KISAH DELAPAN DEWA - LIE TIE KWAY (1/8)





Li Tie Guai (Hanzi:李鐵拐) berarti "Li si Tongkat Besi" merupakan salah satu anggota Delapan Dewa. Walaupun dikenal pemarah, Li sangat murah hati terhadap kaum miskin, orang sakit dan mereka yang membutuhkan pertolongan. Ia menolong mereka dengan botol cupu labu yang selalu dibawanya. Pada malam hari, ia membuat dirinya sekecil mungkin agar bisa tidur di dalam botol labunya.



Alkisah, ia dilahirkan pada masa dinasti Zhou Barat dengan nama Li Yuan. Ia belajar dari Lao Zi (pendiri Taoisme) dan dewi Xi Wangmu. Meditasi yang dilakukannya selama 40 tahun kerap membuatnya lupa makan dan tidur.



Sebelum menjadi dewa, ia adalah seorang yang tampan. Suatu hari, saat jiwanya akan mengembara ke alam baka, ia memberitahu muridnya untuk menunggui jasadnya selama 7 hari. Bila ia tidak kembali pada setelah 7 hari, maka muridnya harus mengkremasi jasadnya. Namun setelah 6 hari, sang murid harus pulang menjenguk ibunya yang sekarat. Karena ia tak berani meninggalkan jasad gurunya, maka jasad gurunya dikremasikan.

Saat Li Tie Guai kembali, jiwanya terpaksa harus masuk ke tubuh pengemis tuna wisma yang mati kelaparan. Bentuk fisik barunya sangat berbeda, dengan ciri-ciri "berkepala lonjong, bermuka hitam, rambut dan brewok berantakan, bermata besar dan pincang". Lao Zi memberinya ikat kepala emas untuk menjaga rambutnya dan mengganti tongkat bambu dengan tongkat besi. Li kemudian membangkitkan ibu muridnya yang telah meninggal dengan ramuan ajaib.

Sebagai bagian dari Delapan Dewa, Li Tie Guai disimbolkan dengan botol labu dan tongkat besi. Sebentuk asap keluar dari ujung botolnya, melambangkan hun atau jiwanya, yang tidak berbentuk, atau berbentuk miniatur dirinya.





Kisah Para Dewa dan Ajaran Tao's photo.
READ MORE - KISAH DELAPAN DEWA - LIE TIE KWAY (1/8)

KISAH DELAPAN DEWA (BA XIAN)

Delapan Dewa atau dalam bahasa Mandarin disebut Ba Xian (Hanzi:八仙) berasal dari mitologi Taoisme, dan termasuk dewa dewi terkenal dalam kisah klasik Tionghoa.




Mereka adalah simbol keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Masing-masing dewa mewakili 8 kondisi kehidupan : anak muda, lansia, kemiskinan, kekayaan, rakyat jelata, ningrat, pria dan wanita. Diceritakan bahwa sebagian besar dilahirkan pada zaman dinasti Tang dan dinasti Sung. Walaupun penjelasan mengenai mereka telah ada sejak dinasti Tang, namun pengelompokkan ke dalam kategori delapan dewa baru terjadi pada masa dinasti Ming.





Ke delapan dewa tersebut adalah:

Zhong Li Quan
Li Tie Guai
Lü Dong Bin
Zhang Guo Lao
He Xian Gu
Lan Cai He
Han Xiang Zi
Cao Guo Jiu

Delapan Dewa adalah salah satu tema favorit dari seniman-seniman Tiongkok dan kebanyakan menjadi objek yang digambarkan dalam keramik dan porselen. Mereka juga banyak muncul dalam literatur Tiongkok.

The Eight Immortals (Chinese: 八仙; pinyin: Bāxiān; Wade–Giles: Pa¹-hsien¹) are a group of legendary xian (immortals; transcendents; saints) in Chinese mythology. Each Immortal's power can be transferred to a power tool (法器) that can bestow life or destroy evil. Together, these eight tools are called the "Covert Eight Immortals" (暗八仙 àn ~). Most of them are said to have been born in the Tang or Song Dynasty. They are revered by the Taoists and are also a popular element in secular Chinese culture. They are said to live on a group of five islands in the Bohai Sea, which includes Penglai Mountain-Island. In literature before the 1970s, they were sometimes translated as the Eight Genies. First described in the Yuan Dynasty, they were probably named after the Eight Immortal Scholars of the Han.

