Menjelajahi misteri ciamsi dan pwa pwee



Pendahuluan

Ciamsi dan pwapwee adalah barang yang umum dapat dilihat dalam kelenteng-kelenteng. Hampir semua umat kelenteng mengenal metode ini dan selalu dianggap sebagai metode peramalan dan tidak jarang ada yang mentertawakan metode ini karena dianggap tahayul atau rumus probilitas belaka dan tidak ilmiah. Tidak sesuai logika, jawaban mereka yang mentertawakan itu. Menurut prof.Bambang Soegiharto, “Kini makin disadari pula bahwa ‘logika’ sesungguhnya tidaklah satu, bukanlah hanya logika formal ala Aristoteles.Logika adalah sistem-sistem yang digunakan untuk menalarkan dan menjelaskan hubungan sebab-akibat, dan ada bermacam sistem.Sistem itu lahir seringkali sebagai konsekuensi dari ‘worldview’ (falsafah) tertentu yang khas, dan dipengaruhi karakter bahasa tertentu yang spesifik.” Sedangkan logika yang digunakan untuk mentertawai adalah logika dari kerangka berpikir barat. Bambang Soegiharto menambahkan bahwa “Orang kini makin menyadari bahwa realitas tak pernah lepas dari tafsiran: hidup berarti menafsir. Dan penafsiran selalu ditentukan oleh kerangka pemahaman awal kita (mind-frame), tak ada tafsir obyektif netral murni.” Manusia memang selalu menafsir semua yang ada dalam kehidupannya, disini kita juga harus menyadari bahwa ciamsie dan pwa pwee tidak lepas dari menafsir apa yang tersirat maupun tersurat.



Selain hal itu juga harus menyadari bahwa manusia ini hidup dalam jejaring alam semesta yang bergerak dan berkorelasi satu dengan yang lain. Ciamsie dan pwapwe adalah sarana untuk membangun jalinan dan komunikasi dengan jejaring alam semesta itu.



Upaya Manusia Menghadapi Hidup

Kita bisa melihat bahwa para Taoist jaman dahulu mencoba mencari cara memperbaiki qualitas hidup, baik secara fisik maupun psikis.Perjuangan mereka mencari cara panjang umur, menyehatkan tubuh, meneliti gejala alam, melihat perubahan, menerobos dimensi-dimensi yang tidak terlihat, mencari cara mengatasi alam tanpa merusak alam itu akhirnya bisa dikatakan semua jerih payah mereka menjadi suatu dasar yang sekarang ini dikenal sebagai 5 ilmu atau wu shu 五术 atau juga disebut daoshu 道術 ( ilmu Dao ).

Kelima ilmu adalah sebagai berikut :

Shan 山( gunung ) : quanfa 拳法 ( beladiri ), fuzhou 符咒 ( talisman ), zhuji 築基[1] ( meditasi ), shi er食餌 ( pola makan yang sehat, seperti diet carbohidrat bigu辟穀)[2], xuandian玄典 ( filsafat )
Yi 醫 ( pengobatan ) : tusuk jarum, ramuan, daoyin 導引 ( senam pernafasan ), lingzhi 靈治( psikologi )
Xiang 相 ( bentuk ) : yuzhang 玉掌 ( garis tangan ), jinmian 金面 ( raut muka ), yangzhai 陽宅 ( rumah tinggal ), mogu 摸骨( meraba tulang ), muxiang墓相( fengshui 風水, bentuk kuburan ) ,yinxiang 印相 ( bentuk stempel )
Ming 命( perjalanan hidup )[3] : bazi 八字, ziweidoushu 紫微鬥數, xingping huihai 星平會海.
Bu ( divination [4]): Meihua yishu梅花易數 , qimen dunjia 奇門遁甲 .
Ilmu xiang, ming dan bu itu sering dianggap sebagai ilmu ramal. Dalam beberapa hal memang ada benarnya. Tapi perlu dipahami bahwa ilmu ramal itu menggunakan data-data yang diperlukan dan memiliki rumus-rumus yang dibangun dengan logika yang terkait dengan kulturnya juga filosofinya. Karena itu dalam semua peradaban dan kebudayaan itu mengenal namanya “meramal” dan membangun “sains”nya sendiri berdasarkan kultur dan filosofinya. Misalnya yoga, astrologi barat, hitungan wuku Jawa dan lain-lain. Ironisnya lima ilmu utama itu sering dicibirkan oleh orang Tionghoa sendiri yang pola pikirnya menggunakan logika barat ( logika Aristotelian ) atau sains barat. Sains barat yang dipelopori Copernicous, Galileo Galilei, Francis Bacon, Isaac Newton dan lain-lain memandang alam itu bagaikan mekanik atau mesin raksasa, dapat dipahami dengan analitik. Tapi pergerakan arus posmodernisme mengubah pandangan tersebut dan didukung dengan perkembangan quantum. Arus besar dunia sains barat sudah berubah dalam memandang dunia ini sedangkan orang timur masih terkungkung dengan pola pikir arus sains barat yang sudah ditinggalkan. Sains barat sendiri sekarang bisa menerima akupuntur dan banyak tokoh-tokoh barat dipengaruhi pemikiran filosofis timur. Misalnya Heidegger, Nietzsche, Capra, Sagan dan lain-lain. Sains sekarang ini lebih berpikir probilitas daripada kepastian, karena banyaknya variable-variable yang ada. Contoh : warna hijau adalah berdasarkan indera mata manusia, jatuhnya satu benda tidak dapat diukur ketepatannya berapa detik, satu ukuran panjang juga tidak dapat ditemukan ukuran pastinya. Yang bisa adalah satuan ukuran yang bisa diterima tapi tidak pasti dan tepat.

