KISAH DAN ASAL USUL IBUNDA DEWI WU SHENG LAO MU (Tionghoa: 無生老母; Pinyin: Wúshēng Lǎomǔ; arti harafiah ""Ibu Terhormat yang tidak dilahirkan""), SHEJIT BLN 6 TGL 15 bagian 1 dari 2 Tulisan



WU SHENG LAO MU juga secara sederhana dikenal dengan nama Wujimu (无极母 "Ibu Abadi"), adalah sesosok Dewi dalam kepercayaan tradisional Tiongkok dan menjadi figur utama yang dipuja oleh beberapa sekte agama keselamatan Tiongkok.[1] Gelarnya yang lain adalah Yaochi Jinmu (Tionghoa: 瑶池金母; Pinyin: Yáochí Jīnmǔ; arti harafiah ""Ibu Emas dari Danau Giok""),[2] gelar yang juga diberikan kepada Xiwangmu.


Pada tradisi sekte-sekte rakyat, Wusheng Laomu merupakan personifikasi simbol dari prinsip absolut realitas, dikenal melalui simbol-simbol yang lebih abstrak yaitu Zhenkong ("Kekosongan yang sebenarnya" atau "Void"), Wuji ("Abadi"), Zhen ("Kebenaran"), Gufo ("Pencapaian Kebuddhaan Purba"), atau Zu ("Patriarki"). Simbol-simbol yang abstrak disenangi oleh sekte awal seperti Luoisme, sementara personifikasi dalam wujud wanita lebih dipilih oleh tradisi-tradisi sekte yang selanjutnya, misalnya seperti pada Xiantiandao.

Simbol-simbol ini umumnya dikombinasikan dalam buku-buku tradisi sekte untuk mengekspresikan prinsip absolut impersonal (misalnya sebagai Wuji Zhenkong, "Kekosongan sebenarnya yang tanpa batas") atau representasi personal (misalnya Wusheng Laomu, Wuji Shengzu ["Patriarki Suci Tanpa Batas"], atau Wuji Gufo ["Pencapaian Kebudhaan Purba yang Tanpa Batas"]). Asal mula semua makluk juga secara tradisional direpresentasikan sebagai asterisma bintang biduk.[3]

Simbol-simbol lain

Simbol-simbol atau nama-nama lain dari matriks ini adalah Hunyuan Laozu, Wuji Laozu, atau Buddha Purba Tinzhen Gufo. Pada tradisi sekte-sekte yang paling awal, perwujudan wanita dianggap sebagai pasangan dari perwujudan pria, sebagaimana yin dan yang.
READ MORE - KISAH DAN ASAL USUL IBUNDA DEWI WU SHENG LAO MU (Tionghoa: 無生老母; Pinyin: Wúshēng Lǎomǔ; arti harafiah ""Ibu Terhormat yang tidak dilahirkan""), SHEJIT BLN 6 TGL 15 bagian 1 dari 2 Tulisan

KISAH DEWA PELINDUNG KELENTENG DEWA WANG LING GUAN (王靈官) / WANG YUANG SHUAI (王元帥 / ONG GOAN SWEE), alias ONG LENG KWAN (王靈官 / Wang Ling Guan),



Shejit Bln 6, tgl 15 Imlek / 聖誕 六月十五日), 18 Juli 2016

DEWA Wang Yuan Shuai (王元帥) / Wang Ling Guan (王靈官) adalah dewa pelindung kelenteng Taoism,di depan pintu kelenteng Taoism biasanya terdapat patung/kimsin dewa seorang prajurit sangar,berbaju besi lengkap, wajah merah, dengan raut yang tidak bersahabat /bengis, dewa tersebut tidak lain adalah dewa Wang Ling Guan.


Sebelumnya Wang Ling Guan adalah roh yang sangat kuat dan tidak mempunyai nama.

