Inilah 7 Dekorasi Untuk Tahun Baru Imlek

Foto Kisah Para Dewa dan Ajaran Tao. 
Inilah 7 Dekorasi Untuk Tahun Baru Imlek

Sebagian besar masyarakat Tionghoa mulai menghias dekorasi rumah sejak 10 hari sebelum menjelang Imlek. Hampir semua dekorasi menggunakan warna merah dan gambar-gambar keberuntungan. Tahun 2017 merupakan Tahun Ayam, sehingga dekorasi berupa ayam akan lebih dominan.

1. Lampion Berwarna Merah – Mengusir Pergi Kemalangan
Lampion merah digunakan dalam berbagai pesta dan festival penting, seperti Festival Imlek, Festival Lampion (Cap Go Meh) dan Festival Pertengahan Musim Gugur (Tiong Chiu). Sementara lampion berwarna putih digunakan pada acara berkabung.
Selama Tahun Baru Imlek, lazim dijumpai banyak lampion yang tergantung di pohon-pohon di sepanjang jalan pusat pecinan, gedung-gedung perkantoran, dan pintu-pintu depan rumah. Menggantung sepasang lampion di depan pintu rumah dipercaya dapat mengusir pergi nasib buruk.
Seiring dengan perkembangan jaman, bentuk2 lampion mulai dibuat unik. Salah satunya adalah lampion yang dibuat dari kertas pembungkus angpau. Untuk cara pembuatannya dapat pembaca baca di artikel ini.

2. Untaian Bait Sajak di Pintu – Harapan Baik di Tahun Mendatang
Untaian bait sajak Tahun Baru (对联; duìlián) ditempelkan pada pintu masuk rumah. Bait sajak tersebut mengungkapkan pernyataan atau pengharapan yang baik.
Harapan baik di tahun baru biasanya dinyatakan secara berpasangan (sajak 2 bait), karena dalam budaya Tionghoa, jumlah yang genap berkaitan dengan nasib baik dan keberuntungan. Untaian bait sajak berupa seni tulis kaligrafi yang ditulis menggunakan kuas bertinta hitam di atas sehelai kertas berwarna merah.
Kedua baris bait sajak biasanya terdiri dari 7 karakter yang ditempel pada kedua sisi pintu keluar masuk. Kebanyakan isi sajak bercerita mengenai datangnya musim semi. Beberapa berisi mengenai pernyataan harapan atau keyakinan si penghuni rumah, seperti keharmonisan dan kesejahteraan.
Sajak ini akan tetap berada di tempatnya sampai diperbarui kembali pada tahun baru berikutnya. Dalam nada yang sama, harapan baik berupa idiom 4 karakter juga sering ditambahkan mendatar pada bingkai pintu.

3. Karya Seni Ukir Kertas – Keberuntungan dan Kebahagiaan
Kerajinan ukir kertas merupakan karya seni disain memotong kertas (dalam warna apapun, tetapi untuk Festival Musim Semi terutama menggunakan warna merah), kemudian ditempelkan pada latar yang berwarna kontras atau pada permukaan yang transparan (seperti jendela).
Ini sesuai dengan adat masyarakat di Tiongkok utara dan tengah yang menempelkan karya seni ukir kertas berwarna merah pada pintu dan jendela rumah.
Gambar berupa tanaman atau hewan yang melambangkan keberuntungan biasanya menjadi tema dari karya seni ukir kertas di Tahun Baru. Setiap hewan atau tanaman mewakili harapan yang berbeda.
Beberapa contoh hasil seni ukir kertas, misalnya buah persik melambangkan umur panjang, buah delima melambangkan kesuburan, bebek mandarin melambangkan cinta, pohon pinus melambangkan awet muda, bunga peony melambangkan kehormatan dan kekayaan, burung murai yang bertengger di atas dahan pohon prem pertanda akan segera terjadi peristiwa yang menguntungkan, dsb.

4. Lukisan Tahun Baru – Simbol Salam Tahun Baru
Lukisan Tahun Baru (年画; niánhuà) dipasang pada pintu dan dinding selama tahun baru bertujuan sebagai dekorasi dan sebagai simbol salam tahun baru. Gambar pada lukisan biasanya berupa tanaman atau hewan yang menurut legenda melambangkan keberuntungan.