Symbolism

The Eight Immortals are sometimes identified with the eight trigrams of the bagua, with aspects of nature, and with ancient artifacts:

Name 8 Trigrams Aspect of Nature Family Ancient Artifact
Han Xiangzi, Full Yang , Sun, Father, Flute
Lan Caihe, Full Yin Moon Mother Basket Flower
Cao Guojiu Yang Above Thunder Older Son Castanets
He Xiangu Yin Below Wood Older Daughter Lotus Flower
Li Tieguai Yang Middle Water Middle Son Calabash, Iron Crutch
Lü Dongbin Yin Middle Fire Middle Daughter Sword
Zhang Guolao Yang Below Volcano Younger Son Drum
Zhongli Quan Yin Above Cyclone Younger Daughter Fa




READ MORE - KISAH DELAPAN DEWA (BA XIAN)

Tiga Puluh Enam Panglima Langit 三十六天将 bagian ke-1







36 panglima langit

Di kalangan masyarakat beredar kepercayaan bahwa para Shen Bing dan roh suci lainya mempunyai barisan pengawal terdiri atas para panglima langit yang berjumlah 36. mereka adalah para perwira yang berada dibawah komando Xuan Tian Shang Di, sebab itu disebut panglima bintang utara.

Pengawal Kelenteng atau bangunan suci

Lian Yuan Shuai

Liu Yuan Shuai


Xiao Yuan Shuai

Zhang Yuan Shuai

Zhang Sheng Zhe, mengendarai kilin
Xiao Sheng Zhe, mengendarai macan tutul
Liu Sheng Zhe, mengendarai Singa
Lian Sheng Zhe, mengendarai macan tutul
Huang Xianguan, mengendarai kuda
Jiang Xianguan, mengendarai kuda
Kang Sheren, mengendarai kuda
Jin Sheren, mengendarai singa
Ma Lingguan, mengendarai kuda
Wu Lingguan, mengedarai kuda
Qin Xiang gu. mengendarai bangau
He Xiang gu, mengendarai bangau
Li Xiang gu, mengedarai bangau
Ji Xiang gu, mengendarai bangau
Suo Da Jiang, mengendarai kilin
Jia Da Jiang, mengendarai kuda
Fu Da Jiang, mengendarai kerbau
Zhuo Da Jiang, mengendarai kuda
Pan Da Jiang, mengendarai naga
Bi Da Jiang, mengendarai harimau
Hu Jia lou, mengendarai singa
Ma Jia lou, mengedarai kilin
Yishan Da Jiang, mengendarai kuda
Daojai Da Jiang, mengendarai harimau
Shigui Da Jiang, mengendarai kilin
Tunjing Da Jiang, mengendarai harimau
Deng Yuan shuai, mengendarai kerbau
Yue Yuan shuai, mengendarai gajah
Yin Yuan Shuai, mengendarai kuda
Gao Yuan Shuai, mengendarai kuda
Kang Yuan Shuai, mengendarai kuda
Zhao Yuan Shuai, mengendarai harimau
Wang Yuan Shuai, mengendarai menjangan
Li Yuan Shuai, mengendarai singa
Yang Yuan Shuai, mengendarai kuda
Xin Yuan Shuai, mengendarai kilin

                           


READ MORE - Tiga Puluh Enam Panglima Langit 三十六天将 bagian ke-1

Sejarah Jiang Zi-ya

Sejarah Jiang Zi-ya (姜 子 牙dalam lafal Hokkian disebut Kiang Cu Ge) adalah tokoh Dewa yang sangat terkenal dan dihormati di kalangan rakyat. Kelenteng yang memujanya biasa disebut Taigongmiao atau Wu




Siapakah Jiang Zi-ya sesungguhnya? Mengapa dipuja orang selama berabad-abad?