Di Desa Xiangyin, masyarakat setempat membangun sebuah kuil untuk menghormatinya, dan penduduk mengorbankan anak-anak didepan altar kepada roh jahat yang tidak bernama tersebut, suatu hari SA SHAO JIAN 萨守坚 (seorang pendeta/dewa Taoism,guru Taoism) sewaktu menyebarkan ajaran Taoism melihat darah dan pembantaian di kuil tersebut, kemudian SA SHAO JIAN 薩守堅 membakar kelenteng tersebut rata dengan tanah,

Roh tidak bernama tersebut marah dan membawa kasus tersebut ke langit sebagai pihak berwenang, kemudian pihak langit mengatakan jika roh tidak bernama bisa menemukan beberapa kesalahan yang diperbuat SA SHAO JIAN 薩守堅, maka pihak langit akan menghukum dia tanpa pandang bulu karena telah menghancurkan kuil roh tanpa nama, dia kemudian diam-diam mengikuti SA SHAOU JIAN 薩守堅 selama 12 tahun untuk menemukan kesalahan yang diperbuat SA SHAOU JIAN 薩守堅 , tapi sekalipun dia tidak menemukan kesalahan yang diperbuat oleh SA SHAOU JIAN, roh tanpa nama tersebut tersentuh dengan kesucian,dan kebaikkan yang dilakukan SA SHAOU JIAN 薩守堅 SERTA mengagumi kehebatan SA SHAOU JIAN dan kemudian roh tanpa nama dengan suka rela membuang sifat-sifat jahat dan berusaha menjadi murid SA SHAOU JIAN 萨守坚 ,

Sewaktu SA SHOU JIAN ingin mencuci tangan di laut roh tanpa nama kemudian muncul dan lalu berkata: aku adalah titisan jendral langit yang menjelma ke dunia,tanpa alasan yang jelas kelentengku dibakar oleh anda,kemudian aku melapor ke langit, tapi langit memintaku untuk menemukan kesalahan yang diperbuat oleh anda,maka selama 12 tahun aku diam-diam mengikuti anda untuk menemukan kesalahan yang anda perbuat,tapi aku tidak menemukan sedikitpun kesalahan yang pernah anda perbuat,selama anda menyebarkan ajaran TAOISM,

Kemudian roh tanpa nama tersebut diterima dan dikasih jabatan sebagai pelindung kuil Tao,dimana bentuk dia dengan bermata 3,berbaju besi dengan cemeti nya,wajahnya yang merah dengan raut yang sangar/ bengis adalah sisa-sisa wajah dia dulu yang jahat,
Sa Shaou Jian 薩守堅 kemudian memberikan dia nama WANG 王,dan memasukkannya kedalam sebagai pelindungan kuil Taois,pihak langit kemudian,mencatat pertobatan dan kebaikkannya lalu memberi dia nama sebagai WANG LING GUAN 王靈官 (Wang si roh pelindung) #
READ MORE - KISAH DEWA PELINDUNG KELENTENG DEWA WANG LING GUAN (王靈官) / WANG YUANG SHUAI (王元帥 / ONG GOAN SWEE), alias ONG LENG KWAN (王靈官 / Wang Ling Guan),

ARTI dan MAKNA Sembahyang Ce It(初一) dan Cap Go (十五)



Bagi sebagian orang Tionghoa, sembahyang kepada Thian atau Tuhan Yang Maha Esa dapat dilakukan setiap hari di rumah masing-masing; yakni pada pagi hari saat akan memulai aktivitas dan pada malam hari. Tetapi ada waktu-waktu sembahyang khusus yang dilakukan di Klenteng atau tempat ibadah lainnya (Dao Guan, Wihara atau Li Thang), yakni setiap Ce It dan Cap Go (tanggal 01 dan 15 penanggalan Imlek). Seperti apa sembahyang Ce It (初一) dan Cap Go (十五) ini? Berikut ulasan singkatnya.


1. Apa itu sembahyang Ce It dan Cap Go ?

Sembahyang CeIt dan Cap Go adalah sembahyang yang dilakukan kepada Thian atau Tuhan Yang Maha Esa; kepada Dewa- Dewi (sin beng) kepercayaan Tionghoa; dan kepada leluhur atau keluarga yang telah meninggal.

2. Siapa yang melakukan sembahyang Ce It dan Cap Go ?

Di Indonesia sendiri, sembahyang Ce It dan Cap Go dilakukan oleh setiap masyarakat keturunan Tionghoa yang menganut agama leluhur (Tao, Kong Hu Cu, dan Buddha? (saran masukan)); dan hal ini juga dilakukan oleh masyarakat yang menganut agama-agama diatas yang berada di berbagai belahan dunia.