5. Karakter Fu – Keberuntungan ‘Dicurahkan’
Yang mirip dengan untaian bait sajak dan karya seni ukir kertas adalah menempelkan kertas kaligrafi berbentuk wajik berukuran besar dengan karakter Mandarin 福 (fú) pada pintu rumah.
Adapun versi lain dari Karakter Fu ini adalah dengan sengaja dibuat / ditempel terbalik. Fu berarti ‘nasib baik’. Dengan menempatkan karakter tersebut dengan posisi bagian atas dibalik ke posisi bawah, mengartikan bahwa mereka menginginkan ‘nasib baik’ “ditumpahkan atau tercurah” ke atas mereka.
Posisi yang benar dari karakter ini menurut aslinya adalah piktogram dari sebuah kendi. Jadi dengan membalikkan posisi karakter tersebut ibarat sedang “menuang” nasib baik keluar dari kendi kepada semua orang yang masuk melalui pintu tersebut!
Legenda Fu yang Terbalik
Tradisi yang menarik ini mungkin berasal dari kesalahan yang tidak disengaja. Pada suatu hari di di Hari Tahun Baru Imlek (tidak diketahui tahun persisnya), sebuah keluarga membuat kesalahan ceroboh dengan memasang 福 (fu) secara terbalik.
Pada hari pertama di tahun baru, datanglah tamu pertama yang berkunjung, melihat huruf 福 dalam posisi terbalik, serta-merta berseru “你們的福倒了! (Nǐmen de fú dàole) Yang kira-kira berarti “berkah kalian telah turun!”
Huruf 倒 (dao) selain mempunyai arti ‘terbalik’, juga berarti “tumpah”. Sehingga kalimat “你們的福倒了!” juga dapat diartikan sebagai ‘fu (berkah) kalian sudah tercurah’. Lama kelamaan masyarakat mulai menggemari makna alternatif ini, sehingga mulailah dipasang dekorasi fu dalam posisi terbalik untuk “memohon” ‘curahan berkat’.
Konon tradisi menempel karakter Fu (福) secara terbalik ini digemari etnis Tionghoa di Malaysia, dan mulai menyebar ke Singapore dan Indonesia pada 1 dekade terakhir.

6. Pohon Kumquat – Harapan akan Kekayaan dan Keberuntungan
Dalam bahasa kanton, kumquat (kumkuat) disebut ‘gam gat sue’. Kata ;gam; (金; Jīn) merupakan bahasa kanton untuk kata ‘emas’, dan kata gat memiliki lafal seperti kata ‘beruntung’ dalam Bahasa Kanton.
Demikian pula dalam Bahasa Mandarin, kumquat disebut Jinju shu (金桔树; jīnjú shù). Kata ‘jin’ (金) berarti ‘emas’. Sementara kata ‘ju’ memiliki pelafalan yang mirip seperti kata ‘beruntung’ (吉; jí).
Oleh sebab itu, keberadaan pohon kumquat di dalam rumah melambangkan harapan akan kekayaan dan keberuntungan. Pohon kumquat merupakan tanaman yang sangat populer dipajang selama festival tahun baru, terutama di Tiongkok selatan yang berbahasa kanton, seperti Hong Kong, Makau, Guangdong dan Guangxi.

7. Bunga yang Mekar – Harapan akan Tahun yang Sejahtera
Tahun Baru Imlek disebut juga dengan Festival Musim Semi, menandakan dimulainya periode musim semi. Menghias rumah dengan bunga yang bermekaran sangatlah umum, sebagai lambang tibanya musim semi dan harapan akan tahun baru yang lebih sejahtera.
Menurut tradisi, tanaman yang populer digunakan selama periode ini adalah : bunga prem yang berkembang, anggrek, peoni dan persik. Di Hong Kong dan Makau sendiri, tanaman dan bunga sangatlah populer digunakan sebagai dekorasi tahun baru Imlek.
Sementara di Indonesia, pohon sakura atau pohon Meihua (美花) yang lebih dikenal dengan sebutan pohon Imlek yang berwarna merah muda, sangat populer di masyarakat Tionghoa.
Pohon ini biasa dihias dengan aneka gantungan ornamen khas Imlek, seperti lambang shio2, ornamen ikan, dan kertas angpau (sering juga disebut pohon angpau)
READ MORE - Inilah 7 Dekorasi Untuk Tahun Baru Imlek

KISAH DAN ASAL USUL QING SHUI ZHU SHI bagian 1 dari 3 Tulisan

https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/16473432_1356679061070284_242843345518001321_n.jpg?oh=017197d525652f4d78b68d10439e665b&oe=594785E6
KISAH DAN ASAL USUL QING SHUI ZHU SHI bagian 1 dari 3 Tulisan
Dalam rangka hari Shejit Qing Shui Zhu Shi ( 清水祖師 / Tjo Su Kong) Cia Gwee Ce Lak (Tgl 6 Bln 1 Imlek). Qing Shui Zhu Shi {Hok Kian = Ching Cui Co Su} adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Quan Zhou {Hok Kian = Coan Ciu}. Panggilan akrab beliau adalah 祖師公 Zu Shi Gong {Hok Kian = Co Su Kong}.