Berbagai faktor yang mendasari ilmu ramal[5] antara lain adalah :

untuk membangun keteraturan dalam alam (cosmos ) maupun dalam hidup. Ilmu pengetahuan juga bertujuan membangun keteraturan alam. Suatu upaya mencari keteraturan alam. Dan tidak dapat dipungkiri banyak ilmu-ilmu pengetahuan sekarang ini lahir dari berbagai disiplin “ilmu” yang dianggap tahayul. Misalnya astronomi lahir dari astrologi, kimia lahir dari alkimia. Bahkan Newton sendiri awalnya berangkat dari alkima, Galileo berangkat dari astrologi.
Sebagai alat pengontrol. Baik atau buruk hasil prediksi atau ramalan itu harus menjadikan manusia atau kelompok masyarakat mawas diri dan memperbaiki keadaannya terus menerus. Yang menjadi masalah adalah kondisi psikologis jika hasil ramalan itu baik atau buruk. Tanpa adanya mawas diri dan sikap memperbaiki diri, semua itu menjadi sia-sia belaka. Dalam bidang ilmu ekonomi misalnya, prediksi atau ramalan ekonomi entah baik atau buruk itu tetap harus disikapi dengan mawas diri dan upaya memperbaiki diri.
Perjalanan hidup manusia selalu tidak memiliki ketidak pastian karena ketidak mampuannya dalam memprediksi apa yang akan terjadi. Karena itu ilmu ramal adalah suatu upaya memberikan kepastian dalam kondisi yang tidak pasti. Sains juga berupaya memberikan kepastian-kepastian dalam hal yang tidak pasti, misalnya ramalan cuaca. Prediksi atau ramalan cuaca itu juga tidak memberikan suatu jawaban yang pasti, tetap ada toleransi untuk ramalan itu.
Menafsir atau meramal itu dikenal dalam semua kebudayaan dan mengandung unsur kebijaksanaan ( profetik ). Hasil ramalan tidak selalu baik, unsur enak dan tidak enak harus diterima. Dalam budaya Tionghoa itu mengenal banyak metode untuk mengubah atau memiliki cara-cara untuk mengatasi tidak enak itu. Manusia saat menatap masa depan, selalu memiliki kecemasan dan harapan, citra dan idealitas. Begitu pula orang tua yang selalu memiliki kecemasan dan harapan akan masa depan anak itu. Sudah memasuki ranah belief system dari kepercayaan orang Tionghoa. Dan belief system ini berjalan ribuan tahun yang bertujuan menjaga keteraturan atau mencari keteraturan itu sendiri yang merupakan system simbolik. System simbolik adalah mediasi antara tataran abstraksi dan ekspresi dalam hidup, yang memiliki 3 bagian yaitu domain ekspresi, system simbolik dan domain abstraksi ( konseptual atau metafisik ).

Mereka yang mempelajari Yijing atau kitab perubahan dari sudut filosofis akan menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah perubahan dan perubahan itu memiliki pola yang bisa diprediksi atau diramal dengan toleransi akurasinya itu sendiri. Jadi tidak ada yang bisa memberikan suatu kepastian. Karena itu filsuf Xun Zi mengatakan bahwa “mereka yang menguasai perubahan itu tidak akan memprediksi”. Pernyataan Xun Zi ini bukan berarti ilmu ramal tidak ada atau harus dibuang. Premis tersebut harus dilihat bahwa jika kita menyadari segala sesuatu adalah anicca atau wuchang dan bisa bermain cantik dalam wuchang itu maka kita bisa mengarungi kehidupan dengan indah dan cantik. Masalahnya adalah untuk mencapai pengertian dan pemahaman ( atau pencerahan ) itu memerlukan jalan yang panjang. Selama perjalanan itu maka adalah hal yang wajar manusia mencoba meraih kepastian dalam ketidak pastian ini.

[1] Pengertian meditasi Taoism agak berbeda dengan meditasi Buddhism, dimana meditasi Taoism terkait dengan qi 氣 yang bertujuan menjaga yuanqi 元氣 ( qi asali ) atau qi炁 ( karakter qi asali dalam Taoism ditulis seperti itu, kadang juga dikaitkan dengan Qi alam semesta yang asali, tidak tercemar ) tidak terkuras dengan cepat. Tujuannya adalah kesehatan dan akhirnya adalah pencerahan 得道.