3. Kapan sembahyang Ce It dan Cap Go dilaksanakan ?

Sembahyang Ce It dan Cap Go dilakukan setiap tanggal 01 dan tanggal 15 kalender Imlek. Kalender Imlek berasal dari kata Mandarin “YIN LI” [阴历] yang berarti penanggalan kalender berdasarkan pergerakan bulan, karena tanggal 1 adalah bulan baru dan tanggal 15 pasti merupakan bulan purnama.

4. Dimana sembahyang Ce it dan Cap Go dilakukan ?

Sembahyang Ce It – Cap Go dapat dilakukan pada siang atau malam hari di rumah masing-masing umat; juga dapat pergi bersembahyang di kelenteng-kelenteng atau Tao Kwan.

5. Mengapa harus sembahyang Ce It dan Cap Go ?

Banyak alasan umat dalam melakukan sembahyang. Utamanya adalah seperti memohon kekayaan, kedudukan, kesehatan, umur panjang dan keturunan; Juga untuk bersosialisasi atau berkumpul bersama dengan umat lainnya jika melakukan sembahyang ke klenteng-klenteng. Bagi umat Kong Hu Cu, pada hari sembahyang Ce It dan Cap Go dilakukan sembahyang terhadap leluhur/orang tua sebagai tanda wujud bakti.

6. Bagaimana tata cara sembahyang Ce It dan Cap Go ?

Jika sembahyang dilakukan di kelenteng-kelenteng biasanya sembahyang dengan 1 atau 3 batang dupa di setiap arca/patung Dewa/i dan kepada Thian/langit. Jika sembahyang dilakukan di rumah yang memiliki altar, ini tergantung adat kebiasaan masing-masing. Yang utamanya (simple nya) adalah menyediakan 5 macam buah-buahan beserta permen/manisan dan 5 cangkir teh. Kadang ada juga yang menambahkan kue ku, kue lapis, kue mangkok, atau kue-kue lainnya tergantung kebiasaan masing-masing.








READ MORE - ARTI dan MAKNA Sembahyang Ce It(初一) dan Cap Go (十五)

Kisah Meminjam Anak Panah (Zhu Ge Liang)


Pada abad ketiga Masehi, Tiongkok terbagi menjadi tiga negara (San Guo atau Samkok) yang selalu dirundung peperangan, yakni negara Wei di sebelah Utara, negara Shu di sebelah Barat Daya, dan negara Wu di sebelah Selatan.

Pada suatu waktu, negara Wei mengerahkan tentaranya untuk melakukan serangan ke negara Wu di sungai Yangtze. Pasukan Wei segera maju ke daerah yang lokasinya sangat berdekatan dengan negara Wu, kemudian mereka berhenti disana, mendirikan perkemahan dan menunggu kesempatan yang tepat untuk melakukan serangan ke negara Wu. Jika mereka memperoleh kemenangan, rencana selanjutnya adalah menaklukkan negara Shu.

Semenjak tentara negara Wei menjadi sangat kuat dengan memiliki tentara dan senjata dalam jumlah besar, negara Shu dan Wu memutuskan untuk bersatu guna menahan serangan dari negara Wei. Zhuge Liang, penasihat kemiliteran untuk negara Shu, menuju ke negara Wu untuk menyusun strategi militer bersama dengan Zhou Yu, Jenderal negara Wu, untuk bersatu berperang melawan musuh.

Bagaimanapun juga, Zhou Yu sangat cemburu pada ketrampilan Zhuge Liang. Ketika Zhou dan Zhuge sedang mendiskusikan tentang rencana strategi, Zhou bertanya, “Senjata militer apakah yang akan kita gunakan ketika ber-tempur melawan pasukan Cao Cao di sungai?” Zhuge menjawab, “Busur dan anak panah adalah senjata yang terbaik.”

Zhou berkata, “Baiklah, saya akan mempertimbangkan pendapat Anda, tetapi kita hanya memiliki sedikit persediaan anak panah. Apakah saya dapat mempercayai Anda untuk membuat seratus ribu buah anak panah? Ini adalah pekerjaan yang benar-benar mendesak. Saya berharap Anda dapat membantu saya dan menerima pekerjaan ini.”