Terdapat pula berbagai sebutan kehormatan untuknya, seperti : Qing Shui Yan Zu Shi (Guru Besar dari cadas air jernih), 昭應祖師 Zhao Ying Zu Shi (Guru Besar Zhao Ying), San Dai Zu Shi (leluhur dari 3 keturunan), Luo Bi Zu Shi (Dewa yang hidungnya terlepas), Hei Mian Zu Shi (leluhur yang berwajah hitam).
Co Su Kong adalah seorang Bikkhu yang bernama Chen Zhao Ying {Hok Kian = Tan Ciao Eng}. Beliau lahir di propinsi Fu Jian {Hok Kian}, kabupaten Qing Xi, pegunungan Feng Chai Shan pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song [960-1279 M], masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat.Chen Zhao Ying sejak usia kanak-kanak telah meninggalkan hidup keduniawian, berguru kepada Acharya San Bing Sian Su, yang kemudian menamainya kembali dengan Pu Zu {Pho Ciok}. Chen Zhao Ying mahir dalam pengobatan & mendatangkan hujan bagi penduduk di sekitar An Xi {An Hui} & Xia Men { E Meng}.

Beliau sering membantu penduduk yang miskin dalam hal pengobatan dan menolong orang-orang membangun jembatan. Di dekat gua tempat beliau bertapa terdapat sumber air yang jernih, yang bernama Qing Shui Yan {Ching Cui Giam} yang berarti Cadas Air Bersih. Dengan air jernih & meditasi di gua ini Chen Zhao Ying mengobati orang-orang yang meminta pertolongannya. Karena itu beliau mendapat sebutan 清水巗祖師
Qing Shui Yan Zu Shi {Qing Shui Zu Shi} yang berarti Guru Besar dari Cadas Air Jernih. Qing Shui Zu Shi sering ditampilkan dengan wajah berbeda-beda, kadang berwarna hitam, kuning atau merah. Wajah yang hitam melambangkan kemenangan atas roh-roh jahat yang mengganggunya pada saat bermeditasi di Qing Shui Yan. 


Ada pula ahli sejarah yang berpendapat bahwa perbedaan warna muka disebabkan karena asal daerah pemujaan yang berbeda-beda. Arca Qing Shui Zu Shi ditampilkan sebagai seorang Bikkhu yang yang duduk bersila dengan memakai topi 5 warna Buddhis, dengan memakai jubah {Jia Sha} berwarna merah. Konon pada saat marah, hidungnya dapat terlepas, tapi setelah berdoa, batang hidung itu dapat ditemukan kembali dalam lengan jubahnya. Hidung itu lalu ditempelkan kembali pada tempat semula. Karena hal ini, Qing Shui Zu Shi disebut juga 落鼻祖師 Luo Bi Zu Shi, yang berarti Dewa yang Hidungnya Terlepas. Co Su Kong wafat pada saat bersemedi tanggal 6 bulan 6 Imlek, tahun 1143 M, pada masa pemerintahan Kaisar Wei Zhong dari Dinasti Song tahun ke sembilan.

Kelenteng Qing Shui Zu Shi banyak terdapat di propinsi Fu Jian {Hok Kian}. Di Taiwan & negara Asia lainnya, kelenteng Qing Shui Zu Shi didirikan oleh kelompok imigran dari 廈門 Xia Men { E Meng}. Karena para imigran dari Xia Men ini banyak terdapat pula di Indonesia, maka kelenteng yang memuja Qing Shui Zu Shi juga ada, antara lain : Kelenteng 金德院 Kim Tek Ie, Jakarta; Kelenteng Da Jue Si {Tai Kak Si}, Jl. Gg Lombok, Semarang; & Kelenteng Tanjung Kait, Tangerang.
READ MORE - KISAH DAN ASAL USUL QING SHUI ZHU SHI bagian 1 dari 3 Tulisan