[2] Shi er 食餌 adalah pola makan yang sehat dengan tujuan menghindari penyakit.

[3] Ming saya artikan adalah perjalanan hidup, tidak diartikan sebagai takdir, karena dalam ilmu ming, yang dihitung adalah keselarasan perjalanan hidup seseorang dari balita hingga akhir hayatnya dengan lima unsur.

[4] Pengertian divination adalah suatu upaya peramalan dengan kekuatan yang supra natural. Untuk hal ini perlu dijelaskan bahwa bu tidak sekedar bermenung mendapatkan ilham tapi menggunakan metode atau cara. Hanya saja dalam kelenteng, metode ciamsie dan pwapee itu dipercaya selain menggunakan metode juga menggunakan kekuatan yang ilahi atau dewata.

[5] Termasuk ramalan cuaca dan berbagai prediksi ( ramalan ) yang menggunakan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Misalnya ramalan perkembangan ekonomi dan sebagainya.

Bagian 1 - selesai, bersambung

READ MORE - Menjelajahi misteri ciamsi dan pwa pwee

Kelenteng dan Peninggalan Zhu Ge Liang



Kelenteng Zhu Ge Liang

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan Zhuge Liang, kita bisa memulainya dari Chengdu, ibukota Shu Han, tempat Zhuge Liang menghabiskan masa hidupnya. Di Chengdu jugalah dibangun sebuah wihara bernama Wihara Wu Hou Ci (武侯祠; Wuhou Memorial Temple) yang dibangun pada abad ke 14 dan didedikasikan untuk Zhuge Liang.


Peninggalan / Warisan

Sejarah Tiongkok menceritakan bahwa selain ahli dalam strategi pemerintahan, Zhuge Liang juga dipercaya sebagai penemu roti Man Tou (馒头; steamed bun), Zhuge Nu ( 諸葛弩; repeating crossbow), Stone Sentinel Maze (八阵图) yang terletak di dekat Baidicheng, Chongqing dan Tian Deng (Kongming lantern, Chinese lantern, Sky lantern, 天燈) yang digunakan sebagai pemberi sinyal dalam kegiatan militer.

Di Indonesia.

Kelenteng yg memiliki patung Zhu Ge Liang adalah kelenteng di TITD Kwan Sing Bio, Jl. RE. Martadinata No.1, Karangsari, Kec. Tuban, Jawa Timur

       


      
READ MORE - Kelenteng dan Peninggalan Zhu Ge Liang

Kisah Tiga Negara (SAM KOK)



Kalau berbicara Zhugeliang, maka tidak akan seru membahas sedikit tetang Kisah Tiga Negara (SAM KOK)

Lima Jenderal Harimau atau
Five Tiger Generals [五虎将] atau Lima Jenderal Harimau mengacu pada lima jenderal militer dari negara Shu Han pada masa Perang tiga Negara (Sam Kok). Lima Jenderal yang dimaksud adalah Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Ma Chao dan Huang Zhong yang dikenal karena keberanian mereka. Istilah ini muncul dalam novel roman Tiga Kerajaan yang ditulis oleh Luo Guanzhong; dimana Liu Bei, pendiri dari kerajaan Shu Han, memberikan gelar “Lima Jenderal Harimau” sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka dalam berperang. Sebenarnya sejarah dari sebutan “Lima Jenderal Macan ini” tidak diketahui secara pasti. Riwayat para jenderal memang ada, tetapi tidak pasti apakah mereka diberi gelar pada saat hidup atau setelah meninggal sebagai penghormatan . Istilah “Lima Jenderal Harimau” ini kemungkinan besar hanya merupakan gaya bahasa yang digunakan dalam novel. Berikut informasi mengenai lima jenderal yang terkenal tersebut :

Nama Lengkap: Guan Yunchang
Lahir: A.D. 162
Meninggal: A.D. 219
Anak: Guan Ping (anak angkat, A.D. 182), Guan Xing (A.D. 193), Guan Suo (A.D. 194)
Cucu: Guan Tong (anak dari Guan Xing, A.D. 224), Guan Yi (anak dari Guan Xing, A.D. 226)

Guan Yu – 關羽 (nama panggilan Yunchang) adalah seorang jenderal yang melayani panglima perang Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur dari China. Dia memainkan peran penting dalam perang sipil yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Han dan pembentukan negara Shu Han di periode Tiga Negara, dimana Liu Bei adalah kaisar pertamanya. Guan Yu juga mengangkat saudara dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Selama masa Pemberontakan Selendang Kuning, Guan Yu bersama-sama Liu Bei dan Zhang Fei saling bahu membahu. Guan Yu meninggal pada tahun 219 setelah menolak untuk menyerah kepada Sun Quan (yang bekerja sama dengan Negara Wei, Caocao) sehingga dia bersama anak angkatnya, Guan Ping, dihukum mati.