Zhuge menjawab, “Baiklah, saya akan menerima perintah Anda dan melakukannya. Bolehkah saya bertanya kapankah Anda membutuhkan anak-anak panah tersebut?” Zhou mengatakan, “Dapatkah Anda menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam sepuluh hari?” Zhuge berkata, “Baiklah, karena pertempuran akan berlangsung sebentar lagi, kita akan mengalami kekalahan apabila kita memerlukan 10 hari untuk membuat anak-anak panah tersebut.” Zhou Yu kemudian bertanya, “Tuan, berapa lamakah waktu yang Anda butuhkan untuk membuat 100.000 anak panah?” Zhuge kemudian menjawab, “Saya hanya membutuhkan waktu tiga hari.”

Zhou sangat tercengang dan mengatakan, “Kita berada tepat pada arah jam sebelas dan tidak boleh mempermainkan satu sama lain.” Zhuge menjawab, “Tidak, saya tidak berani bergurau pada saat kritis seperti ini. Saya bersedia menulis sebuah surat perjanjian: Jika saya tidak mampu membuat 100.000 buah anak panah dalam tiga hari, maka saya bersedia untuk dihukum.”

Zhou sangat bahagia mendengarnya. Dia membuat Zhuge menulis surat perjanjian dan kemudian menghiburnya dengan minuman anggur serta makanan enak. Di meja perjamuan, Zhuge berkata, “Sekarang hari sudah larut malam, oleh sebab tiga hari terhitung mulai besok, kerahkan 500 orang tentara menuju pinggir sungai untuk mengumpulkan anak panah.” Setelah meneguk sedikit cangkir minuman anggur lagi, Zhuge Liang kemudian beranjak pergi.

Sesudah Zhuge Liang menerima tugas tersebut, Dia tidak kelihatan cemas tentang bagaimana cara memenuhi perintah tersebut. Dia mengatakan kepada Lu Su, seorang menteri dari negara Wu yang memiliki sikap bersahabat terhadapnya, bahwa sangatlah mustahil membuat begitu banyak anak panah dalam waktu singkat seperti itu dengan memakai cara yang konvensional (biasa). Maka Zhuge kemudian meminta Lu Su membuatkan 20 buah kapal kecil yang telah siap dan menempatkan 30 orang tentara pada masing-masing kapal tersebut.

Kapal-kapal tersebut ditutupi kain hitam dan dibuatkan orang-orangan dari jerami lalu diletakkannya di setiap sisi kapal. Zhuge kemudian memohon Lu berulang kali agar menyimpan rencana rahasianya. Lu menyiapkan segala hal keperluan yang dibutuhkan Zhuge tanpa mengetahui apa-apa tentang rencana tersebut.

Zhuge Liang mengatakan bahwa dia akan memiliki 100.000 buah anak panah yang akan siap dalam tiga hari, akan tetapi pada hari pertama dia tidak akan membuat anak panah satu pun dan begitu pula pada hari kedua tidak ada satu anak panah apapun. Tepat di hari ketiga dan masih belum ada satu anak panahpun terlihat.

Semua orang mulai khawatir terhadap Zhuge. Jika dia tidak dapat menghasilkan anak-anak panah tersebut, dia akan kehilangan hidupnya. Pada tengah malam di hari kedua, Zhuge mempersilakan Lu naik ke kapal kecil dan kemudian Lu bertanya mengapa dia diundang naik ke atas kapal tersebut.

Zhuge menjawab bahwa dia ingin Lu pergi bersamanya untuk mengumpulkan anak panah. Lu Su seketika menjadi bingung dan bertanya, “Kemana kita akan pergi untuk mendapatnya?” Zhuge kemudian tersenyum dan berkata, “Ketika waktunya tiba, Anda akan mengerti.” Kemudian Zhuge memberikan perintah untuk menghubungkan dua puluh kapal tersebut dengan tali kemudian mulai bergerak maju ke arah kamp tentara Wei.

Malam itu berkabut tebal. Kabut kian menjadi lebih tebal, semakin cepat kapal-kapal tersebut mendekati perairan, seperti apa yang diperintahkan oleh Zhuge Liang. Ketika mereka telah mendekati kamp tentara Wei, Zhuge memberikan perintah agar kapal-kapal tersebut ditempatkan berbaris berhadapan searah horizontal di sepanjang tepi sungai. Tentaranya memukul keras genderang dan berteriak memberi aba-aba.