Jiang Zi-ya seorang tokoh sejarah. Ia bernama Shang (尚), alias Zi-ya (子 牙), dan bergelar Fei Xiong (飛 熊Beruang terbang) dari daerah Jizhou (sekarang adalah kabupaten Ji, di Propinsi Hebei, Tiongkok Tengah). Konon ia keturunan Kaisar purba Yan Di (炎 帝 ). Kemudian moyangnya menjadi pejabat tinggi Kaisar Shun, karena berjasa besar dalam membantu Yu mengatasi bencana banjir, lalu dianugerahi nama keluarga “Jiang”, dan berkuasa di wilayah Lu (sekarang disebelah barat kota Nanyang, propinsi Henan), sehingga kemudian disebut Lu Hou (Adipati Lu). Sebab itu dalam sejarah, ia sering disebut Lushang atau Jiangshang. Dan ada pula yang menyebutnya Jiang Zi-ya. “Zi” adalah panggilan kehormatan untuk pria pada jaman dahulu. Sebab itu dengan menyebut Jiang Zi-ya, mereka menyatakan hormat terhadapnya.

Tentang sebutan Taigong (太 公Thay Kong dalam lafal Hokkian), memang ada asal-usulnya. Waktu Raja Wenwang berkeliling ke berbagai tempat menyambangi para cendekiawan, ia bertemu dengan Jiang Zi-ya. Dengan girang ia berkata : Pertemuan ini sejak lama didambakan oleh Lao Taigong (maksudnya ayahanda Kaisar Wenwang)”. Sejak itu orang-orang lalu menyebutnya Jiang Taigong (姜 太 公 ,Kiang Thay Kong).

Jiang Taigong seorang cerdas dan sangat berpengetahuan. Waktu itu jaman berkuasanya Dinasti Shang, keadaan memaksa tidak bisa mengembangkan kepandaian. Bersama dengan berlalunya sang waktu ia melewatkan hidupnya dalam kesunyian di wilayah terpencil dililit kemiskinan. Menurut catatan “Literatur Sejarah Kuno”, ia pernah bekerja sebagai jagal di ibukota Chaogou (sekarang terletak di Kabupaten Tangyang, Propinsi Henan) jual Arak di Mengjin, (sebuah kota kecil di tepi Sungai Huang He). Sampai berumur 70 tahun, ia tetap belum memperoleh kesempatan untuk bekerja mengembangkan bakat.

Pada saat ia dihimpit kemelaratan, tersiar berita bahwa Wenwang dari kerajaan Zhou di wilayah barat mengundang pada cendekiawan untuk membantu pemerintah. Kabarnya beliau sangat berbudi dan menghormati orang pandai. Jiang Zi-ya lalu pergi kesana. Di negeri itu ia mendirikan gubug di tepi Sungai Weishui, hidup sepi menghabiskan waktu dengan mengail. Dari sini muncul pemeo yang terkenal sampai sekarang “Jiang Taigong mengail, hanya ikan yang ditakdirkan saja yang terkail” (姜 太 公 釣 魚 愿 者 上 鉤 - Jiang Taigong Diao Yu, Yuan Zhe Shang Gou). Ia tinggal di tepi Sungai Weishui sambil menunggu kesempatan bertemu dengan Wenwang. Bertahun-tahun ia menempuh penghidupan sebagai pengail, sampai batu yang didudukinya selagi mengulur joran membekas lekukan, tapi orang yang didambakan belum juga muncul. Hampir ia putus asa dalam penantian yang tak kunjung akhir. Suatu hari datanglah Wenwang diiringi para pembesar bawahannya berkunjung ke gubuknya.

Ketika ia melihat seorang bangsawan berwajah cakap agak kehitam-hitaman muncul dihadapannya, hati Zi-ya berdebar-debar. Dalam tutur sapa pertama kali, Wenwang bahwa ia tidak salah memilih orang. Jiang Zi-ya ternyata menunjukkan kecakapan dan kebijaksanaannya serta pandangan luas dalam tukar pendapat dengan Zi-ya. Wenwang sangat gembira dan bersyukur atas ini. Dengan upacara yang megah ia menyambut Zi-ya untuk tinggal di istiana. Ketika itu Jiang Zi-ya telah berumur 80 tahun.