Sebagai salah satu tokoh sejarah China yang terkenal di seluruh Asia Timur, kisah hidup Guan Yu sebagian besar telah ditemukan dalam novel sejarah roman Tiga Kerajaan atau diturunkan dari generasi ke generasi, di mana perbuatan dan kualitas moralnya telah diakui. Guan Yu dihormati sebagai lambang kesetiaan dan kebenaran. Guan didewakan sejak awal Dinasti Sui dan masih dipuja oleh banyak orang China sampai saat ini, terutama di bagian selatan China, Taiwan, Hong Kong, dan komunitas China perantauan yang ada di luar negeri. Dia adalah seorang tokoh dalam agama rakyat China, populer di kalangan Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme China. Banyak orang membuat tempat sembahyang kecil untuk menghormati Guan Yu, termasuk di toko-toko tradisional China dan restoran. Ia sering disebut Guan Gong (Guan yang terhormat) dan Guan Di (Kaisar Guan).


Nama Lengkap: Zhang Yide
Lahir: A.D. 167
Meninggal: A.D. 221
Anak: Zhang Bao (A.D. 192), Zhang Shao (A.D. 198)

Zhang Fei – 張飛 (nama panggilan Yide) adalah seorang jenderal militer yang bertugas di bawah panglima perang Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur dan awal periode Tiga Negara. Zhang Fei dan Guan Yu adalah dua orang yang berada di paling awal untuk bergabung dengan Liu Bei. Mereka lalu mengikat hubungan persaudaraan dengan junjungan mereka, Liu Bei, dan menemaninya pada sebagian besar eksploitasi perjalanan awal. Zhang Fei bertempur di berbagai pertempuran untuk Liu Bei, termasuk pertempuran Red Cliffs (208-209), pengambilalihan Provinsi Yi (212-215) dan penyerangan/kampanye Hanzhong (218-219).

Dia dibunuh oleh bawahannya, Fan Jiang dan Zhang Da, dengan alasan karena Zhang Fei kadang memerintahkan suatu hal yang tidak masuk akal kepada mereka dalam waktu yang sangat singkat dan sering mendapat perlakuan yang buruk. Konon sikap Zhang Fei berubah menjadi brutal setelah saudara angkatnya Guan Yu meninggal dan dia ingin segera membalas dendam. Zhang Fei meninggal pada tahun 221 hanya setelah beberapa bulan negara bagian Shu Han yang didirikan oleh Liu Bei berdiri di awal tahun itu.


Nama Lengkap: Zhao Zilong
Lahir: A.D. 158
Meninggal: A.D. 228
Saudara: Zhao Lei (saudara angkat)
Anak: Zhao Tong (A.D. 209), Zhao Guang (A.D. 210)

Zhao Yun – 趙雲 (nama panggilan Zilong) adalah seorang jenderal militer yang tinggal di akhir Dinasti Han Timur dan awal periode Tiga Negara. Dia awalnya menjadi bawahan panglima perang utara Gongsun Zan. Zhao Yun kemudian datang untuk melayani Liu Bei dan sejak saat itu dia menemani Liu pada sebagian besar eksploitasi awal, seperti pertempuran Changban (208) dan penyerangan/kampanye Hanzhong (217-219). Dia terus melayani di negara bagian Shu Han pada periode Tiga Kerajaan, berpartisipasi pada ekspedisi Utara pertama Zhuge Liang, sampai kematiannya pada tahun 229. Banyak fakta tentang kehidupan Zhao Yun tidak jelas karena informasi yang terbatas dalam sumber-sumber sejarah. Beberapa aspek dan kegiatan dalam kehidupannya telah sangat didramatisasi atau berlebihan dalam cerita rakyat dan fiksi, terutama di sejarah Roman Tiga Kerajaan karangan penulis Luo Guanzhong, di mana ia dipuji sebagai anggota dari Lima Jenderal Harimau di bawah Liu Bei.


Nama Lengkap: Ma Mengqi
Lahir: A.D. 176
Meninggal: A.D. 225
Ayah: Ma Teng
Saudara: Ma Xiu (A.D. 178), Ma Tie (A.D. 180)
Sepupu: Ma Dai (A.D. 174)

Ma Chao – 馬超 (nama panggilan Mengqi) adalah seorang jenderal perang militer yang tinggal di akhir Dinasti Han Timur dan awal periode Tiga Negara. Dia merupakan anak tertua dari Ma Teng dan keturunan Ma Yuan. Ma Chao menggerakkan tentara sang ayah bekerja sama dengan saudara Ayahnya, Hansui, untuk membalas dendam setelah Cao Cao menipu ayahnya datang ke Ibukota dan membunuhnya bersama saudara ayahnya yang lain, Ma Xiu dan Ma Tie. Ma Chao bergabung dengan pasukan Liu Bei setelah dibujuk oleh Zhuge Liang pada saat dia sedang bertarung mati-matian dengan Zhang Fei pada penyerangan/ekspansi Liu Bei ke daerah Xichuan. Setelah Kerajaan Shu berdiri, Ma Chao bertanggung jawab menjaga perbatasan utara dari serangan kaum barbarian dan dari Kerajaan Wei. Dia muncul sebagai karakter utama dalam sejarah Roman Tiga Kerajaan karangan penulis Luo Guanzhong, sebagai salah satu dari Lima Jenderal Harimau di bawah komando Liu Bei.