Lu Su sangat ketakutan setengah mati dan berkata kepada Zhuge, “Kita hanya me-miliki 20 kapal kecil dan sekitar 300 orang tentara. Jika tentara Wei menyerang kita, kita sudah pasti dapat terbunuh.” Tapi Zhuge berkata sambil tersenyum, “Saya bertaruh kalau pasukan tentara Wei tidak akan berani menyerang dengan cuaca berkabut tebal seperti ini. Kita dapat menikmati minuman kita di sini.

Jenderal pasukan Wei, Cao Cao, mendengar suara drum dan sorak-sorai dan memerintahkan pasukan tentaranya agar tidak menyerang karena kondisi kabut yang terlalu tebal membuat kesulitan melihat situasi. Dia malah memerintahkan pasukan pemanahnya agar menembakkan anak panah guna mencegah kedatangan musuh yang terlalu dekat.

Cao Cao memerintahkan lebih dari 10.000 pasukan pemanah untuk menembakkan anak panah ke arah sungai. Dengan segera, orang-orangan jerami di atas kapal dipenuhi dengan anak panah. Zhuge Liang menyuruh kapal untuk berputar balik agar orang-orangan jerami pada sisi kapal yang lain mendapat anak panah dari tentara Wei. Dalam waktu singkat semua orang-orangan jerami tersebut terisi oleh anak panah.

Di saat hari mulai menjelang dinihari, kabut masih terlihat tebal. Zhuge Liang menyuruh pasukan tentaranya berteriak dengan suara sekeras mungkin, “Terima kasih Perdana Menteri Cao karena Anda telah memberi kami begitu banyak anak panah.” Mereka dengan segera berlayar kembali ke pinggir selatan sungai. Sebelum Cao Cao sadar bahwa dia telah diperdaya, arus mendorong kapal Zhuge dan dengan segera mereka telah berlayar pergi lebih dari 10 kilometer, dan sudah terlalu terlambat bagi Cao Cao untuk mengejar mereka.

Ketika kapal tiba di pangkalan Wu, ada 500 tentara Jenderal Zhou Yu menunggu di atas pinggir sungai guna mengumpulkan anak-anak panah tersebut. Jumlah anak panah yang terkumpul berjumlah lebih dari 100.000. Zhou Yu mengatakan dengan desah panjang dan berat, “Zhuge Liang mempunyai pemikiran ke masa depan dan strategi cerdik seperti seorang dewa. Saya bukanlah tandingan baginya.
Lu Su berkata kepada Zhuge Liang, “Tuan, Anda adalah seorang ahli spiritual, bukan seorang manusia! Bagaimana Anda dapat mengetahui bahwa akan ada kabut tebal?”

Zhuge menjawab, “Sebagai seorang jenderal, sudah semestinya mengetahui tentang ilmu astronomi, geografi, ramalan, prinsip yin dan yang, formasi dalam pertempuran, begitu juga susunan strategi tentara, atau di lain hal dia baik tanpa pamrih. Saya tahu tiga hari ke depan bahwa akan ada kabut tebal sehingga itulah alasan mengapa saya berani menyetujui batas waktu tiga hari.” Mendengar ini, Lu Su semakin mengagumi bakat Zhuge Liang.

READ MORE - Kisah Meminjam Anak Panah (Zhu Ge Liang)

"MENGENAL LEBIH DEKAT SOSOK AVALOKITESVARA BODHISATTVA" bagian 1 dari 5 Tulisan


Avalokitesvara (Sanskerta: अवलोकितेश्वर , Bengali: অবলোকিতেশ্বর, arti. "Tuan yang melihat ke bawah", bahasa China: 觀世音) adalah Bodhisattva yang merupakan perwujudan sifat welas asih dari semua Buddha. Ia adalah Bodhisattva yang paling dimuliakan dalam tradisi Buddha Mahayana. Di China dan ranah yang dipengaruhi budaya China, Avalokitesvara seringkali digambarkan sebagai seorang Dewi yang dikenal sebagai Dewi Kwan Im. (Akan tetapi, dalam mitologi Tao, asal mula Kwan Im memiliki kisah yang berbeda dan tidak ada sangkut pautnya dengan Avalokitesvara.

