ASAL USUL DAN KISAH DEWA BUMI TU DI PO (土地婆 tǔ dì pó) bagian 3 dari 5 Tulisan



Pada kawasan pedesaan, ia seringkali digambarkan memiliki seorang istri, Tu Di Po (土地婆 tǔ dì pó, secara harafiah berarti Dewi Bumi), pada altar -berada disebelahnya. Ia dinilai sebagai seorang dewi yang setara dan penuh kebaikan seperti suaminya, atau sebagai seorang wanita tua yang menggerutu yang menunda doa suaminya, hal ini menjelaskan mengapa seseorang tidak selalu mendapatkan perlakuan adil atas kelakuan yang baik.[1]


Cerita lain menyampaikan bahwa Tu Di Po seharusnya adalah seorang wanita muda. Setelah Tu Di Gong menerima peringkat langit, ia memberikan segala sesuatu yang masyarakat minta. Ketika salah satu dari dewa turun ke Bumi untuk melakukan pemeriksaan, ia melihat bahwa "Tu Di Gong membagikan berkat tidak seperlunya. Segera setelah itu, dewa tersebut kembali ke Istana Langit dan menyampaikan kepada Kaisar.[1]

Setelah Kaisar mendengar berita tersebut, ia mengetahui bahwa ada seorang wanita yang akan dibunuh, tetapi wanita itu tidak bersalah. Oleh karena itu, Kaisar memerintahkan seorang dewa untuk turun ke Bumi dan membawa wanita tersebut ke langit. Ketika wanita itu dibawa ke langit, Kaisar menganugerahinya sebagai istri Tu Di Gong. Ia diperintahkan untuk memantau seberapa banyak berkat yang dibagikan oleh Tu Di Gong dan berkat tersebut tidak seharunya dibagikan secara sia-sia. Hal inilah yang menyebabkan banyak penganut tidak ingin menyampaikan doa kepada Tu Di Po karena takut jika Tu Di Po tidak memperbolehkan Tu Di Gong memberikan berkat kemakmuran yang banyak kepada mereka.[1]
READ MORE - ASAL USUL DAN KISAH DEWA BUMI TU DI PO (土地婆 tǔ dì pó) bagian 3 dari 5 Tulisan

Perbedaan Hok Tek Cin Sin dan Tho Tek Kong (Tu Ti Gong) bagian 2 dari 5 Tulisan



Di propinsi Hok Kian, RRC; Taiwan & negara-negara di kawasan Asia Tenggara biasanya Dewa Bumi disebut sebagai Hok Tek Cin Sin. Di Tiongkok bagian Utara disebut Tu Di Ye. Di Tiongkok bagian Selatan disebut Tu Di Gong {Tho Tek Kong}. Selain itu orang-orang biasanya membedakan Hok Tek Cin Sin & Tho Tek Kong dengan cara perletakannya.
Jika dipuja di atas altar lengkap dengan Bun Bu Phoa Kwa (Pengawal Sipil dan Militer) dan Hou shen, tanggan memegang tongkat naga / ru yi disebut Fu De Zheng Shen, dan memiliki wilayah kekuasaan yang lebih luas bukan hanya setempat/lokal saja.


Tu Ti Gong dan Tu Ti Bo
Sedangkan bila dipuja di bawah meja altar (= di atas tanah) tanpa pengawal, biasanya tangan memegang tongkat kayu disebut Tu Di Gong, kadang kala disertai istrinya Tu Di Po. Area kekuasaannya setempat saja.

Tu Ti Bo
Di semua tempat, Hok Tek Cin Sin ditampilkan dalam bentuk yang hampir sama, yaitu seorang tua, berambut dan berjenggot putih, dengan wajah yang tersenyum ramah. Biasanya Hok Tek Cin Sin tampak menggenggam sebongkah uang emas dan ru yi atau tongkat naga di tangan.
Seperti juga 城隍爺 Seng Hong Ya, Hok Tek Cin Sin mempunyai masa jabatan yang terbatas. Jabatan Hok Tek Cin Sin biasanya diduduki oleh orang-orang yang selama hidupnya banyak berbuat kebaikan dan berjasa bagi masyarakat. Setelah meninggal tokoh pujaan rakyat itu lalu diangkat sebagai Hok Tek Cin Sin . Oleh karena itu tiap tempat mempunyai Hok Tek Cin Sin tersendiri.

Hok Tek Cin Sin (Cai Shen)
(Saat ini untuk arca sudah sangat sukar dibedakan antara Hok Tek Cin Sin dan To Ti Kong, karena banyak variasi bentuk yang beredar. Tinggal dilihat dari letak penempatannya saja.)

READ MORE - Perbedaan Hok Tek Cin Sin dan Tho Tek Kong (Tu Ti Gong) bagian 2 dari 5 Tulisan

Empat Maharaja Langit (Dong Fang Che Guo Tian Wang / Dhatarastra) - Bagian 5 (Akhir)



Mo Li Shou (Mo Le Siu) bergelar Che Guo Tian Wang (Raja Langit Pendukung Negara), mempunyai 2 batang cambuk sakti & sebuah kantong dari kulit macan tutul, yang selalu digantungkan di pinggangnya. Dalam kantong ini terdapat seekor mahluk sebesar tikus yang disebut Hua Hu Diao. Jika dikeluarkan dari kantongnya Hua Hu Diao ini dapat berubah menjadi mahluk raksasa yang mirip dengan gajah putih yang bersayap, & melahap siapa saja yang ditemuinya.


Seringkali Mo Li Shou dilukiskan juga dengan membawa ular atau mahluk ajaib lain yang siap melaksanakan perintahnya, & gemar menelan manusia.



Foto Cetya Tathagata Jakarta.

READ MORE - Empat Maharaja Langit (Dong Fang Che Guo Tian Wang / Dhatarastra) - Bagian 5 (Akhir)

Empat Maharaja Langit (Bei Fang Duo Wen Tian Wang / Dhanada) - Bagian 4



Mo Li Hai (Mo Le Hai) bergelar Duo Wen Tian Wang (Raja Langit Yang Amat Termashur), ia memakai senjata sejenis mandolin yang mempunyai 4 dawai.


Apabila dawai itu dipetik, sebuah kekuatan yang dahsyat akan muncul dan mempengaruhi bumi, air, api & angin. Kalau sebuah lagu dimainkan, kubu-kubu musuh akan tenggelam dalam lautan api.



     





READ MORE - Empat Maharaja Langit (Bei Fang Duo Wen Tian Wang / Dhanada) - Bagian 4

Empat Maharaja Langit (Xi Fang Guang Mu Tian Wang / Virupaksa) - Bagian 3



Mo Li Hong (Mo Le Hong) bergelar Guang Mu Tian Wang (Raja Langit Pelihat Jauh), mempunyai sebatang payung pusaka yang disebut Payung Pengacau Jagat.

Payung ini terbuat dari rangkaian mutiara-mutiara yang mahal. Apabila payung ini dibuka, seluruh jagat akan terselimuti kegelapan. Bila payung itu diputar, akan terjadi topan di laut & gempa di daratan.

     


READ MORE - Empat Maharaja Langit (Xi Fang Guang Mu Tian Wang / Virupaksa) - Bagian 3
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.