Jiang Zi-ya diangkat sebagai perdana menteri. Ia membantu Wenwang mengatur jalannya roda pemerintahan, memantabkan politik serta meningkatkan militer, membangun pertanian dan meninggikan produksi pangan sehingga rakyat hidup tenteram. Setelah dirasa mantap ia menggerakkan kekuatan militer menaklukkan wilayah-wilayah sekelilingnya untuk memperlemah kekuasaan pusat, sebaliknya dari hari ke hari Kerajaan Zhou makin kuat. Ibukota Zhou dari Qishan ke Fengcheng. Demikianlah sampai pada saat meninggal Wenwang, kerajaan Zhou sudah menguasai 2/3 wilayah Tiongkok sudah siap memberi pukulan terakhir untuk meruntuhkan Dinasti Shang.

Sebelum cita-cita ini tercapai Wenwang meninggal dunia digantikan oleh Ji Fawang bergelar Wuwang. Dipimpin oleh Jiang Zi-ya, angkatan perang Zhou menyerbu negeri Shang, untuk merampungkan cita-cita almarhum Wenwang. Setelah meruntuhkan Shang, berdirilah Dinasti Zhou yang menguasai seluruh daratan Tiongkok. Dengan ibukota Haojing (sekarang dikabupaten Chang’an propinsi Shanxi). Karena jasa besarnya, Jiang Zi-ya diangkat sebagai Raja muda dari Qi (sekarang terletak di sebagian besar propinsi Shandong). Dialah kemudian yang menurunkan raja-raja dari negeri Qi itu. Dia juga yang kemudian menulis kitab ilmu perang yang disebut “Ilmu perang Taigong”, kitab ini kemudian dikembangkan ahli-ahli perang jaman kemudian.

Dari kisah diatas dapat dimengerti bahwa Jiang Zi-ya sesungguhnya adalah seorang ahli militer kenamaan. Mengapa ia melantik para dewa? Mungkin karena dalam sejarah namanya sangat terkenal banyak cerita rakyat dan hikayat mengacu kepadanya. Kemudian cerita-cerita mengenai Jiang Zi-ya yang banyak beredar di kalangan rakyat dihimpun dan disusun Xu Zhong-lin menjadi sebuah novel panjang dengan judul “Penganugerahan Para Dewa” (Fengshen Yanyi). Dalam cerita dikisahkan Jiang Zi-ya turun dari pertapaannya di Kunlun Shan dan membawa perintah dari Mahadewa Yuanshi untuk mengangkat roh orang-orang yang gugur dalam peperangan menumbangkan dinasti Shang menjadi malaikat.

Sebagai manusia setengah Dewa, Jiang Zi-ya disejajarkan dengan Kongzi (Khong Cu) didalam pemujaan. Jiang Zi-ya dipuja sebagai Dewa pelindung kemiliteran, Kongzi sebagai pelindung kaum cendekiawan dan pelajar, keduanya menjadi dewata yang umat pemujanya sangat luas. Pada Dinasti Tang tahun Kai-yuan ke 19 (masehi 732) bulan 4 tanggal 18, pemerintahan Kaisar Xuanzong (Li Longji) di seluruh negeri secara serentak mendirikan Taigongmiao (Kelenteng Pemujaan Jiang Zi-ya) dengan Zhang Liang, seorang perdana menteri dari Dinashi Han, diangkat sebagai pendampingnya. Semua pejabat, baik sipil maupun militer sedang akan berangkat menjalankan tugas atau menerima kenaikan pangkat, meletakkan jabatan dan menjalani masa pensiun, mengadakan pesta perkawinan dan ulang tahun, semua harus lebih dulu mengadakan sembahyang di kelenteng tersebut.

Ketika Kaisar Gaozong Dinasti Tang bertahta, tahun Shang-yuan pertama (Masehi 674) bulan ke empat kabisat, tanggal 19, mengangkat Jiang Taigong sebagai Wu Chengwang (Raja Muda Kemiliteran). Sampai pada jaman Dinasti Song (utara), Kaisar Zhenzong menambah gelar kehormatan baginya. Sejak itu secara resmi kelenteng Taigongmiao disebut sebagai Wu Chengwang-miao ( 武 成 王 廟 ) sejajar dengan pemujaan kelenteng Kongzi.

Pemujaan Jiang Zi-ya dikalangan masyarakat telah berakar, di kalangan rakyat sering kita jumpai tulisan kertas kuning berbunyi “Jiang Taigong ada di sini” ( 姜 太 公 在 此 ,Jiang Taigong Zai Ci). Waktu mendirikan rumah, saat menaikkan wuwungan, ditempelkan kertas merah bertuliskan “Jiang Taigong berada disini, semua baik dan menyenangkan” wuwungan sesaji samsing, lilin dan dupa lalu disulut petasan.

