kambing 2015 lalu).

Sedangkan tahun Kuda 2014, yg memiliki 2 bulan Lun, sehingga disebut tahun Double Happiness. Cocok utk bertunangan dan melangsungkan pernikahan pada tahun tersebut.
Li Chun, Monyet Logam (Cabang Bumi), Monyet Api (Cabang Langit) jatuh pada tgl 4 Februari 2016, bagi yg lahir setelah pk 18:00 WIB maka bagi bayi yg lahir setelah waktu itu dianggap sudah memasuki Shio Monyet, walaupun perayaan Imlek jatuh pada tgl 8 Februari.
Lalu bagi rakyat Tiongkok khusus nya bagi yg masih memegang tradisi Tao / Tridharma / Konghucu. ada bbrp kebiasaan yg dilakukan antara lain:
1. Mencuci Rupang / Meja Altar Dewa / Buddha (Sblm Imlek tgl 23/24 Bln 12 Imlek)
2. Mengantar Para Dewa Ke Langit / Toapekong Naik (Imlek tgl 23/24 Bln 12)
3. Mengantar Dewa Dapur / Malam SinCia (Imlek tgl 29/30 Bln 12)
4. Menyambut Dewa Rejeki jam 11 malam (Long De Caysen) (Malam Imlek 29/30 bln 12)
5. Menyambut Toapekong Dagang (Imlek tgl 2 bln 1)
6. Menjemput / Menyambut Para Dewa / Toapekong Turun (Imlek 4/5 Bln 1)
7. Tradisi Melihat Hujan 9 hari (Hari ke 4 s/d ke 15).
8. Tradisi makan 7 Macam Sayur / Hari Pertama Buka Toko / Masuk Kantor (Imlek hari ke 5 Bln 1 Imlek),
9. Hari Buang Kemiskinan (Bln 12 tgl 10, atau Imlek Bln 1 tgl 5), tatacara menyiapkan sepasang celana lama, dompet kecil lama, 7 koin, 7 macam kembang, pergi menghadap ke utara), khususnya bagi yg usia berjumlah 7, atau yg kemalangan atau yg selalu dirundung masalah finansial, kesehatan.
10. Tradisi keliling 8 Vihara / Kelenteng (Imlek tgl 8 bln 1), tradisi orang Hokkien dan Hakka (Tiongkok Selatan)
11. Menyambut Sembahyang Thian Kong / Thi Kong(Kaisar Giok Langit) (Imlek tgl 8 Malam / 9 pagi Bln 1)
12. Hari 'Wei Ya' (Bwe Gwee) / Purnama Terakhir (Imlek Bln 12 tgl 16 dan tgl 2 bln 1 Imlek)memohon berkah pertama, utk Dewa Kekayaan (Long De) salah satu 5 Penjuru Dewa Rejeki utk memberikan Penolong / Kui Jen thn berikutnya. Sering juga disebut upacara Bwe Gwee, bln Purnama Terakhir di thn sblmnya, utk menitip pesan ke Dewa Rejeki agar tahun berikutnya diberikan kelancaran dan rejeki yg lebih baik.
13. Hari Mohon Pengampunan Kaisar Langit (hanya 8 hari dlm satu tahun)
14. Hari Upacara Cap Goh Meh (Lentera / Yuan Xiao Cie) (tgl 15 Bln 1 Imlek) Valentine Day Tiongkok.
15. Hari Permulaan Serangga (Upacara Ciu Fuk) Imlek Bln 1 tgl 27 (5 Maret 2016), Tradisi Utk memohon berkah dalam bentuk berpartisipasi dalam membaca Sutra Bhaisajya Guru, berbuat kebajikan, melakukan fangshen atau menyalakan Pelita Keselamatan (Avalokitesvara atau Jambhala)

Dari shio yg bersinggungan dengan Bintang Day Sui tahun ini adalah :
Shio Macan (2010) : 7 thn
Shio Macan (1950) : 67 thn
Shio Ular (2001) : 16 thn
Shio Ular (1941) : 76 thn
Shio Monyet keseluruhan, khususnya
Shio Monyet (1992) : 25 thn
Shio Monyet (1932) : 85 thn
Shio Babi (1983) : 34 thn
Shio Macan (1974) : 43 thn
Shio Ular (1965) : 52 thn
Hindari hadir ke rumah duka, buka / tutup peti. Bagi yg umur diatas ini harus sembahyang Taysui pada tgl 4 Februari 2016, tahun ini.

Shio-shio yg konflik dgn Day Sui, tahun ini adalah
MONYET: 13, 25, 37, 49, 61, 73, 85 th
MACAN : 19, 31, 43, 55, 67, 91 th,
BABI: 10, 22, 34, 46, 58, 70. 82 th,
ULAR : 16, 28, 40, 52, 64, 76, 88 th,
KAMBING: 14, 26, 38, 50, 62, 74, 86 th
Disarankan utk mengikuti upacara pembacaan Sutra Bhaisajya Guru, bagi para umat yang ber shio dan umur
NAGA : 5, 17, 29, 41, 53, 65, 77 th
MONYET : 13, 25, 37, 49, 61, 73, 85 th
ANJING : 11, 23, 35, 47, 59, 71, 83 th
TIKUS: 9, 21, 33, 45, 57, 69, 81 th

Demikianlah Daftar Shio yg konflik Daysui dan disarankan mengikuti Upacara Pemberkatan Baisajya Guru Buddha:
Mengenai keterangan lebih lanjut, nanti akan di sharing info Imlek tgl 31 Januari 2016, pk 10:00 wib dan tgl 7 Februari 2016, pk 21:30 wib di Cetya Tathagata Jakarta. Oleh: Sx Mengky Mangarek,
Bagi yg ingin mendaftar Pelita Berkah Keselamatan dan Kesejahteraan Thn 2016, Upacara Long De Cay Sen (Dewa Kekayaan / Rejeki), Upacara Pemberkahan Bhaisajya Guru Buddha, dpt menghubungi Sekretariat Cetya agar dpt dipersiapkan.
SOURCE: Berbagai sumber, almanak Dong Shu Thn 2016, Monyet Api 2568 Imlek
GAN EN, XIE2 AMITOFO🙏🙏
READ MORE - POJOK TRADISI / TAHUN BARU IMLEK Bagian 1
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.