Riwayat Dipankara Buddha / Ran Deng Fo / 燃燈佛 / མར་མེ་མཛད།

Foto Cetya Tathagata Jakarta.
HUT dari Dipankara Buddha pada esok hari Kamis, 02 Februari 2017 (Lunar tanggal 06 bulan 01), 

Riwayat Dipankara Buddha / Ran Deng Fo / 燃燈佛 / མར་མེ་མཛད།
Dipankara dalam bahasa sansekerta mempunyai makna "Burning Lamp" / "Lamp Bearer" yang mempunyai arti "Pelita Yang Menyala" / "Pembawa Pelita" Oleh karena itu Buddha Dipankara mempunyai makna "Buddha Pembawa Pelita" / "Buddha Pelita Yang Menyala".
Menurut legenda, Buddha Dipankara terlahir pada malam hari. Pada saat Beliau lahir, tubuh-Nya memancarkan sinar yang menerangi seisi ruangan menyebabkan satu ruangan penuh dengan cahaya yang terang benderang. Oleh karena itu, kedua orang tuanya menamakan-Nya Dipankara.

Pada kelahiran sebelumnya, Buddha Shakyamuni adalah pengikut yang sangat taat dari Buddha Dipankara. Dahulu, Shakyamuni Buddha pernah mempersembahkan setangkai bunga teratai yang mempunyai 5 kelopak kepada Buddha Dipankara. Menurut Sutra Sadharmapundarika, bunga teratai adalah suatu bunga yang sangat suci dalam ajaran Buddha dan merupakan simbol dari kemurnian dan keindahan dari ajaran Buddha. Lalu, bunga teratai dengan 5 helai kelopak adalah sesuatu yang sangat jarang ditemukan / dilihat dimana mana, merupakan bunga yang sangat langka. Buddha Dipankara demikian senangnya atas persembahan tersebut dan lalu bernubuat bahwa seorang Shakyamuni akan mencapai pencerahan sempurna setelah 91 kalpa dan akan menanggung nama Shakyamuni.

Buddha Dipankara diperhitungkan sebagai guru bagi Buddha Shakyamuni di dalam garis suksesi Shakyamuni mencapai pencerahan sempurna sebagai Buddha dan juga disebut sebagai "Buddha Masa Lampau". Ada banyak sekali kuil / vihara yang menahbiskan atau memberi penghormatan kepada "Para Buddha Dari Tiga Masa" yang diabadikan sebagai Dipankara Buddha (di sisi kiri), Shakyamuni Buddha (di tengah) dan Maitreya Buddha (di sisi kanan). Mereka disebut "Para Buddha Dari Tiga Masa" yang me-representasikan "Tiga Masa" yaitu "Masa Lampau, Masa Kini dan Masa Depan".

Dipankara Buddha secara umum digambarkan sebagai sosok Buddha yang sedang duduk, namun penggambarannya sebagai sosok Buddha yang sedang berdiri umum di Tiongkok, Thailand, dan Nepal. Dengan tangan kanan-Nya yang secara umum membentuk "Mudra Perlindungan" / "Abhaya Mudra" dan seringkali membentuknya dengan kedua tangan-Nya.
READ MORE - Riwayat Dipankara Buddha / Ran Deng Fo / 燃燈佛 / མར་མེ་མཛད།

POJOK TRADISI IMLEK, Bagian 10 dari 12 Artikel

 
POJOK TRADISI IMLEK, Bagian 10 dari 12 Artikel
RADISI MENERIMA DEWA KEKAYAAN DAN MEMBUANG KEMISKINAN (SENDING-OFF POVERTY) bagian 2 dari 2 tulisan
Hari Buang Kemiskinan (Bln 12 tgl 10, atau Imlek Bln 1 tgl 5), tatacara menyiapkan sepasang celana lama, dompet kecil lama, 7 koin, 7 macam kembang, pergi menghadap ke utara), khususnya bagi yg usia berjumlah 7, atau yg kemalangan atau yg selalu dirundung masalah finansial, kesehatan.
Prosedure Tatacara Membuang Kemiskinan adalah:
1. Kembang 7 rupa ditaruh dikantung plastik
2. Kantung plastik dibuat lobang-lobang kecil dan diikatkan kedalam shower agar bisa mengalir
3. Setelah digunakan kembang 7 rupa itu ditambahkan dengan 7 macam koin logam (besaran apa saja)
4. Lalu digabungkan dalam lipatan kain celana lama kita
5. Setelah dilipat kedalam celana, kita pergi ke perempatan yang ada diutara tempat kita tinggal
6. Letakkan celana panjang lama kita (bisa dimasukkan dalam kantong plastik), dan diletakkan di sungai, laut atau di perempatan jalan
7. Setelah diletakkan ditempat itu, pergilah dari tempat itu tanpa menoleh kebelakang