Nama Lengkap: Huang Hanshen
Lahir: A.D. 148
Meninggal: A.D. 221

Huang Zhong – :黃忠 (nama panggilan Hansheng) adalah seorang jenderal militer yang melayani panglima perang Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur. Ia terkenal karena kemenangannya di Pertempuran Gunung Dingjun (219), di mana dia dan pasukannya menyerang seorang jenderal Caocao yang terkenal, Xiahou Yuan, yang tewas dalam aksi serangan itu. Huang Zhong meninggal pada tahun 221 setelah terluka parah pada pertempuran yang terakhirnya ketika Kerajaan Shu melancarkan serangan ke Kerajaan Wu untuk membalas dendam kematian Guan Yu. Ketika itu dia sudah berusia lebih dari 70 tahun, karena hal itu keselamatannya sangat dikuatirkan oleh Liu Bei yang jarang mengirimnya ke pertempuran-pertempuran yang berbahaya. Huang Zhong selalu digambarkan dalam novel sejarah Roman Tiga Kerajaan sebagai seorang jenderal tua yang memiliki semangat muda dan konstitusi. Dia juga termasuk satu dari Lima Jenderal Harimau di bawah komando Liu Bei.

READ MORE - Kisah Tiga Negara (SAM KOK)

Kisah Kipas Bangau Dewa Zhuge Liang (bagian 3 - tamat) versi Taoisme



Zhuge Liang adalah ahli strategi militer dari negara Han pada zaman Tiga Negara (220-280 A.D.). Dia adalah ahli strategi yang paling cerdik dan terkenal dalam sejarah Tiongkok.

Dia acap kali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau. Ketika Zhuge Liang berumur 9 tahun, dia masih tidak dapat berbicara. Keluarganya sangat miskin. Ayahnya menyuruh dia menggembalakan domba di dekat sebuah bukit di sebuah gunung.

Di atas gunung ada sebuah kuil Pendeta Tao dimana tinggal seorang Pendeta Tao tua dengan kepala penuh dengan uban. Setiap hari Pendeta Tao tersebut berjalan-jalan santai di luar kuil. Ketika ia berjumpa Zhuge Liang, dia mencoba berkomunikasi dengan anak laki-laki tersebut dengan menggunakan isyarat tangan.

Zhuge Liang juga senang berkomunikasi dengan Pendeta Tao tersebut dengan isyarat tangan. Pendeta Tao itu menjadi sangat menyayangi Zhuge Liang yang pintar dan menawan itu. Dia mulai mengobati masalah kebisuan anak laki-laki itu. Tidak lama kemudian Zhuge Liang bisa berbicara!

Zhuge Liang sangat gembira ketika akhirnya dia bisa bicara. Dia pergi mendaki menuju ke kuil Pendeta Tao tersebut untuk mengucapkan terima kasih. Pendeta Tao tersebut memberitahukannya, Ketika kau pulang ke rumah, katakan pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid dan saya akan mengajari kamu membaca.

Saya juga akan mengajarimu seni astronomi, geografi dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi militer. Jika orang tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari dan kamu tidak boleh membolos!

Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao tua tersebut. Hujan atau terang, Zhuge Liang akan mendaki gunung untuk menerima pelajarannya. Dia adalah seorang anak yang sangat pintar dan rajin yang sangat serius dalam pelajarannya. Dia juga mempunyai daya ingat yang sangat tajam. Pendeta Tao tersebut tidak pernah harus mengajari segala sesuatunya sampai dua kali. Dengan sendirinya Pendeta Tao tersebut menjadi semakin menyayanginya.

Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang menjadi seorang remaja. Suatu hari ketika Zhuge Liang seperti biasanya turun gunung, dia melewati sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di tengah-tengah gunung. Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat, diikuti dengan badai petir.

Zhuge Liang tiada pilihan lain selain berlari masuk ke biara yang telah ditinggalkan itu untuk menghindari badai. Di sana ada seorang wanita muda yang belum pernah dijumpai keluar untuk bertemu dengannya. Dia memiliki sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Dia begitu cantiknya sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya adalah seorang dewi.

Dia segera tertarik dengan wanita muda tersebut. Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia di depan pintu dan berkata padanya dengan tersenyum, Karena sekarang kita sudah saling berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati secangkir teh kapanpun kau ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik ke gunung. Begitu Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa curiga. Mengapa saya tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini sebelumnya pikirnya.

Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi biara tersebut. Setiap kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan ramah tamah. Dia memasak makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya untuk tinggal lebih lama. Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang dengan seru dan bermain catur. Dibandingkan dengan kuil Pendeta Tao, biara tersebut bagaikan surga.

Selalu memikirkan wanita itu mengalihkan perhatiannya dari pendidikannya dan dia mulai kehilangan semangat untuk belajar. Dia semakin lama semakin kurang perhatiannya terhadap ajaran dari Pendeta Tao. Dia juga menjadi pelupa dan mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran baru.

Pendeta Tao tua itu menemukan masalahnya. Suatu hari dia memanggil Zhuge Liang dan menarik napas panjang. Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon ujarnya.Saya telah menyia-nyiakan banyak tahun untuk kamu Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan berkata, Guru, saya tidak akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran anda! Saya tidak mempercaimu,kata Pendeta Tao tua. Saya tahu kamu adalah seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin mengobati penyakitmu dan memberimu sebuah pendidikan yang layak.

Delapan tahun terakhir ini kamu telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir bahwa kerja keras untuk mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu melalaikan pendidikanmu. Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat kemana-mana jika kamu terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji padaku untuk tidak akan pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat mempercayai kata-katamu?

Pendeta Tao tua melanjutkan, Semua ada penyebabnya.Kemudian dia menunjuk ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan merambat yang tebal di halaman. Lihat pohon itu,katanya. Mengapa kamu pikir pohon itu setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap pertumbuhannya? Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi pertumbuhannya!jawab Zhuge Liang.

Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk tumbuh di gunung cadas dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh karena dia teguh untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak takut udara panas maupun dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya, dia tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman merambat yang lembut itu bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!

Zhuge Liang sangat pintar, jadi dia segera memahami apa yang dimaksud oleh Gurunya. Dia bertanya, Guru, anda mengetahui kunjungan saya ke biara itu. Pendeta Tao tua berkata, Hidup di dekat air, seseorang akan mempelajari sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan mempelajari bahasa burung. Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu. Bagaimana mungkin hubungan asmaramu luput dari perhatianku?

Dia berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya dengan tatapan yang serius, Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai wanita cantik itu. Dia bukan manusia. Dia adalah burung bangau dewa di surga. Dia telah diusir keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah mencuri dan memakan buah persik Ratu Langit.

Dia datang ke dunia manusia dan menjelma menjadi seorang wanita cantik. Dia adalah bangau dewa yang telah rusak moralnya yang tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya oleh penampilannya, kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja. Jika kamu membiarkan dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan segalanya! Selain itu, jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia akan menyakitimu. Sampai waktu itu Zhuge Liang baru menyadari keseriusan dari petualangannya. Dengan cemas dia meminta gurunya cara mengatasinya.

Pendeta Tao tua berkata, Bangau dewa tersebut mempunyai kebiasaan pada tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan terbang ke sungai langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu harus masuk ke kamarnya dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari Istana Langit.

Tanpa jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang wanita cantik. Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi Gurunya. Sebelum ia pergi, Gurunya memberikan sebuah Pedang kayu dengan ukiran kepala naga di ujung atasnya.

Dia memberitahu Zhuge Liang, Ketika bangau dewa tersebut mengetahui kebakaran di dalam biara, dia akan segera terbang kembali dari sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah membakar jubahnya dan akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus memukulnya dengan pedang kayu ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan apa yang telah aku beritahukan kepadamu!

Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Dia membuka kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas ranjang. Dia segera membakar jubah tersebut. Ketika bangau dewa sedang mandi di sungai langit, tiba-tiba dia merasa jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan melihat api.

Dia segera terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah membakar jubahnya. Dia menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya dengan paruh. Zhuge Liang mempunyai reflek yang cepat. Dia mengangkat pedang kayunya dan memukul jatuh bangau dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau itu. Bangau dewa itu memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia kehilangan bulu ekornya pada Zhuge Liang.

Dia menjadi seekor bangau dengan ekor botak. Dia menjadi malu dengan penampilannya, sehingga dia berhenti mandi di sungai langit. Dia juga tidak berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah lagi, jadi dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di dunia manusia selamanya dan hidup diantara bangau biasa. Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini, Zhuge Liang menyimpan bulu ekor bangau itu.

Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin. Dia akan menghafal semua yang diajarkan oleh Gurunya dan semua buku pelajaran. Dia benar-benar menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat menerapkannya dengan mudah. Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah bangau dewa setahun yang lalu, pendeta Tao tua memberitahukannya dengan sebuah senyuman lebar, Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku selama sembilan tahun.

Saya telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan kamu telah mempelajari semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah, Guru membawamu ke pintu masuk, dan terserah padamu untuk berlatih kultivasi.Sekarang kamu berusia 18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan mengembangkan karirmu!

Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya, dia memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. Guru! Semakin banyak saya belajar, saya merasa semakin rendah hati. Saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari dari anda!

Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau harus belajar menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan merancang pemecahan yang berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagi contoh, kau telah belajar sebuah pelajaran yang penting dari kunjunganmu dengan bangau dewa bahwa seseorang tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini adalah pelajaran berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan hal itu didalam pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh permukaan maya dari dunia ini.

Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus melihat segalanya dalam bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya kepadamu! Saya akan meninggalkanmu hari ini.Guru, kemana Anda akan pergi?dengan heran Zhuge Liang bertanya,dimana saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian hari? Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi.

Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat menetes dari matanya. Dia berkata, Guru! Sebelum anda pergi, anda harus memberikan aku kesempatan untuk bersujud kepada anda dan berterima kasih kepada anda atas pendidikan yang anda berikan padaku! Kemudian Zhuge Liang bersujud kepada Gurunya. Ketika dia berdiri, Pendeta Tao tersebut telah menghilang.

Pendeta Tao itu meninggalkannya sebuah jubah dengan gambar patkwa. Zhuge Liang sering memikirkan Gurunya; karena itu, ia sering memakai jubah dengan gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa Gurunya berada di sampingnya. Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Gurunya, terutama nasihat perpisahannya. Dia membuat kipas dari bulu ekor bangau dewa untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati seumur hidupnya. Ini adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa oleh Zhuge Liang.

READ MORE - Kisah Kipas Bangau Dewa Zhuge Liang (bagian 3 - tamat) versi Taoisme

Sejarah Zhuge Liang versi SAM KOK (bagian ke-2)



Zhuge Liang memegang kipas dari bulu sebagai ciri khasnya
Perdana menteri Shu Han
Lahir 181 di Yinan, Shandong, China
Wafat 234, aged 52-53 Wuzhang Plains, Shaanxi, China

Nama
Hanzi sederhana 诸葛亮
Hanzi tradisional 諸葛亮
Pinyin Zhūgě Liàng
Wade-Giles Chu-ko Liang
Nama kehormatan Kongming (孔明)
Nama anumerta Marquis Zhongwu (忠武侯)
Nama lain Wòlóng (臥龍) Crouching Dragon
Fúlóng (伏龍) Sleeping Dragon
Zhuge Liang (Hanzi: 诸葛亮) (181–234 AD) adalah ahli strategi militer Tiongkok yang terkenal pada periode Tiga Kerajaan (220–280 AD).

Ia menjabat sebagai perdana menteri Shu Han dengan kaisarnya bernama Liu Bei. Ia bernama lengkap Zhuge Kongming dan nama julukan Wòlóng, juga dikenal sebagai Cukat Liang atau Kong Beng di kalangan Tionghoa Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh sentral di balik berdirinya Tiga Kerajaan. Zhuge Liang adalah seorang ahli strategi dan advisor dari Shu, dia sering dipanggil ”Sleeping Dragon” atau Naga Tidur. Dia jenius dalam banyak urusan, baik itu domestik dan urusan ke luar. Zhuge Liang acapkali dilukiskan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.

Sebagai Penasehat Liu Bei

Ia mengikuti Liu Bei setelah Liu Bei dan kedua adik angkatnya membuat tiga kunjungan untuk menjemputnya menjadi ahli strategi negeri Shu. Terharu dengan keikhlasan dan kemurnian hati Liu Bei yang menangis karena mengenangkan nasib rakyat pada zaman peperangan itu, maka ia menghambakan diri kepada Liu Bei. Nasihat pertama yang diberikannya secara pribadi kepada Liu Bei adalah "Longzhong Plan", yaitu tentang pendirian tiga negara besar di tanah Tiongkok, yaitu Wei, Wu dan Shu. Nasihat pertama Zhuge Liang ini menjadi kenyataan setelah beberapa tahun membantu Liu Bei di dalam peperangan untuk menegakkan Dinasti Han yang telah rapuh.

Setelah Liu Bei wafat, Liu Bei mengamanatkan padanya untuk memulihkan kembali kekuasaan Dinasti Han dan ’mengambil’ alih kekuasaan kalau-kalau anak Liu Bei, Liu Chan, tidak becus dalam menjalankan negara. Walaupun Liu Chan terbukti tidak cakap, Zhuge Liang masih menghargainya sebagai kaisarnya.

Zhuge Liang dalam "Kampanye ke Selatan"

Hal pertama yang dia lakukan adalah mengamankan daerah Nanman. Dan pada tahun 225 AD dia menginvasi daerah Nanman dan berhasil menangkap pemimpinnya, Meng Huo. Zhuge Liang kemudian menawarkan status aliansi kepada Nanman yang kemudian ditolak oleh Meng Huo. Setelah Zhuge Liang menangkap dan melepaskan Meng Huo sebanyak tujuh kali, akhirnya Meng Huo mau menerima penawaran itu dan menjadi aliansi untuk Shu.