Satu keluarga yang tinggal pada rumah besar kuno, suatu saat dirasa rumah itu angker atau diganggu mahkluk halus, di pintu besar ditempelkan kertas merah bertuliskan Taigong Zai Ci” untuk mengusir pengaruh jahat dan mengusir iblis-iblis pengganggu.

Di beberapa kelenteng di Indonesia sering dijumpai patung Jiang Taigong memancing, ditempatkan taman atau halaman rumah, untuk hiasan atau keindahan juga untuk mengingatkan kita akan ketekunan dan kesabaran Jiang Zi-ya dalam meniti karir tentu saja juga untuk menghindarkan pengaruh-pengaruh jahat.

Di bab lain akan diceritakan kutiban dari novel Fengshen tentang bagaimana Jiang Taigong bertemu Raja Wenwang. (KTH)



Referensi : Fengshen Yanyi

Zhongguo Minjian Xinshenshu


READ MORE - Sejarah Jiang Zi-ya

DEWA PERJODOHAN.



( YUE XIA LAO REN 月下老人 , YIN YAN LAO REN 姻緣老人 ).
Yue Xia Lao Ren 月下老人 disebut Yue Leo Gong 月老公 (Gwat Loo Kong -Hokkian) yang berarti "orang tua dari bulan". Tugas dewa ini adalah mengurus segala sesuatu yang berkenaan dengan perjodohan. Kelenteng pemujaan Yue Lao
Gong yang paling terkenal di Taiwan adalah di Guan Yin Ding. Kabarnya, pria dan wanita yang berpacaran sering bersembahyang di altamya. Kalau asap hio yang di tancapkan di situ bersatu
dan naik bersama - sama, maka kedua pasangan ini boleh menjadi suami istri, tetapi bila asap hio tersebut berpencar, hubungan mereka tidak boleh berlanjut, sebab akan berakhir dengan sia - sia.
Kalau pasangan itu menikah,mereka sebaiknya bersembahyang di depan altarnya dengan membawa kain merah agar Yue Lao Gong mengikat jodoh mereka. Hari ulang tahun Yue
Lao Gong diperingati pada tanggal 15 bulan 8 Imlik (Pek Gwee Cap Go).

Menurut para ahli sejarah, pemujaan Yue Xia Lao Ren, dimulai pada jaman Dinasti Tang. Dikisahkan pada tahun Zhen-
guan ke 2 (628 Masehi), seorang terpelajar, Wei Gu 韋固, dalam penggembaraannya sampai di kota Song-cheng 宋城. Ia memang gemar melakukan perjalanan untuk memperdalam ilmu sastranya dan sekaligus mencari jodoh.Suatu ketika ia melihat seorang tua sedang duduk
membaca buku, dibawah sinar bulan purnama, huruf dalam buku itu tampak aneh sekali dan belum pernah dilihat. Ketika Wei Gu menanyakan siapa se-sungguhnya dia, si tua menjawab bahwa
ia bukan berasal dari dunia manusia dan
tugasnya adalah merangkapkan jodoh antara pria
dan wanita di kalangan manusia, sedangkan buku
yang dibawanya adalah buku yang mencatat
perjodohan itu. Lalu si tua mengeluarkan seutas
benang merah sambil berkata: "Pria dan wanita
yang kakinya telah terikat dengan benang ini
akan menjadi suami isteri selama-lamanya.
"Ketika menanyakan siapa calon isterinya dan
dimana dia sekarangber ada, si tua menjawab bahwa wanita calon isteri Wei Gu saat itu masih berusia 3 tahun, mereka akan menikah 14 tahun kemudian."Kalau kau ingin melihat calon isterimu ikutlah dengan aku" kata si tua kemudian. Mereka kemudian berjalan kembali ke kota Song-cheng宋城 dan memasuki sebuah pasar. Disana mereka melihat seorang wanita yang matanya buta sebelah, sedang menjual sayuran, sambil meng-gendong seorang bocah perempuan berusia 3 tahun. Melihat itu, Wei Gu jadi naik pitam. Betapa tidak. Ia dari keluarga berada, bagaimana dapat berjodoh dengan seorang wanita anak penjual sayur yang miskin. "Kalau memang dia calon isteriku, akan
kubunuh", katanya."Semua ini telah ditentukan oleh takdir, anda tak akan berhasil membunuhnya," kata si orang tua aneh, yang kemudian lenyap. Sampai dirumah, Wei Gu mengupah seorang abdinya untuk membunuh anak perempuan penjual sayuran itu. Tergiur akan hadiah yang dijanjikan sang abdi melakukan perintah tuannya. Dia berhasil menusuk anak perempuan itu, tapi tentang hidup atau matinya, ia sendiri tak dapat memastikan. Tapi dalam hatinya Wei Gu merasakan penyesalan atas perbuatannya. Untuk melupakan peristiwa itu, ia lalu meninggalkan kota Song-cheng宋城.