Catatan: sekarang celana lama kita bisa juga diberikan kepada orang yang membutuhkan dan diberikan kertas angpao kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan. Namun sisa logam dan kembang 7 rupa harus dibuang diperempatan / sungai / laut. Bisa juga berupa 1 setelah pakaian dan celana lama yang tidak kita gunakan.
8. Setelah menjalan ritual tersebut tanpa menoleh kebelakang, kita harus ditutup dengan melewati 3 jembatan, artinya telah melewati segala masalah / kemalangan, dan berubah menjadi keberuntungan, sebelum Anda pulang kerumah Anda. Tradisi artinya Guo San Jiao arti kiasan Anda telah melewati 3 gelombang (masalah / perkara / kesulitan / penyakit).
9. Biasanya juga setelah melakukan ritual melepas kemalangan, Anda bisa memperkuat keberuntungan atau kemakmuran Anda tahun ini dengan melakukan sembahyang memohon rejeki atau membuka toko / tempat usaha kepada Dewa Rejeki / Kekayaan (Long De Chay Sen)
10. Biasanya tradisi melepas kemalangan dilakukan sebelum "membuka toko / usaha / kantor" setelah liburan Imlek, karena merupakan hari ke-5 dari Imlek yakni hari biasa pebisnis memulai usaha karena dianggap hari "BAIK", namun ada juga yang menyesuaikan dengan hari KALENDER HARI BAIK. Tapi bagi orang moderen saat ini hal ini biasanya susah jarang dipraktekkan karena kepraktisan dan juga masalah kebiasaan membuka toko tiap hari.
Konon cara ini efektif untuk melepaskan kemalangan berdasarkan Master Chang Jue dari Singapura. Bagi yang ingin mencoba tradisi dipersilhakan, dan bagi yang tidak melakukan juga tidak masalah. Karena tradisi ini sudah lama jarang dilakukan di Indonesia. Namun, tradisi memberikan pakaian baju lama, dan kembang 7 rupa yang setelah dilepaskan masih sering dipraktekkan dipedalaman Tiongkok untuk "membuang kemiskinan". Kiranya tradisi ini dapat diambil sikap dengan arif.
READ MORE - POJOK TRADISI IMLEK, Bagian 10 dari 12 Artikel

POJOK TRADISI IMLEK, Bagian ke 9 dari 12 Artikel

Foto Kisah Para Dewa dan Ajaran Tao.
POJOK TRADISI IMLEK, Bagian ke 9 dari 12 Artikel

TRADISI MENERIMA DEWA KEKAYAAN DAN MEMBUANG KEMISKINAN (SENDING-OFF POVERTY) bagian 1 dari 2 tulisan.
Banyak pebisnis menjalankan ritual menerima "Dewa Kekayaan Long De". Semua sesajian, kertas, dupa, hio dan lain-lain disiapkan pada pk 23:00 tgl 14 malam bulan 1 Imlek (Cia Gwee Cap Si) menjelang Cap Go Meh. Pada saat itu semua anggota keluarga akan menunggu hingga pergantian jam yang ditentukan untuk membakar batang dupa untuk menerima Dewa Kekayaan.
Dewa Kekayaan Long De selalu dipuja dan dihormati oleh pebisnis. Dia akan mengutus orang tangguh (gui ren) untuk membantu Anda, memberkati Anda sehingga Anda dapat mendatangkan keberuntungan, memberikan kemakmuran, dan melindungi usaha Anda. Hari lain nya merayakan Dewa Rejeki Long De adalah tanggal 15 bulan 8 Imlek atau lebih dikenal dengan Tiong Ciu Pia atau Festival Pertengahan Musim Gugur. Lebih manjur lagi jika tradisi "membuang kesmiskinan" dan "memperkuat harta benda" dilaksanakan pada saat menerima Dewa Kekayaan Long De.
READ MORE - POJOK TRADISI IMLEK, Bagian ke 9 dari 12 Artikel
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.