Setelah mengamankan daerah selatan dan memastikan tidak akan ada pemberontakkan dari Nanman maka kampanye utara pun dilaksanakan. Pada tahun 227 AD Zhuge Liang menginvasi Tian Shui dan berhasil merekrut seorang prajurit Wei yang cakap, Jiang Wei, untuk bergabung dengan Shu. Jiang Wei kemudian ditunjuk menjadi penerus Zhuge Liang.

Tahun 228 AD Dia mengirimkan anak buahnya, Ma Su untuk mengambil daerah Jie Ting. Dan perang antara Shu yang dikomandani oleh Ma Su dengan Wei yang dikomandani oleh Sima Yi terjadi. Ma Su yang telah dilarang oleh Zhuge Liang untuk mendirikan perkemahan di puncak gunung bersikeras melakukannya dengan alasan agar lebih mudah menghancurkan perkemahan musuh. Namun, tak terpikirkan oleh Ma Su, ternyata hal itu malah membuat Wei menjadi mudah menyerang. Pasukan Wei dipimpin oleh Zhang He menaiki bukit menuju perkemahan Shu yang membuat Ma Su mundur dan kalah telak. Pada akhirnya, Ma Su yang dijadikan penjahat negara dieksekusi mati oleh atasannya sendiri, Zhuge Liang.

Pertempuran di Dataran Wu Zhang

Tahun 229 AD Zhuge Liang kembali mengambil alih komando perang, kali ini di Chen Cang. Chen Cang yang merupakan daerah Wei yang dilindungi oleh Sima Yi. Lagi-lagi perang antara Zhuge Liang dan Sima Yi terjadi. Alhasil, walaupun Chen Cang yang terutama gerbang utamanya itu sangat terlindungi, namun dengan segala perlengkapan berat Shu, Chen Cang akhirnya jatuh ke tangan Zhuge Liang.

Kampanye utara ini tak berakhir sampai di Chen Cang, tapi Zhuge Liang meneruskannya sampai ke dataran Wu Zhang. Pada awal kedatangan Shu ke daerah ini, Zhuge Liang sudah jatuh sakit dan berita ini sampai ke Sima Yi. Sebelum mulai perang terbuka, Zhuge Liang mengirimkan surat kepada kaisar Wu, Sun Quan, meminta untuk menyerang Wei dengan harapan Wei akan kekurangan pasukan ketika melawan Shu di Wu Zhang nanti. Kerajaan Wu meluluskan permintaan tersebut namun tidak dengan sepenuh hati dikarenakan hanya untuk menghargai aliansi Wu-Shu. Wu yang akhirnya menyerang istana He Fei milik Wei malah mengalami kekalahan. Tapi bagaimanapun perang di Wu Zhang harus tetap dimulai. Akhirnya pada tahun 234 AD Zhuge Liang mengumumkan perang terbuka terhadap Wei yang dikomandani oleh Sima Yi. Walaupun sakit, Zhuge Liang tetap mengomando pasukan Shu sampai akhirnya dia wafat ketika perang belum berakhir. Komando pasukan Shu diambil alih oleh Jiang Wei. Jiang Wei memerintahkan untuk menutupi kematian Zhuge Liang dari Wei. Namun Sima Yi yang merasakan keganjilan akan strategi yang Shu pakai berkesimpulan kalau Zhuge Liang sudah wafat. Dengan kesimpulan tersebut, dia membuat tentara Wei makin bersemangat dan membuat Jiang Wei harus mundur kembali ke Shu Han. Dan setelah perang berakhir, Sima Yi pergi ke sisa-sisa perkemahan Shu dan menganugerahi Zhuge Liang sebagai ’the greatest mind under heaven’

Kematian Zhuge Liang menjadi awal kemunduran bangsa Shu yang akhirnya menyerah kepada Wei pada tahun 263 AD (sekitar 30 tahun setelah Zhuge Liang wafat). Pada tahun 265 AD menteri negara Wei bernama Sima Yan (cucu dari Sima Yi) merebut kekuasaan dari keluarga Cao dan mendirikan negara Jin. Akhirnya pada tahun 280 AD Cina resmi dipersatukan di bawah Dinasti Jin yang akan berkuasa selama lebih dari 150 tahun berikutnya.

Kebesaran Zhuge Liang menyebabkannya digelari salah satu dari 6 perdana menteri terbesar dalam sejarah Tiongkok.

Silsilah keluarga Zhuge

Zhuge Gui
Zhuge Jin
Zhuge Ke
Zhuge Zhuo
Zhuge Song
Zhuge Jian
Zhuge Qiao
Zhuge Rong
Zhuge Liang
Zhuge Qiao (adopsi)
Zhuge Pan
Zhuge Xian
Zhuge Zhan
Zhuge Shang
Zhuge Jing
Zhuge Jun
Zhuge Xuan
Zhuge Luo
READ MORE - Sejarah Zhuge Liang versi SAM KOK (bagian ke-2)
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.