Di India, Avalokitesvara juga dimuliakan dengan sebutan Padmapāni ("Pemegang bunga teratai"), Lokesvara ("Tuan di Dunia") atau Tara. Dalam Bahasa Tibet, Avalokitesvara dikenal sebagai Chenrezig, སྤྱན་རས་གཟིགས་ (Wylie: spyan ras gzigs), dan dipercaya sebagai reinkarnasi Dalai Lama, Karmapa dan para Lhama terkemuka lainnya. Di Mongolia, ia dikenal sebagai Megjid Janraisig, Xongsim Bodisadv-a, atau Nidüber Üjegči. Dalam bahasa Jepang, Kwan Im disebut Kannon' (観音) atau secara resmi Kanzeon (観世音). Dalam bahasa Korea disebut Gwan-eum atau Gwanse-eum, dan dalam bahasa Vietnam Quán Âm atau Quan Thế Âm Bồ Tát.

Avalokitesvara sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki di India, begitu pula pada masa menjelang dan selama Dinasti Tang (tahun 618-907). Namun pada awal Dinasti Song (960-1279), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian digambarkan dalam para seniman. Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368). Sejak masa Dinasti Ming, atau berkisar pada abad ke 15, Kwan Im secara menyeluruh dikenal sebagai wanita.

Kwan Im pertama diperkenalkan ke China pada abad pertama SM, bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Pada abad ke-7, Kwan Im mulai dikenal di Korea dan Jepang karena pengaruh Dinasti Tang. Pada masa yang sama, Tibet juga mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama Chenrezig. Dalai Lama sering dianggap sebagai emanasi dari Avalokitesvara di dunia.

Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su atau Pek Ie Nio Nio dalam bahasa hokkien yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih ("Dewi Welas Asih"). Di kemudian hari, Dewi Kwan Im identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara. Pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sanskerta adalah:

"Avalokita" (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah (“Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (Sanskerta:lokita/loka).Kata "Isvara" (Im / Yin), berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami).

Kwan Im sebagai seorang Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon. Dalam perwujudannya sebagai pria, Kwan Im disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Saddharma Pundarika Sutra (Miau Fa Lien Hua Cing) disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisattva yang mempunyai kekuasaan besar.

Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Phu Tho San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan emanasi sebagai “Buddha vairocana”, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya. Perwujudan Kwan Im di altar utama Kim Tek Ie/Jing De Yuan, salah satu Klenteng tertua di jakarta Indonesia adalah King Cee Kwan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia). Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Kwan Im yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya.

Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita.

Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisattva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang). Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”, sebagai pengganti Avalokitesvara Bodhisattva pria.

Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisattva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisinya dengan sebutan Guan Yin Phu Sa. Dari pengaruh ajaran Kong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewa. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan.

Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung Phu Tho Shan di kepulauan Zhou Shan, China. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat.
READ MORE - "MENGENAL LEBIH DEKAT SOSOK AVALOKITESVARA BODHISATTVA" bagian 1 dari 5 Tulisan
 

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Mengky Mangarek, salah satu IT preneur, penggemar kisah para Buddha, Bodhisattva serta penulis buku dan komik Zen, juga pernah mengisi di beberapa radio talk, seminar dan penulis / admin dibeberapa blog seperti Kisah Para Dewa dan Cetya Tathagata yang telah memiliki lebih dari 20,000 pembaca setia.

tentang penulis

tentang penulis
Jacky Raharja adalah seorang entrepreneur kelahiran 10 February 1982 dan berdomisili di Jakarta. Mengawali karier profesional sebagai seorang Marketer pada sebuah Top Multinational Company yang bergerak di bidang FMCG pada tahun 2007. Mempunyai passion yang sangat tinggi dalam hal brand management & strategic dan meninggalkan dunia profesional pada tahun 2013 sebagai Brand Manager demi mengejar passion lainnya yaitu menjadi seorang Entrepreneur yang mempunyai jaringan bisnis sendiri. Bergabung dengan Cetya Tathagata Jakarta sebagai bagian dari committee sejak tahun 2005 dan sebagai salah satu kontributor atas artikel-artikel pada social media Cetya Tathagata Jakarta.

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.