Setelah itu Wei Gu telah berusaha beberapa kali meminang gadis dari keluarga terkemuka, tapi ia tetap gagal. Sampai akhirnya ia berhasil memperoleh jabatan di kota Xiang-zhou, ia telah berusia 30 tahun dan tetap membujang. Gubernur Xiang-xhou mempunyai seorang putri yang cantik. Ia terkesan akan pribadi Wei Gu, dan bermaksud menjodohkan dengan putrinya itu.

Mendengar ini Wei Gu girang bukan buatan, karena calon isterinya ini tidak saja cantik tapi juga dari keluarga pejabat tinggi,Setelah menikah, Wei Gu merasa heran sebab isterinya tidak pernah melepaskan kain penutup pundaknya. Ketika didesak, akhirnya sang isteri mengaku bahwa sesungguhnya ia menyembunyikan bekas luka di pundaknya. Sesungguhnya ia adalah putri wedana dari kota Song-cheng. Pada waktu berusia 3 tahun ayahnya meninggal dan ibunya menyusul tak lama kemudian. Kemudian ia dirawat oleh babu susu-nya, sambil berjualan sayur di pasar. Pada waktu itu, tanpa tahu sebab musababnya seorang lelaki berusaha membunuhnya, tapi iaselamat hanya pundaknya saja yang terluka.

Kemudian pamannya yang sekarang menjadi gubernur Xiang-zhou mengambilnya dan memungut-nya sebagai anak. Mendengar kisah ini Wei Gu jadi terperanjat. Ketika ditanyakan apakah babu susunya yang berjualan sayur itu mempunyai mata sebelah, sang isteri mengiakan. Begitu juga ketika dicocokkan tanggal peristiwa itu terjadi. Tak pelak lagi isterinya ini adalah bocah perempuan yang disuruhnya untuk dibunuh 14 tahunyang lalu di pasar sayur kota Song-cheng. Dalam penyesalannya WeiGu lalu menceritakan ikhwalnya mulai dari pertemuannya dengan orang tua aneh di bawah sinar bulan yang kemudian disebutnya se-bagai Yue Xia Lao Ren sampai ia menyuruh abdinya untuk membunuh bocah perempuan anak penjual sayur bermata sebelah yang sekarang menjadi isterinya. Mereka sekarang baru yakin bahwa YueXia Lao Ren telah merangkap jodoh mereka, lalu mengadakan sembahyang untuk mengucapkan terima kasih.

Kisah ini kemudian beredar dari jaman ke jaman, dan Yue Xia Lao Ren kemudian dipuja sebagai Dewa yang mengatur perjodohan. Pemujaannya kemudian tersebar luas ke seluruh negara. Di Tiongkok daratan hampir tiap kota terdapat kelenteng untuk memuja Yue Lao Gong ini, dan yang paling terkenal adalah yang terdapat di kota Hang-zhou. Yin Yan Lao Ren juga disebut Yin Yan Gong. Ia khusus mengurus buku yang memuat perjodohan.

Pria dan wanita yang telah tercatat di dalam buku itu boleh menjadi suami istri. Di Kelenteng Tian Hou Gong (Tainan) terdapat pemujaan untuk dewa ini hari lahirnya adalah Pek Gwee Cap Go ( Sembahyang Tiong Jiu) dipetik dari buku Dewa Dewi Kelenteng
hal 159 - 161


READ MORE - DEWA PERJODOHAN.
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.